Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 2787 tentang Kebaikan pada kuda hingga hari kiamat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ tentang keutamaan kuda, khususnya kuda yang disiapkan untuk berjihad di jalan Allah. Kebaikan itu "terikat" di ubun-ubun kuda hingga hari kiamat, artinya keutamaan dan keberkahan ini tidak akan hilang sampai akhir zaman. Ini menunjukkan bahwa jihad dengan berkuda (dan di zaman kita, kendaraan perang modern) adalah amalan yang agung dan akan terus ada.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda cantumkan):

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ، أَنْبَأَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ " الْخَيْلُ فِي نَوَاصِيهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ "

Makna: Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya pada ubun-ubun kuda itu terdapat kebaikan hingga hari kiamat."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat yang sama, Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma. Imam al-Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih-nya (Kitab al-Jihad, Bab al-Khail), dan Imam Muslim juga meriwayatkannya.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "kebaikan pada ubun-ubun kuda" adalah keberkahan, kemenangan, dan ghanimah (harta rampasan perang) yang Allah kaitkan dengan kuda yang digunakan untuk berjihad.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (syarah Shahih al-Bukhari) menukil perkataan para ulama bahwa kebaikan tersebut mencakup pahala akhirat bagi pemiliknya yang berniat ikhlas, dan juga manfaat duniawi berupa kemenangan dan harta rampasan.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan salaf dan khalaf bersepakat bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar kuda yang disiapkan untuk jihad fi sabilillah. Mari kita rinci:

  1. Makna "Kebaikan di Ubun-ubun Kuda":
  • Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa kebaikan yang dimaksud adalah kemenangan (al-ghalabah), keberkahan (al-barakah), dan ghanimah. Kuda adalah tunggangan perang yang membawa pemiliknya kepada kemuliaan di dunia dan pahala di akhirat.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah mengaitkan kebaikan dengan ubun-ubun kuda karena ubun-ubun adalah bagian depan yang menjadi penunjuk arah. Ini isyarat bahwa kebaikan itu akan senantiasa mengarahkan pemiliknya kepada kebaikan.
  1. Hingga Hari Kiamat:
  • Frasa "ila yaumil qiyamah" (hingga hari kiamat) menunjukkan bahwa hukum ini bersifat kekal dan tidak akan dihapus. Kuda (dan apa pun yang menggantikan fungsinya sebagai alat perang) akan tetap memiliki keutamaan ini selama masih ada jihad di muka bumi.
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa jihad akan terus berlangsung hingga hari kiamat, dan salah satu sarana utamanya adalah kuda. Ini juga menjadi dalil bahwa mempersiapkan kekuatan (termasuk kendaraan perang modern) adalah bagian dari syariat.
  1. Penerapan di Zaman Modern:
  • Para ulama kontemporer dari daftar rujukan, seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin, menjelaskan bahwa makna hadits ini mencakup semua alat perang yang digunakan untuk menegakkan kalimat Allah. Jika dahulu kuda, maka sekarang tank, pesawat, dan kendaraan militer lainnya memiliki keutamaan yang sama jika digunakan untuk membela agama Allah.
  1. Adab dan Niat:
  • Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa memelihara kuda dengan tujuan berjihad di jalan Allah dengan penuh keimanan dan mengharap pahala Allah, maka makanan, minuman, dan kotoran kudanya akan menjadi timbangan kebaikan baginya pada hari kiamat." (HR. al-Bukhari). Ini menunjukkan bahwa keutamaan ini hanya didapat jika niatnya ikhlas karena Allah.

Story Telling

Dahulu, Imam Abdullah bin al-Mubarak (salah satu ulama besar dari kalangan tabi'ut tabi'in) dikenal sebagai ulama yang sangat mencintai jihad. Beliau tidak hanya ahli hadits dan zuhud, tetapi juga seorang prajurit berkuda yang gagah berani.

Suatu ketika, beliau ditanya tentang amalan yang paling utama. Beliau menjawab dengan mengutip hadits-hadits tentang keutamaan jihad. Beliau sendiri sering membelanjakan hartanya untuk membeli kuda perang dan perlengkapan perang untuk disumbangkan di jalan Allah. Para ulama menyebutkan bahwa Ibnul Mubarak memiliki banyak kuda yang ia rawat dengan baik, dan ia selalu siap berjihad kapan pun dibutuhkan.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kecintaan kepada jihad dan persiapannya tidak menghalangi seseorang untuk menjadi ulama yang zuhud. Justru, keduanya saling melengkapi. Ibnul Mubarak membuktikan bahwa ilmu dan amal bisa bersatu dalam diri seorang mukmin.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini Keutamaan Jihad: Hadits ini menegaskan bahwa jihad fi sabilillah adalah amalan yang agung dan akan terus ada hingga hari kiamat.
  2. Persiapkan Kekuatan: Kita diperintahkan untuk mempersiapkan kekuatan semaksimal mungkin, baik fisik, mental, maupun teknologi, untuk membela agama Allah dan kaum muslimin.
  3. Perbaiki Niat: Keutamaan ini hanya akan diraih jika niat kita ikhlas karena Allah, bukan karena riya' atau tujuan duniawi semata.
  4. Amalkan Sesuai Kemampuan: Jika tidak mampu berperang secara langsung, kita bisa mendukung dengan harta, doa, atau ilmu yang bermanfaat bagi para pejuang.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?