Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban yang sangat agung, bahkan bisa lebih diutamakan daripada jihad sunnah (yang tidak wajib) jika orang tua sangat membutuhkan dan menangis karena ditinggalkan. Nabi ﷺ memerintahkan seorang pria untuk pulang dan menyenangkan hati kedua orang tuanya, sebagai ganti karena ia telah membuat mereka menangis. Ini menunjukkan betapa besar kedudukan birrul walidain dalam Islam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, Kitab Jihad, Bab "Seorang Pria Berperang dan Memiliki Dua Orang Tua", dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا الْمُحَارِبِيُّ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي جِئْتُ أُرِيدُ الْجِهَادَ مَعَكَ أَبْتَغِي وَجْهَ اللَّهِ وَالدَّارَ الآخِرَةَ وَلَقَدْ أَتَيْتُ وَإِنَّ وَالِدَىَّ لَيَبْكِيَانِ . قَالَ " فَارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا "
Terjemahan: Abdullah bin Amr berkata: "Seorang pria datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: 'Wahai Rasulullah, aku datang untuk berjihad bersamamu, mencari wajah Allah dan akhirat. Aku datang meskipun kedua orang tuaku menangis.' Beliau bersabda: 'Kembalilah kepada mereka dan buatlah mereka tersenyum seperti kau telah membuat mereka menangis.'"
Dalil Al-Qur'an yang sangat relevan:
QS. Al-Isra' [17]: 23
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Terjemahan: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia."
Hadits lain yang mendukung, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu (diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim):
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ " الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا " قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ " ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ " قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ " الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ "
Terjemahan: "Aku bertanya kepada Nabi ﷺ: 'Amal apa yang paling dicintai Allah?' Beliau menjawab: 'Shalat pada waktunya.' Aku bertanya lagi: 'Kemudian apa?' Beliau menjawab: 'Berbakti kepada kedua orang tua.' Aku bertanya lagi: 'Kemudian apa?' Beliau menjawab: 'Jihad di jalan Allah.'"
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Kedudukan birrul walidain yang sangat tinggi.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua menempati urutan setelah shalat dalam keutamaan amal, sebagaimana hadits Ibnu Mas'ud di atas. Bahkan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa para ulama sepakat wajibnya berbakti kepada orang tua dan haramnya mendurhakai mereka.
Kedua: Jihad sunnah tidak boleh mengorbankan hak orang tua.
Para ulama membedakan antara jihad fardhu 'ain (wajib atas setiap individu, seperti ketika musuh menyerang negeri) dan jihad sunnah/kifayah (yang tidak wajib atas setiap orang). Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa dalam jihad yang tidak wajib, seorang anak tidak boleh keluar berperang tanpa izin orang tuanya, terlebih jika mereka sangat membutuhkan atau khawatir. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa juga menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua lebih utama daripada jihad sunnah.
Ketiga: Perintah Nabi ﷺ "buatlah mereka tersenyum seperti kau membuat mereka menangis."
Ini adalah ungkapan yang sangat lembut dan penuh hikmah. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa ini menunjukkan kewajiban mengganti kesedihan orang tua dengan kebahagiaan, dan bahwa menyenangkan hati orang tua adalah bagian dari berbakti. As-Sa'di dalam tafsirnya menekankan bahwa berbuat baik kepada orang tua mencakup perkataan dan perbuatan yang menyenangkan mereka.
Keempat: Perbedaan pendapat ulama.
Sebagian ulama seperti Atha' bin Abi Rabah (dari kalangan Tabi'in) berpendapat bahwa jika orang tua masih membutuhkan, maka berbakti kepada mereka lebih utama. Sedangkan dalam kondisi jihad wajib (fardhu 'ain), maka jihad didahulukan karena menjadi kewajiban atas semua. Namun Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah menegaskan bahwa dalam jihad tathawwu' (sunnah), izin orang tua adalah syarat. Pendapat yang paling kuat adalah yang sesuai dengan zhahir hadits: dalam jihad sunnah, berbakti kepada orang tua lebih diutamakan, terutama jika mereka menangis dan sangat membutuhkan.
Story Telling
Dikisahkan bahwa seorang pria datang kepada Nabi ﷺ dengan semangat tinggi ingin berjihad. Ia mengorbankan perasaan orang tuanya yang menangis karena kepergiannya. Namun Nabi ﷺ yang penuh kasih sayang tidak membiarkan semangat itu mengalahkan hak yang lebih agung. Beliau memerintahkannya pulang, bukan karena jihad itu buruk, tetapi karena ada kewajiban yang lebih utama pada saat itu.
Al-Hasan al-Bashri pernah berkata tentang besarnya hak orang tua: "Berbakti kepada orang tua adalah salah satu pintu surga." Fudail bin 'Iyadh juga menekankan bahwa seorang anak yang membuat orang tuanya ridha, maka Allah akan ridha kepadanya. Kisah ini mengajarkan bahwa terkadang amal yang tampak besar di mata manusia, bisa jadi bukan yang paling utama di sisi Allah jika mengabaikan hak yang lebih dekat dan lebih wajib.
Kesimpulan Praktis
- Dahulukan berbakti kepada orang tua dalam perkara yang sunnah, terutama jika mereka sangat membutuhkan atau khawatir.
- Jangan keluar untuk jihad sunnah tanpa izin orang tua, karena hak mereka lebih utama dalam kondisi ini.
- Usahakan menyenangkan hati orang tua sebagai ganti jika pernah menyedihkan mereka, dengan perkataan dan perbuatan baik.
- Ingat bahwa birrul walidain adalah amal yang sangat dicintai Allah, berada setelah shalat pada waktunya.
- Bersikap lembut dan penuh kasih kepada orang tua, terutama di masa tua mereka, sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-Isra' [17]: 23.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.