Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah atsar (perkataan sahabat) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang berisi nasihat penting: ketika seorang perawi menyampaikan hadits dari Nabi ﷺ, maka kita tidak boleh serta-merta menolaknya dengan membuat perumpamaan atau analogi sendiri. Ini mengajarkan kita untuk menerima hadits dengan penuh penghormatan, karena hadits adalah wahyu yang maknanya berasal dari Allah dan lafazhnya dari Nabi ﷺ. Kita tidak boleh menolak hadits hanya karena akal kita merasa "aneh" atau tidak cocok, lalu membuat perumpamaan yang bisa mengubah maknanya.
Rujukan Ulama & Dalil
Atsar Abu Hurairah ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pendahuluan, Bab "Mengagungkan Hadits Rasulullah ﷺ dan Mengancam Siapa yang Menentangnya" (no. 22). Sanadnya dari Muhammad bin 'Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah.
Atsar ini juga memiliki penguat dari riwayat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang disebutkan di akhir hadits.
Dalil Al-Qur'an yang relevan tentang kedudukan hadits:
QS. An-Najm [53]: 3-4
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."
Dalil hadits yang menguatkan larangan menolak hadits dengan akal semata:
Hadits dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ
"Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan Al-Kitab (Al-Qur'an) dan yang semisalnya (Sunnah) bersamanya." (HR. Abu Dawud, no. 4604; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Kaitan dengan ulama: Imam Al-Barbahari dalam kitabnya Syarhus Sunnah menegaskan bahwa Sunnah adalah penjelas Al-Qur'an, dan tidak boleh menolak hadits shahih hanya karena bertentangan dengan akal atau analogi.
Penjelasan Rinci
Atsar Abu Hurairah ini mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang adab terhadap hadits Nabi ﷺ. Beliau berkata kepada seseorang: "Wahai anak saudaraku, ketika aku menceritakan sebuah hadits dari Rasulullah ﷺ kepadamu, maka janganlah kamu mencoba membuat contoh untuknya."
Maksudnya adalah: janganlah engkau menolak hadits dengan membuat perumpamaan atau analogi yang tidak sesuai. Sebagian orang ketika mendengar hadits yang terasa asing bagi akalnya, mereka langsung berkata, "Ini maksudnya begini dan begitu" dengan membuat perumpamaan yang sebenarnya mengubah makna hadits tersebut.
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya I'lamul Muwaqqi'in menjelaskan bahwa para sahabat sangat menjaga hadits Nabi ﷺ. Mereka tidak berani menakwilkan hadits dengan akal mereka sendiri, karena mereka tahu bahwa hadits adalah wahyu. Beliau menukil perkataan sebagian ulama bahwa siapa yang menolak hadits shahih dengan akalnya, maka ia telah menempatkan akalnya di atas wahyu.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini bukan berarti kita tidak boleh memahami hadits sama sekali. Tetapi yang dilarang adalah membuat perumpamaan yang bertujuan untuk menolak atau mengubah makna hadits. Adapun memahami hadits sesuai kaidah bahasa Arab dan ushul fiqih, maka itu diperbolehkan bahkan dianjurkan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga menegaskan dalam banyak fatwanya bahwa hadits shahih tidak boleh ditolak dengan akal, qiyas (analogi), atau perasaan. Karena syariat datang dari Allah yang Maha Mengetahui, sedangkan akal manusia terbatas.
Perkataan Abu Hurairah ini juga menunjukkan betapa tingginya semangat para sahabat dalam menjaga hadits. Mereka memahami bahwa hadits adalah sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an, dan tidak boleh diperlakukan dengan seenaknya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau pernah ditanya, "Wahai Abu Hurairah, mengapa engkau lebih banyak meriwayatkan hadits daripada sahabat yang lain?"
Beliau menjawab: "Karena orang-orang Muhajirin sibuk dengan perdagangan mereka di pasar, dan orang-orang Anshar sibuk dengan ladang mereka. Sedangkan aku adalah orang miskin yang selalu menemani Rasulullah ﷺ, aku hadir ketika mereka tidak hadir, dan aku hafal ketika mereka lupa."
Kemudian beliau menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: "Barangsiapa yang membentangkan kainnya di hadapanku ketika aku menyampaikan hadits, lalu ia mengambilnya, maka ia tidak akan melupakan apa yang ia dengar dariku." Maka Abu Hurairah membentangkan kainnya dan mengambilnya, dan sejak saat itu beliau tidak pernah melupakan hadits yang didengarnya. (HR. Al-Bukhari, no. 118)
Kisah ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Abu Hurairah terhadap hadits, sehingga wajar jika beliau sangat menjaga dan mengagungkan hadits, serta melarang orang membuat perumpamaan yang bisa merusak maknanya.
Kesimpulan Praktis
- Terima hadits dengan penuh penghormatan — Hadits adalah wahyu kedua setelah Al-Qur'an, sehingga tidak boleh ditolak dengan akal atau perasaan semata.
- Jangan membuat perumpamaan untuk menolak hadits — Jika ada hadits yang terasa sulit dipahami, maka tanyakan kepada ulama, jangan langsung menolak atau menakwilkan dengan akal sendiri.
- Pahami hadits sesuai kaidah ulama — Memahami hadits harus melalui kaidah bahasa Arab, ushul fiqih, dan penjelasan para ulama yang kompeten.
- Rujuk kepada ulama — Jika ada hadits yang musykil (sulit), kembalikan kepada ulama Ahlus Sunnah yang memahami dalil dan kaidah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.