Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 240 tentang Pahala pengajar ilmu seperti pahala pengamalnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi para guru, pendakwah, dan siapa saja yang mengajarkan kebaikan. Intinya, siapa yang mengajarkan suatu ilmu yang bermanfaat, maka ia akan mendapatkan pahala yang sama persis dengan pahala orang yang mengamalkan ilmu tersebut, dan pahala orang yang mengamalkannya itu tidak akan berkurang sedikit pun. Ini adalah bentuk kemurahan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada hamba-Nya yang mau berbagi ilmu.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang Anda tanyakan adalah hadits riwayat Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Muqaddimah, Bab Pahala Mengajarkan Kebaikan kepada Manusia, nomor 240. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya.

Teks Hadits (sebagaimana yang Anda sebutkan):

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عِيسَى الْمِصْرِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ، عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ ـ ﷺ ـ قَالَ " مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا فَلَهُ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْعَامِلِ " .

Makna Ringkas: "Barangsiapa yang mengajarkan suatu ilmu, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikit pun."

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 261:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui."

Ayat ini menunjukkan betapa besar pelipatgandaan pahala di sisi Allah, dan hadits ini menjelaskan salah satu bentuk pelipatgandaan tersebut bagi orang yang mengajarkan ilmu.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung keutamaan yang agung bagi para pengajar ilmu. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam berbagai kesempatan menjelaskan bahwa pahala orang yang mengajarkan ilmu tidak akan berkurang meskipun banyak orang yang mengamalkannya. Ini adalah karunia Allah yang tidak terbatas.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini (yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim) menunjukkan dianjurkannya mengajarkan ilmu dan menunjukkan keutamaan orang yang menunjukkan kepada kebaikan. Beliau menukil bahwa pahala orang yang menunjukkan kebaikan sama dengan pahala orang yang mengerjakannya, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa di antara amalan yang pahalanya terus mengalir adalah ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepada manusia. Ini sejalan dengan hadits Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: "Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya."

Perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan "ilmu" dalam hadits ini adalah ilmu syar'i yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membawa kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Ini sebagaimana dipahami oleh para ulama. Ilmu yang tidak bermanfaat, atau bahkan ilmu yang menyesatkan, tentu tidak termasuk dalam keutamaan ini. Bahkan, orang yang mengajarkan kesesatan akan mendapatkan dosa dari orang yang mengikutinya, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain.

Para ulama juga menjelaskan bahwa keutamaan ini mencakup semua bentuk pengajaran, baik secara langsung (seperti di majelis ilmu) maupun tidak langsung (seperti menulis buku, merekam ceramah, atau menyebarkan ilmu melalui media yang dibenarkan). Yang terpenting adalah niat ikhlas karena Allah dan ilmu yang diajarkan adalah ilmu yang benar berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat.

Story Telling

Ada kisah yang sangat masyhur tentang keutamaan mengajarkan ilmu ini. Diriwayatkan bahwa seorang ulama besar tabi'in, Sa'id bin al-Musayyib rahimahullah, adalah seorang yang sangat dermawan dengan ilmunya. Beliau tidak pernah pelit untuk menjawab pertanyaan siapa pun yang datang menemuinya. Suatu hari, beliau ditanya tentang suatu masalah, lalu beliau menjawabnya dengan panjang lebar. Setelah itu, beliau berkata, "Sungguh, aku lebih suka memberikan sebagian dari hartaku daripada menahan ilmu ini dari seorang muslim."

Kisah ini menunjukkan semangat para salaf dalam menyebarkan ilmu. Mereka memahami bahwa ilmu adalah warisan para Nabi, dan menyebarkannya adalah jalan untuk mendapatkan pahala yang terus mengalir. Mereka tidak takut ilmu mereka "habis" atau "dicuri", karena ilmu justru akan bertambah dengan diajarkan dan diamalkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersemangatlah untuk mengajarkan ilmu yang kita miliki, sekecil apa pun itu. Jangan menunda-nunda atau merasa ilmunya masih sedikit.
  2. Niatkan ikhlas karena Allah dalam setiap pengajaran, jangan mengharap pujian atau imbalan duniawi.
  3. Pastikan ilmu yang diajarkan adalah ilmu yang benar berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.
  4. Jangan khawatir pahala kita berkurang karena orang lain ikut mengamalkan ilmu kita. Justru pahala kita akan terus bertambah selama ilmu itu diamalkan.
  5. Gunakan berbagai sarana yang dibenarkan untuk menyebarkan ilmu, baik lisan, tulisan, maupun media lainnya, sesuai kemampuan dan kondisi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?