Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 230 tentang Keutamaan menyampaikan ilmu dan doa bagi penyampainya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dorongan agung dari Nabi ﷺ agar kita menyampaikan ilmu yang kita dengar, meskipun kita merasa belum memahaminya secara sempurna. Karena bisa jadi, orang yang menerima ilmu tersebut justru lebih memahaminya daripada kita. Hadits ini juga mengajarkan tiga perkara yang menjadi penjaga hati seorang muslim dari sifat khianat dan dengki, yaitu ikhlas, nasihat kepada pemimpin, dan komitmen kepada jamaah kaum muslimin.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Ibnu Majah:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sertakan, dengan tambahan dari riwayat Ali bin Muhammad):

> حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، حَدَّثَنَا لَيْثُ بْنُ أَبِي سُلَيْمٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبَّادٍ أَبِي هُبَيْرَةَ الأَنْصَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرِ فَقِيهٍ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ " . زَادَ فِيهِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ " ثَلاَثٌ لاَ يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِخْلاَصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَالنُّصْحُ لأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ " .

Terjemahan: Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Semoga Allah membuat wajahnya bersinar (indah dan bercahaya), orang yang mendengar perkataanku lalu menyampaikannya. Maka betapa banyak orang yang membawa ilmu (fikih) tetapi ia bukan seorang yang fakih (ahli fikih), dan betapa banyak orang yang membawa ilmu kepada orang yang lebih fakih darinya." (Dalam riwayat Ali bin Muhammad ditambahkan): "Ada tiga hal yang tidak akan membuat hati seorang muslim menyimpan kebencian (khianat): ikhlas beramal karena Allah, nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin, dan berpegang teguh kepada jamaah mereka."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, dari Zaid bin Tsabit, dan ia berkata: "Hadits ini hasan shahih." (Lihat: Sunan At-Tirmidzi, Kitab Ilmu, Bab Ma Ja'a fil Hadits 'an Bani Israil, no. 2657).

Ayat Al-Qur'an yang relevan tentang keutamaan menyampaikan ilmu dan keikhlasan:

QS. Fussilat [41]: 33

> وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, 'Sungguh, aku termasuk orang-orang yang berserah diri?'"

Kaitan dengan ulama: Imam Al-Bukhari mencantumkan hadits ini dalam Shahih-nya (Kitab Ilmu, Bab Tablighul 'Ilmi, no. 67) dengan lafaz yang lebih ringkas. Ini menunjukkan perhatian besar para ulama terhadap hadits ini sebagai landasan kewajiban menyampaikan ilmu.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Naddharallahu" (Semoga Allah membuat wajahnya bersinar)

Para ulama menjelaskan bahwa doa Nabi ﷺ ini mencakup dua makna: pertama, keindahan dan kebahagiaan di dunia; kedua, kemuliaan dan cahaya di wajah pada hari kiamat. Imam Al-Khathabi (dalam Ma'alim As-Sunan) menyebut bahwa makna asalnya adalah memohonkan kebaikan dan keindahan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa doa ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang menyampaikan ilmu, karena ia menjadi sebab tersebarnya petunjuk Nabi ﷺ kepada umat.

2. "Faru bba hamili fiqhin ghairi faqih" (Betapa banyak pembawa ilmu yang bukan ahli fikih)

Ini adalah kabar penting dari Nabi ﷺ bahwa tidak semua orang yang mendengar dan menghafal ilmu otomatis memahaminya dengan benar. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kata "fiqh" di sini bermakna pemahaman yang mendalam. Maka hadits ini memotivasi para perawi dan penuntut ilmu untuk tetap menyampaikan, karena pemahaman yang benar bisa jadi ada pada orang yang menerima darinya, bukan pada dirinya.

3. "Wa rubba hamili fiqhin ila man huwa afqahu minhu" (Betapa banyak pembawa ilmu kepada orang yang lebih fakih darinya)

Ini menunjukkan bahwa seorang murid bisa jadi lebih memahami daripada gurunya dalam sebagian masalah. Imam As-Sa'di dalam Bahjah Qulub Al-Abrar menekankan bahwa ini adalah dorongan untuk tawadhu' dan tidak merasa paling paham. Seorang guru yang ikhlas akan senang jika ilmunya sampai kepada orang yang lebih memahaminya.

4. Tiga perkara penjaga hati

Tambahan dalam riwayat Ali bin Muhammad ini diriwayatkan pula oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ahmad. Para ulama menjelaskan:

  • Ikhlas: membersihkan amal hanya untuk Allah. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menyebut ikhlas sebagai ruh amal.
  • Nasihat kepada pemimpin: maksudnya mendoakan kebaikan mereka, menaati dalam kebaikan, dan menasihati dengan cara yang baik. Imam Al-Barbahari dalam Syarhus Sunnah menegaskan bahwa ini bagian dari manhaj Ahlus Sunnah.
  • Luzum Jama'ah: berpegang pada jamaah kaum muslimin dan tidak memecah belah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-'Aqidah Al-Wasithiyah menjelaskan bahwa yang dimaksud jamaah adalah as-Sawad al-A'zham (mayoritas ulama dan kaum muslimin di atas kebenaran).

Catatan penting tentang sanad: Dalam sanad hadits ini terdapat Laits bin Abi Sulaim, seorang perawi yang jujur namun hafalannya lemah. Karena itu, sebagian ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyatakan hadits ini shahih karena memiliki banyak jalur penguat, terutama dari riwayat Al-Bukhari dan At-Tirmidzi.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits — pernah berkata: "Sesungguhnya aku menyampaikan hadits-hadits yang seandainya aku sampaikan di masa Umar, pasti ia akan memukulku dengan tongkatnya." Lalu ia berkata: "Aku menyampaikan hadits di masa Umar, dan aku tidak berani menyampaikan hadits yang tidak jelas. Aku menyampaikan hadits yang jelas, dan aku tidak menyampaikan yang tidak jelas."

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat berhati-hati dalam menyampaikan ilmu, namun tetap bersemangat menyebarkannya. Mereka tidak menahan ilmu karena takut disalahpahami, tetapi mereka menyampaikan dengan amanah dan kejujuran. Ini persis yang diajarkan dalam hadits Zaid bin Tsabit di atas: sampaikan, karena bisa jadi yang menerima lebih memahaminya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menahan ilmu yang kita dengar atau ketahui, selama itu benar dan bermanfaat. Sampaikan dengan jujur dan amanah.
  2. Jangan merasa paling paham. Bisa jadi orang yang kita ajari justru lebih memahami. Ini mengajarkan kita tawadhu'.
  3. Jaga hati dengan tiga perkara: ikhlas dalam setiap amal, nasihat kepada pemimpin dengan cara yang baik, dan berpegang teguh pada jamaah kaum muslimin.
  4. Niatkan menyampaikan ilmu karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau dianggap hebat.
  5. Jika ragu tentang kebenaran suatu ilmu, tanyakan kepada ulama yang terpercaya sebelum menyampaikannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?