Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 24 tentang Kehati-hatian dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan sikap sangat hati-hati (waro') dari sahabat mulia Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu dalam meriwayatkan sabda Nabi ﷺ. Beliau tidak pernah memastikan bahwa lafaz yang beliau sampaikan persis sama dengan lafaz asli Nabi ﷺ, melainkan selalu menambahkan kalimat "أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ" (atau seperti yang dikatakan Rasulullah ﷺ). Ini adalah pelajaran besar bagi kita bahwa menyampaikan hadits adalah urusan yang sangat agung dan harus dijaga dengan ketelitian serta kejujuran.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Ibnu Majah:

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ مُعَاذٍ، عَنِ ابْنِ عَوْنٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، قَالَ: كَانَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ إِذَا حَدَّثَ عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ حَدِيثًا فَفَرَغَ مِنْهُ قَالَ: أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ.

Makna: Muhammad bin Sirin berkata: "Setiap kali Anas bin Malik selesai meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah ﷺ, beliau berkata: 'Atau seperti yang dikatakan Rasulullah ﷺ.'"

Kaitan dengan Ulama:

Perawi hadits ini adalah Muhammad bin Sirin (wafat 110 H), seorang ulama tabi'in yang terkenal sangat hati-hati dalam periwayatan hadits. Beliau termasuk dalam daftar ulama rujukan kita. Sikap Anas bin Malik ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu'allaq (lihat Fathul Bari, karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, jilid 1, hlm. 47 pada pembahasan tentang lafaz "أَوْ كَمَا قَالَ").

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa sikap Anas bin Malik ini menunjukkan prinsip penting dalam periwayatan hadits: periwayatan dengan makna (ar-riwayah bil ma'na) itu dibolehkan, namun dengan syarat yang sangat ketat. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu tidak ingin terjebak dalam kepastian bahwa lafaz yang beliau ucapkan persis sama dengan lafaz Nabi ﷺ, karena beliau sadar bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang bisa lupa atau keliru dalam menghafal lafaz secara persis.

Imam An-Nawawi dalam kitabnya At-Taqrib wa At-Taisir (dan juga Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa para ulama membolehkan meriwayatkan hadits dengan makna selama perawi tersebut memahami bahasa Arab dengan baik dan tidak mengubah makna. Namun, sikap yang lebih utama dan lebih selamat adalah dengan lafaz asli, sebagaimana dilakukan oleh para sahabat yang sangat berhati-hati seperti Anas bin Malik.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menyebutkan bahwa ungkapan "أَوْ كَمَا قَالَ" ini menunjukkan bahwa Anas bin Malik ragu apakah lafaz yang beliau sampaikan persis dengan lafaz Nabi ﷺ atau tidak. Maka beliau menyerahkan kepastiannya kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan mengatakan "atau seperti yang dikatakan Rasulullah ﷺ."

Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama hadits lainnya sangat menekankan ketelitian lafaz dalam periwayatan. Bahkan diriwayatkan bahwa Imam Ahmad tidak suka jika seseorang meriwayatkan hadits dengan makna yang bisa mengubah lafaz, karena dikhawatirkan akan mengubah makna.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah dan kitab-kitabnya sering mengingatkan bahwa kehati-hatian dalam lafaz hadits adalah bagian dari menjaga sunnah Nabi ﷺ dari distorsi.

Sikap ini juga sejalan dengan apa yang diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri dan Muhammad bin Sirin sendiri, yang sangat membenci periwayatan hadits secara longgar tanpa menjaga lafaz. Muhammad bin Sirin berkata: "Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian." (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya).

Story Telling

Ada kisah indah tentang kehati-hatian Muhammad bin Sirin sendiri, perawi hadits ini. Beliau adalah seorang ulama tabi'in yang sangat waro'. Diriwayatkan bahwa beliau tidak mau meriwayatkan hadits dari seseorang yang tidak beliau kenal dengan baik, dan beliau sangat teliti dalam memilih guru. Suatu kali beliau ditanya tentang seseorang, maka beliau menjawab dengan sangat hati-hati: "Saya tidak tahu, biarkanlah dia." Beliau lebih memilih diam daripada berbicara tanpa ilmu.

Sikap ini adalah buah dari pendidikan para sahabat seperti Anas bin Malik yang menjaga setiap huruf dari sabda Nabi ﷺ. Anas bin Malik sendiri telah menemani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun, dan beliau sangat menjaga apa yang beliau dengar dari Nabi ﷺ. Namun meskipun demikian, beliau tetap berkata "أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ" — ini adalah puncak ketawadhu'an dan kehati-hatian seorang perawi.

Kesimpulan Praktis

  1. Menjaga lisan dalam menyampaikan ilmu, terutama ilmu agama, adalah kewajiban setiap muslim.
  2. Tidak memastikan sesuatu yang kita tidak yakin — jika ragu dalam menyampaikan lafaz, hendaknya kita berkata "atau seperti itu" atau "kurang lebih seperti itu."
  3. Meneliti sumber ilmu — kita harus mengambil ilmu dari ulama yang terpercaya, bukan dari sumber yang tidak jelas.
  4. Bersikap tawadhu' — jangan merasa paling benar dalam menyampaikan dalil; selalu ada ruang untuk perbaikan dan klarifikasi.
  5. Menghormati hadits Nabi ﷺ — hadits adalah wahyu kedua, maka menyampaikannya harus dengan adab yang tinggi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.