Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya niat yang rusak dalam menuntut ilmu. Ilmu agama yang seharusnya dicari untuk mengharap wajah Allah, jika dipelajari hanya untuk meraih keuntungan duniawi (harta, jabatan, popularitas), maka pelakunya terancam tidak akan mencium aroma surga. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan niat dalam mencari ilmu, dan betapa besar dosa menjadikan ilmu agama sebagai alat untuk kepentingan dunia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:
Teks hadits yang Anda berikan adalah sebagai berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، وَسُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ، قَالاَ حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرٍ أَبِي طُوَالَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ " . يَعْنِي رِيحَهَا .
Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang dengannya dicari wajah Allah, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk meraih keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari kiamat." (HR. Ibnu Majah, no. 252. Hadits ini dinilai Hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah)
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 3664) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 8481) dari jalur lain.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
لَا يُؤْمِنُونَ بِهِ حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ
"Mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur'an) sehingga mereka melihat azab yang pedih." (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 201) - ayat ini menunjukkan bahwa sebagian manusia baru sadar setelah melihat azab, namun sudah terlambat.
Ayat yang lebih relevan tentang niat dan keikhlasan:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
"Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh ibadah, termasuk menuntut ilmu, harus dilandasi keikhlasan hanya untuk Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan masalah niat dalam menuntut ilmu. Hadits ini menjadi salah satu dalil utama tentang bahaya riya' dan keinginan duniawi dalam belajar ilmu agama.
Penjelasan Makna Hadits:
- "Ilmu yang dicari wajah Allah" - Maksudnya adalah ilmu-ilmu syar'i, seperti Al-Qur'an, hadits, fiqih, aqidah, dan ilmu-ilmu yang membantu memahami agama. Ilmu-ilmu ini pada asalnya adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
- "Namun ia mempelajarinya hanya untuk meraih keuntungan duniawi" - Seperti belajar agar dipandang alim, mencari jabatan, mencari harta, popularitas, atau sekadar gelar. Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Al-Fawa'id menjelaskan bahwa orang yang menuntut ilmu dengan niat seperti ini, ilmunya tidak akan bermanfaat baginya di akhirat, bahkan bisa menjadi bencana.
- "Tidak akan mendapatkan aroma surga" - Ini adalah ancaman yang sangat keras. Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadir menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa buruknya perbuatan tersebut, karena aroma surga saja tidak akan didapatkan, apalagi masuk ke dalamnya.
Pandangan Ulama dari Daftar Rujukan:
- Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang niat dalam menuntut ilmu, beliau menjawab: "Seseorang hendaknya berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari kaum muslimin." Beliau sangat menekankan keikhlasan dalam menuntut ilmu.
- Sufyan ats-Tsauri berkata: "Tidak ada sesuatu yang paling sulit aku obati selain niatku, karena ia selalu berbolak-balik." Ini menunjukkan betapa seriusnya para salaf dalam menjaga niat.
- Al-Hasan al-Bashri berkata: "Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk akhirat, maka Allah akan memberinya ilmu dan pemahaman. Dan barangsiapa yang menuntutnya untuk dunia, maka ia hanya akan mendapatkan dunia itu saja, dan tidak akan mendapatkan bagian dari akhirat."
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya mempelajari ilmu syar'i dengan niat untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Namun beliau juga menegaskan bahwa jika seseorang belajar dengan niat ikhlas, kemudian Allah memberinya rezeki dari ilmu tersebut tanpa ia meminta atau berniat untuk itu, maka hal itu tidak mengapa.
- Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam berbagai fatwanya menekankan pentingnya memperbaiki niat sebelum menuntut ilmu, dan mengingatkan bahwa ilmu yang tidak disertai keikhlasan akan menjadi hujjah (alasan) yang memberatkan pemiliknya di akhirat.
Perbedaan Pendapat:
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mempelajari ilmu syar'i dengan niat duniawi:
- Sebagian ulama menghukuminya haram karena bertentangan dengan tujuan utama ilmu.
- Sebagian lain menghukuminya makruh dan mengurangi pahala, namun tidak sampai haram, karena ilmu itu sendiri tetap bermanfaat.
Pendapat yang lebih kuat - sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh al-Utsaimin - adalah bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar karena ancaman dalam hadits ini sangat keras, yaitu tidak mendapatkan aroma surga. Namun jika orang tersebut bertaubat dan memperbaiki niatnya, maka Allah Maha Pengampun.
Story Telling
Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin - salah seorang ulama tabi'in yang sangat menjaga keikhlasan - bahwa ia pernah berkata: "Sesungguhnya aku tidak menuntut ilmu ini kecuali untuk Allah semata. Namun kemudian aku tidak suka jika ada orang yang menemuiku untuk urusan dunia, karena aku khawatir niatku tercampuri."
Beliau juga dikenal sangat takut jika ilmunya tidak bermanfaat. Suatu hari beliau menangis dan ditanya: "Apa yang membuatmu menangis?" Beliau menjawab: "Aku takut jika aku termasuk orang yang dikatakan dalam firman Allah: 'Dan ceritakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu...' (QS. Al-A'raf [7]: 175)."
Kisah ini menunjukkan betapa tingginya kesadaran para salaf dalam menjaga keikhlasan, dan betapa takutnya mereka jika ilmu yang dimiliki justru menjadi bencana karena niat yang rusak.
Kesimpulan Praktis
- Periksa niat sebelum belajar - Sebelum memulai menuntut ilmu, luruskan niat bahwa tujuan utama adalah untuk menghilangkan kebodohan dan mendekatkan diri kepada Allah.
- Jauhi riya' dan sum'ah - Jangan belajar agar dipuji orang, dianggap alim, atau mencari popularitas.
- Ilmu adalah amanah - Ilmu syar'i adalah warisan para nabi, maka menjaganya dari niat-niat duniawi adalah bagian dari menjaga amanah.
- Jika terlanjur berniat buruk, segera taubat - Allah Maha Pengampun, dan memperbaiki niat di tengah perjalanan lebih baik daripada terus dalam kesalahan.
- Minta pertolongan Allah - Selalu berdoa agar Allah memberikan keikhlasan dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.