Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 2771 tentang Keutamaan takbir di tempat tinggi dan takwa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi wasiat Nabi ﷺ kepada seorang lelaki agar senantiasa bertakwa kepada Allah dan mengucapkan takbir (Allahu Akbar) ketika berada di tempat yang tinggi, terutama dalam perjalanan dan jihad di jalan Allah. Dua hal ini — takwa dan takbir — merupakan bekal utama seorang mukmin: takwa menjaga hati, takbir mengangkat semangat dan mengingat kebesaran Allah. Para ulama menjelaskan bahwa takbir di tempat tinggi adalah sunnah dalam safar dan tanda tauhid yang agung.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 194

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Terjemahan: "Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa."

QS. Al-Hajj [22]: 37

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ

Terjemahan: "Dan agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 2771) dalam Kitab Jihad, Bab Keutamaan Penjagaan dan Takbir di Jalan Allah, dari jalur Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Sanadnya: Abu Bakr bin Abi Syaibah → Waki' → Usamah bin Zaid → Sa'id al-Maqburi → Abu Hurairah.

Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim tentang takbir Nabi ﷺ ketika menaiki tempat tinggi dalam perjalanan (safar), sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa takbir di tempat tinggi adalah sunnah yang dicontohkan Nabi ﷺ dalam safar.
  • Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa disunnahkan bertakbir ketika naik dan bertasbih ketika turun.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan adab-adab Nabi ﷺ dalam safar, termasuk takbir di tempat tinggi.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa takbir adalah bentuk pengagungan Allah yang harus menyertai setiap keadaan.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Nabi ﷺ memberikan dua wasiat kepada seorang lelaki:

  1. Takwa kepada Allah (تَقْوَى اللَّهِ) — yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Ini adalah wasiat yang paling sering Nabi ﷺ sampaikan, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits.
  2. Takbir di setiap tempat yang tinggi (التَّكْبِيرِ عَلَى كُلِّ شَرَفٍ) — yaitu mengucapkan "Allahu Akbar" ketika berada di tempat yang tinggi, seperti bukit, gunung, atau tempat elevated dalam perjalanan.

Pemahaman para ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kata "شَرَف" (syaraf) berarti tempat yang tinggi atau mulia. Beliau menyebutkan bahwa hikmah takbir di tempat tinggi adalah karena ketika seseorang berada di tempat tinggi, ia melihat kebesaran ciptaan Allah, sehingga hatinya terdorong untuk mengagungkan Allah Yang Maha Besar.

Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj menjelaskan bahwa disunnahkan bagi musafir ketika menaiki tempat tinggi untuk bertakbir, dan ketika turun ke lembah untuk bertasbih. Ini adalah adab yang dicontohkan Nabi ﷺ.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ ketika dalam safar, jika menaiki tempat tinggi beliau bertakbir, dan jika turun beliau bertasbih. Ini menunjukkan bahwa setiap keadaan memiliki dzikir yang sesuai.

Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa takbir adalah bentuk pengagungan kepada Allah, dan ia harus menyertai takwa. Takwa tanpa takbir bisa jadi kering, dan takbir tanpa takwa bisa jadi kosong.

Kaitan antara takwa dan takbir:

Para ulama menjelaskan bahwa kedua wasiat ini saling melengkapi:

  • Takwa menjaga hubungan hati dengan Allah dalam ketaatan.
  • Takbir mengingatkan bahwa Allah Maha Besar, sehingga segala urusan menjadi kecil di hadapan-Nya.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama seperti Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menyebutkan bahwa takbir di tempat tinggi adalah sunnah dalam safar dan jihad, bukan kewajiban. Sedangkan Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menambahkan bahwa takbir juga disunnahkan ketika melihat sesuatu yang menakjubkan atau ketika mendapatkan nikmat.

Pendapat yang paling kuat:

Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa takbir di tempat tinggi adalah sunnah yang dianjurkan, terutama dalam safar dan jihad, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang shahih. Ini adalah pendapat Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibn Qayyim.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ketika dalam perjalanan menuju Mekkah, jika beliau menaiki tempat tinggi beliau bertakbir, dan jika turun beliau bertasbih. Beliau mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam hal ini, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin itu jika berada di tempat tinggi, ia mengingat kebesaran Allah, dan jika berada di tempat rendah, ia mengingat kehinaan dirinya di hadapan Allah." Ini menunjukkan bahwa takbir bukan sekadar ucapan, tetapi kesadaran hati akan kebesaran Allah.

Fudail bin 'Iyadh rahimahullah pernah menasihati seorang lelaki: "Bertakwalah kepada Allah, dan jadikanlah takbir sebagai temanmu di setiap tempat tinggi, karena sesungguhnya Allah Maha Besar dan tidak ada yang lebih besar dari-Nya."

Kesimpulan Praktis

  1. Bertakwalah kepada Allah dalam setiap keadaan, baik sendirian maupun bersama orang lain.
  2. Ucapkan takbir ketika berada di tempat tinggi, seperti bukit, gunung, atau tempat elevated, sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.
  3. Jadikan takbir dan takwa sebagai bekal dalam safar, jihad, dan kehidupan sehari-hari.
  4. Ikuti sunnah Nabi ﷺ dalam adab safar, termasuk takbir di tempat tinggi dan tasbih di tempat rendah.
  5. Ingatlah bahwa Allah Maha Besar sehingga segala urusan dunia menjadi kecil di hadapan-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?