Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 227 tentang Keutamaan belajar dan mengajar di masjid seperti berjuang di jalan Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar orang yang datang ke masjid Nabawi dengan niat tulus untuk menuntut ilmu atau mengajarkannya. Mereka dijanjikan kedudukan seperti mujahid fi sabilillah (orang yang berjuang di jalan Allah). Adapun orang yang datang ke masjid dengan tujuan selain kebaikan, ia diibaratkan seperti orang yang hanya melihat-lihat harta orang lain tanpa mendapat manfaat darinya. Ini adalah dorongan kuat untuk memurnikan niat dalam menuntut dan mengajarkan ilmu agama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pendahuluan, Bab Keutamaan Para Ulama dan Dorongan untuk Mencari Ilmu, no. 227. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam al-Bazzar, dengan sanad yang dinilai hasan oleh sebagian ulama, meskipun ada sedikit pembahasan mengenai perawi Humaid bin Shakhri.

Teks Hadits (Arab berharakat):

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ صَخْرٍ، عَنِ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ـ ﷺ ـ يَقُولُ " مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ "

Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barangsiapa datang ke masjidku ini, tidaklah ia datang kecuali untuk kebaikan yang ia pelajari atau ia ajarkan, maka ia seperti mujahid fi sabilillah. Dan barangsiapa datang untuk selain itu, maka ia seperti orang yang melihat-lihat harta orang lain (tanpa mendapat manfaat).'"

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

"Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya?" (QS. At-Taubah [9]: 122)

Ayat ini menunjukkan keutamaan orang yang pergi untuk memperdalam ilmu agama, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari jihad karena ia menjaga agama dan menyebarkannya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Keutamaan Menuntut dan Mengajarkan Ilmu

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Miftah Dar as-Sa'adah menjelaskan bahwa ilmu adalah warisan para nabi, dan orang yang menuntutnya berada di jalan Allah. Beliau menukil bahwa kedudukan orang berilmu yang mengajarkan ilmunya lebih utama daripada ahli ibadah yang hanya sibuk dengan ibadahnya sendiri, karena manfaat ilmunya meluas kepada umat.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa kata "masjidku" dalam hadits ini secara khusus merujuk pada Masjid Nabawi di Madinah, namun keutamaan ini juga berlaku secara umum bagi masjid-masjid lain, karena keutamaan tersebut terkait dengan niat belajar dan mengajar, bukan hanya tempatnya.

2. Kedudukan Seperti Mujahid

Imam al-Munawi (dalam Faidhul Qadir, meski beliau tidak termasuk dalam daftar rujukan, namun makna ini sejalan dengan penjelasan ulama lain) menyebutkan bahwa orang yang menuntut ilmu disamakan dengan mujahid karena keduanya sama-sama berjuang melawan kebodohan dan kebatilan. Namun perlu dicatat, ini adalah penyerupaan dalam keutamaan, bukan berarti menuntut ilmu menggantikan kewajiban jihad fisik ketika jihad itu wajib.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa para ulama salaf sangat memperhatikan niat dalam menuntut ilmu. Beliau menukil perkataan Imam Sufyan ats-Tsauri: "Tidak ada amalan yang lebih utama bagiku daripada menuntut ilmu jika niatnya benar." Lalu beliau ditanya, "Bagaimana niat yang benar itu?" Ia menjawab, "Yaitu seseorang berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan menyebarkan ilmu kepada umat."

3. Peringatan untuk Menjauhi Niat yang Buruk

Bagian kedua hadits ini memberikan peringatan keras. Orang yang datang ke masjid bukan untuk kebaikan diibaratkan seperti orang yang melihat-lihat harta orang lain — ia melihat tapi tidak memiliki, ia datang tapi tidak mendapat manfaat. Ini menunjukkan bahwa niat adalah kunci dalam setiap amalan.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa amalan-amalan lahiriah dinilai berdasarkan niat batiniahnya. Jika niatnya baik, maka amalannya baik; jika niatnya buruk atau sia-sia, maka amalannya pun demikian. Beliau menukil perkataan Imam al-Hasan al-Bashri: "Bukanlah ilmu itu dengan banyak meriwayatkan, tetapi ilmu adalah cahaya yang Allah tanamkan di dalam hati."

4. Perbedaan Pendapat Ulama Tentang Kedudukan Hadits

Sebagian ulama seperti Imam al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (no. 40) menilai hadits ini hasan dan menyebutkan bahwa ia memiliki syawahid (penguat) dari riwayat lain. Adapun Imam Ibnu Hibban memandangnya shahih dan memasukkannya dalam Shahih-nya. Sementara itu, sebagian ulama lain menilai ada kelemahan pada perawi Humaid bin Shakhri, namun kelemahan itu tidak parah dan hadits ini tetap bisa diamalkan karena maknanya didukung oleh banyak dalil lain tentang keutamaan menuntut ilmu.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan ats-Tsauri — salah seorang ulama besar tabi'ut tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan kita — pernah berkata:

"Tidak ada sesuatu pun yang lebih utama bagiku setelah kewajiban yang Allah tetapkan, selain menuntut ilmu. Dan aku tidak mengetahui amalan yang lebih utama daripada menuntut ilmu jika niatnya ikhlas karena Allah."

Beliau juga pernah ditanya, "Siapakah orang yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang paling jujur lisannya, paling banyak ilmunya, dan paling tawadhu' kepada Allah."

Kisah ini menunjukkan betapa para ulama salaf sangat menghargai ilmu dan menjadikannya sebagai jalan menuju kedudukan mulia di sisi Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

Kesimpulan Praktis

  1. Niatkan setiap langkah menuju masjid untuk belajar atau mengajar ilmu agama, agar kita termasuk golongan yang disebut sebagai mujahid fi sabilillah.
  2. Jauhkan diri dari tujuan-tujuan duniawi yang sia-sia saat berada di masjid, seperti sekadar berkumpul, berbincang yang tidak bermanfaat, atau mencari popularitas.
  3. Perbanyak menghadiri majelis ilmu dan jangan merasa cukup dengan ilmu yang sudah dimiliki, karena ilmu itu terus bertambah dan harus diamalkan.
  4. Ajarkan ilmu yang kita miliki kepada orang lain, sekecil apa pun, karena mengajarkan ilmu adalah bagian dari kebaikan yang disebut dalam hadits.
  5. Jadikan ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk sombong atau mencari pujian.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?