Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa berbakti kepada ibu (dan orang tua) adalah kewajiban yang sangat agung, bahkan bisa lebih didahulukan daripada jihad sunnah (jihad yang tidak wajib). Nabi ﷺ tiga kali mengulang perintah agar Mu'awiyah bin Jahimah kembali kepada ibunya, dan pada akhirnya beliau bersabda: "Lazimilah kakinya, karena di sanalah surga." Ini menunjukkan bahwa ridha dan khidmat kepada orang tua adalah jalan menuju surga.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Isra' [17]: 23
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Terjemahan: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia."
QS. Luqman [31]: 14
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Terjemahan: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; hanya kepada-Ku kamu kembali."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Mu'awiyah bin Jahimah As-Sulaimi, dari jalur Muhammad bin Ishaq, dan dicatat oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, Bab "Seorang pria berperang dan memiliki dua orang tua." Ibnu Majah sendiri (wafat 273 H) memberi catatan bahwa Jahimah bin Abbas bin Mirdas As-Sulaimi adalah orang yang menegur Nabi ﷺ pada hari Hunain.
Hadits senada juga dikenal dalam riwayat lain, bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ meminta izin berjihad, lalu beliau bertanya: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Ia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Maka berjihadlah pada keduanya." (makna ini masyhur dalam kitab-kitab hadits; Imam an-Nawawi menyebutkannya dalam Syarah Shahih Muslim ketika menjelaskan bab berbakti kepada orang tua).
Penjelasan Rinci
1. Kedudukan berbakti kepada orang tua dalam Islam
Para ulama yang tercantum dalam rujukan kami menempatkan birrul walidain (berbakti kepada orang tua) sebagai kewajiban besar yang berdekatan dengan tauhid. Ibn Katsir dalam tafsirnya atas QS. Al-Isra' [17]: 23 menjelaskan bahwa Allah menyebut perintah berbuat baik kepada orang tua setelah perintah menyembah-Nya semata, menunjukkan betapa agungnya hak orang tua. As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa "ihsan" kepada orang tua mencakup perkataan, perbuatan, dan sikap lembut, terutama ketika mereka telah lanjut usia.
2. Mengapa ibu disebut secara khusus?
Dalam hadits ini Nabi ﷺ menyebut ibu ("Apakah ibumu masih hidup?"), bukan sekadar "orang tua". Ini sejalan dengan QS. Luqman [31]: 14 yang menyebut kelemahan ibu dalam mengandung dan menyusui. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari ketika membahas hadits "Siapa yang paling berhak aku berbuat baik kepadanya?" (jawaban Nabi: "Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, lalu ayahmu") menjelaskan bahwa ibu memiliki keutamaan karena beban mengandung, melahirkan, dan menyusui. Namun ini tidak berarti ayah diabaikan; keduanya wajib dihormati.
3. Jihad sunnah vs. berbakti kepada orang tua
Hadits ini menunjukkan kaidah penting: jihad yang hukumnya sunnah (tidak wajib 'ain) tidak boleh dilakukan jika menyebabkan orang tua—khususnya ibu—terlantar atau tidak ada yang merawat. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa perintah Nabi ﷺ kepada lelaki itu untuk kembali kepada ibunya menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua lebih utama daripada jihad sunnah. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menegaskan bahwa jihad yang paling utama adalah jihad melawan hawa nafsu, dan di antaranya adalah menahan diri dari keinginan berjihad demi memenuhi hak orang tua.
4. Pengulangan tiga kali dan maknanya
Mu'awiyah bin Jahimah mendatangi Nabi ﷺ dari tiga arah berbeda (sisi lain, depan), dan setiap kali Nabi ﷺ mengulang pertanyaan dan perintah yang sama. Para ulama seperti Ibnu Hajar menyebut bahwa pengulangan ini menunjukkan penekanan (ta'kid) dan kasih sayang Nabi ﷺ dalam mendidik. Beliau tidak langsung menghardik, tetapi mengajak sahabat itu memahami prioritas dengan lembut namun tegas.
5. "Lazimilah kakinya, karena di sanalah surga"
Ungkapan "الْزَمْ رِجْلَهَا فَثَمَّ الْجَنَّةُ" (lazimilah kakinya, di sanalah surga) adalah metafora yang sangat indah: khidmat kepada ibu, merendahkan diri di hadapannya, dan melayani kebutuhannya adalah jalan menuju surga. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lata'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa berbakti kepada orang tua termasuk amal yang paling utama dan menjadi sebab masuknya seseorang ke surga. As-Sa'di juga menegaskan bahwa keridhaan Allah terkait dengan keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah terkait dengan kemurkaan mereka (makna hadits yang masyhur).
6. Catatan sanad
Ibnu Majah mencatat dua jalur: pertama dari Muhammad bin Ishaq, kedua dari Ibnu Juraij. Ibnu Majah sendiri memberi catatan bahwa Jahimah bin Abbas bin Mirdas As-Sulaimi adalah orang yang menegur Nabi ﷺ pada hari Hunain. Para ulama hadits seperti Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkan hadits ini dalam Shahih mereka, namun maknanya didukung oleh hadits-hadits lain yang shahih tentang keutamaan berbakti kepada orang tua. Karena itu, para ulama menerima maknanya dan menjadikannya dalil dalam bab birrul walidain.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Mu'awiyah bin Jahimah As-Sulaimi datang kepada Nabi ﷺ dengan semangat membara: ia ingin berjihad di jalan Allah, mencari wajah Allah dan negeri akhirat. Betapa mulia niatnya. Namun Nabi ﷺ—yang mengetahui keadaan hatinya dan keadaan keluarganya—bertanya dengan lembut: "Apakah ibumu masih hidup?" Ia menjawab: "Ya." Nabi ﷺ bersabda: "Kembalilah dan berbaktilah kepadanya."
Lelaki itu tidak langsung pergi. Ia mencoba lagi dari sisi lain, berharap jawaban berbeda. Nabi ﷺ mengulang pertanyaan yang sama. Ia mencoba sekali lagi dari depan. Nabi ﷺ tetap mengulang, lalu bersabda: "Lazimilah kakinya, karena di sanalah surga."
Bayangkan: seorang sahabat yang ingin mati syahid di medan jihad, tetapi Nabi ﷺ mengarahkannya pulang untuk merawat ibunya. Ini bukan berarti jihad itu rendah, tetapi menunjukkan bahwa ada amal yang lebih didahulukan pada keadaan tertentu: berbakti kepada ibu. Kisah ini mengajarkan bahwa surga tidak selalu di medan perang; kadang surga ada di depan pintu rumah, di bawah kaki seorang ibu yang menunggu pelayanan anaknya.
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan kisah serupa dan menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua adalah amal yang paling utama setelah iman. Ibn Rajab al-Hanbali juga menukil atsar-atsar salaf tentang keutamaan ini dalam Lata'if al-Ma'arif.
Kesimpulan Praktis
- Dahulukan berbakti kepada orang tua, terutama ibu, sebelum amal-amal sunnah lainnya jika terjadi benturan kepentingan.
- Jangan meninggalkan orang tua dalam keadaan butuh hanya karena ingin melakukan amal yang hukumnya sunnah.
- Layani ibu dengan penuh kerendahan hati—"lazimilah kakinya" mengajarkan sikap tawadhu dan khidmat.
- Jaga lisan dan perbuatan terhadap orang tua, sebagaimana QS. Al-Isra' [17]: 23 melarang berkata "ah" dan membentak.
- Jika orang tua masih hidup, itu adalah kesempatan emas untuk meraih surga; jangan sia-siakan.
- Jika orang tua telah wafat, tetap berbakti dengan doa, sedekah, dan menyambung silaturahmi yang mereka cintai.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.