Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 2785 tentang Pahala mujahid berkurang jika dapat rampasan perang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang berjihad di jalan Allah dengan niat yang benar akan mendapatkan pahala yang besar. Jika mereka mendapat harta rampasan perang (ghanimah) di dunia, maka dua pertiga pahala mereka telah disegerakan di dunia, dan sepertiga tersisa di akhirat. Namun jika mereka tidak mendapat ghanimah, maka pahala mereka akan disempurnakan penuh di akhirat. Intinya, niat dan keikhlasan dalam berjihad adalah yang paling menentukan, bukan hasil duniawi yang diperoleh.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — diriwayatkan oleh Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, dalam Sunan Ibnu Majah no. 2785, Kitab Jihad, Bab Niat dalam Perang:

Nabi ﷺ bersabda:

> مَا مِنْ غَازِيَةٍ تَغْزُو فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُصِيبُوا غَنِيمَةً إِلَّا تَعَجَّلُوا ثُلُثَيْ أَجْرِهِمْ فَإِنْ لَمْ يُصِيبُوا غَنِيمَةً تَمَّ لَهُمْ أَجْرُهُمْ

Terjemahan: "Tidak ada kelompok pejuang yang berperang di jalan Allah lalu memperoleh harta rampasan, kecuali mereka telah disegerakan dua pertiga pahala mereka. Jika mereka tidak memperoleh harta rampasan, maka pahala mereka disempurnakan."

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan — QS. Al-Anfal [8]: 60:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ

Terjemahan: "Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang, agar kamu dapat menakuti musuh Allah dan musuhmu..."

Ayat lain — QS. At-Taubah [9]: 120 (potongan):

فَلَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُم بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ

Terjemahan: "Maka tidaklah mereka ditimpa rasa haus, kepayahan, kelaparan di jalan Allah, dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan bagi mereka amal saleh..."

Kaitan dengan ulama: Imam Ibnu Majah meriwayatkan hadits ini dalam kitab Sunan-nya. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna hadits serupa. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya membahas tentang pahala mujahid. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat-ayat tentang keutamaan jihad.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menerangkan tentang keutamaan niat dan keikhlasan dalam berjihad. Para ulama menjelaskan bahwa pahala amal seorang mujahid di jalan Allah sangat besar. Ketika Allah memberikan kemenangan dan ghanimah (harta rampasan perang) di dunia, maka itu merupakan bagian dari balasan yang disegerakan — yaitu dua pertiga dari pahala mereka. Adapun sepertiga sisanya disimpan di akhirat.

Namun jika mereka berperang tanpa mendapatkan ghanimah — misalnya karena gugur di medan perang, atau tidak ada harta rampasan yang diperoleh — maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka secara penuh di akhirat tanpa dikurangi sedikit pun.

Pemahaman para ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan jihad dan bahwa pahala amal itu bisa "dipercepat" di dunia dalam bentuk ghanimah. Beliau juga menegaskan bahwa yang dimaksud "dua pertiga" adalah bagian pahala yang Allah berikan di dunia melalui ghanimah, sedangkan sepertiga tersisa menjadi simpanan di akhirat.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala memiliki dua bentuk balasan: balasan di dunia dan balasan di akhirat. Ghanimah adalah bagian dari balasan dunia yang Allah berikan kepada mujahidin, namun tidak mengurangi pahala akhirat kecuali sesuai kadar yang telah Allah tentukan.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung motivasi besar untuk berjihad dengan niat ikhlas, karena apapun hasilnya — baik mendapat ghanimah maupun tidak — seorang mujahid tetap mendapatkan pahala yang besar.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama menjelaskan bahwa "dua pertiga" di sini bersifat kiasan yang menunjukkan besarnya bagian pahala yang disegerakan di dunia. Sebagian lain memahaminya secara tekstual bahwa memang demikian pembagiannya. Namun intinya sama: ghanimah adalah bagian dari balasan Allah yang disegerakan, dan pahala akhirat tetap terjamin bagi mujahid yang ikhlas.

Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan Ibn Qayyim — adalah bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan jihad, serta menegaskan bahwa niat ikhlas adalah yang paling utama, bukan hasil duniawi.

Kaitan dengan bab "Niat dalam Perang":

Imam Ibnu Majah meletakkan hadits ini dalam bab tentang niat dalam perang, yang menunjukkan bahwa yang menjadi ukuran utama adalah niat seorang mujahid, bukan sekadar hasil yang diperoleh. Seorang yang berperang karena riya' atau ingin mendapatkan ghanimah semata tidak akan mendapatkan pahala ini. Adapun yang berperang dengan niat ikhlas mencari ridha Allah, maka apapun hasilnya, pahala mereka terjamin.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma — seorang sahabat yang mulia, yang dikenal banyak meriwayatkan hadits dan ahli ibadah — mendengar langsung sabda Nabi ﷺ ini. Beliau adalah salah satu sahabat yang paling bersemangat dalam mencatat hadits, bahkan beliau menuliskan hadits-hadits yang beliau dengar dari Nabi ﷺ dalam sebuah lembaran yang beliau sebut "ash-Shadiqah".

Dalam sebuah riwayat, ketika para sahabat berdiskusi tentang jihad dan ghanimah, Nabi ﷺ memberikan penjelasan ini untuk menegaskan bahwa janganlah seseorang berperang hanya karena mengharapkan harta rampasan. Karena sesungguhnya pahala yang Allah sediakan bagi mujahid yang ikhlas jauh lebih besar daripada ghanimah yang diperoleh di dunia. Ghanimah hanyalah sebagian kecil dari balasan yang Allah berikan di dunia, sedangkan balasan utamanya ada di akhirat.

Hikmahnya: seorang mukmin hendaknya dalam beramal — termasuk dalam berjihad — selalu mengutamakan niat ikhlas karena Allah, bukan karena hasil duniawi. Karena Allah tidak melihat kepada bentuk amal semata, tetapi kepada hati dan niat hamba-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Niat adalah ukuran utama — Dalam setiap amal, termasuk jihad, niat ikhlas karena Allah adalah yang paling menentukan nilai pahala.
  2. Ghanimah bukan tujuan utama — Harta rampasan perang hanyalah bagian kecil dari balasan Allah di dunia; jangan menjadikannya tujuan utama.
  3. Pahala mujahid terjamin — Baik mendapat ghanimah maupun tidak, seorang mujahid yang ikhlas akan mendapatkan pahala yang besar dan sempurna di akhirat.
  4. Bersemangat dalam ketaatan — Hadits ini memotivasi kita untuk bersemangat dalam beramal saleh, karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.
  5. Belajar dari para ulama — Hendaknya kita merujuk kepada penjelasan para ulama Ahlus Sunnah dalam memahami hadits-hadits seperti ini, agar tidak salah dalam memahaminya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?