Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 2492 tentang Kewajiban menawarkan tanah atau pohon kepada rekan sebelum dijual

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab dan keadilan dalam jual beli tanah atau kebun: seorang pemilik hendaknya menawarkan lebih dahulu kepada mitra/syariknya sebelum menjual kepada orang lain. Tujuannya menjaga hak syuf'ah (hak beli paksa bagi syarik) dan mencegah perselisihan. Ini bukan larangan mutlak menjual, melainkan kewajiban mendahulukan penawaran kepada syarik.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, Kitab Syuf'ah, Bab Siapa yang Menjual Tanah Hendaklah Memberitahukan Rekannya (no. 2492), dari sahabat Jabir bin Abdullah, melalui jalur Sufyan bin 'Uyainah (termasuk ulama dalam daftar rujukan) dari Abu az-Zubair.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ، قَالاَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ "مَنْ كَانَتْ لَهُ نَخْلٌ أَوْ أَرْضٌ فَلاَ يَبِيعُهَا حَتَّى يَعْرِضَهَا عَلَى شَرِيكِهِ"

Terjemahan: "Siapa yang memiliki pohon kurma atau tanah, janganlah ia menjualnya sampai ia menawarkannya kepada syariknya (mitranya)."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keadilan dan larangan memakan hak orang lain:

QS. An-Nisa' [4]: 29

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku atas dasar suka rela di antara kamu."

Kaitan ulama: Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas syuf'ah dan kewajiban mendahulukan syarik. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad dan I'lam al-Muwaqqi'in menegaskan syuf'ah sebagai hak yang ditetapkan syariat untuk mencegah mudarat. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam mengaitkan adab ini dengan kaidah "la dharara wa la dhirar" (tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain).

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan bimbingan Nabi ﷺ dalam muamalah: seorang pemilik tanah atau kebun kurma yang ingin menjual hendaknya menawarkan lebih dahulu kepada syariknya (mitra yang memiliki hak syuf'ah). Syuf'ah adalah hak syar'i bagi syarik untuk membeli bagian yang dijual dengan harga yang sama, agar kepemilikan tetap utuh dan tidak timbul mudarat.

Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal menetapkan syuf'ah pada tanah dan kebun yang masih berserikat, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain. Imam Malik juga menetapkan syuf'ah, dengan rincian syarat tertentu. Imam Abu Hanifah menetapkan syuf'ah pada properti berserikat, namun dengan syarat-syarat yang lebih ketat. Perbedaan ini adalah perbedaan ijtihad dalam menerapkan dalil, bukan penolakan terhadap hadits.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa syuf'ah disyariatkan untuk menolak bahaya (darar) bagi syarik, karena masuknya orang asing dalam kepemilikan bersama dapat menimbulkan perselisihan dan kesulitan. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits Jabir ini menjadi dalil kewajiban menawarkan kepada syarik sebelum menjual kepada pihak lain, dan jika syarik tidak mau membeli, barulah dijual kepada orang lain.

Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini mengandung adab dan kasih sayang sesama muslim, serta menjaga hubungan baik antara syarik. Ibnu Rajab al-Hanbali mengaitkannya dengan kaidah besar: Islam melarang segala yang menimbulkan permusuhan dan kerusakan.

Kesimpulan dari pendapat ulama daftar: yang paling kuat adalah kewajiban menawarkan kepada syarik lebih dahulu, dan syarik memiliki hak syuf'ah. Jika syarik menolak, penjualan kepada pihak lain dibolehkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, dikenal sangat menjaga muamalahnya. Dalam riwayat lain, para sahabat bila hendak menjual tanah atau kebun, mereka mendatangi syariknya lebih dahulu dan berkata, "Saya hendak menjual bagian saya, apakah engkau ingin membelinya?" Ini menunjukkan amal nyata para sahabat terhadap bimbingan Nabi ﷺ. Sufyan bin 'Uyainah, yang meriwayatkan hadits ini, dikenal sebagai ulama yang sangat teliti dalam meriwayatkan dan mengamalkan sunnah. Hikmahnya: mendahulukan syarik adalah bentuk kejujuran dan menjaga ukhuwah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jika Anda memiliki tanah atau kebun yang berserikat, tawarkan lebih dahulu kepada syarik sebelum menjual kepada orang lain.
  2. Syarik memiliki hak syuf'ah; hormati hak tersebut.
  3. Jual beli harus berdasarkan keridhaan dan kejelasan, tanpa menimbulkan mudarat.
  4. Jika syarik menolak, penjualan kepada pihak lain dibolehkan.
  5. Jaga adab dan komunikasi yang baik dalam muamalah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?