Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 218 tentang Keutamaan Al-Qur'an mengangkat derajat seseorang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa Al-Qur'an adalah sebab tertingginya derajat seseorang di sisi Allah, dan juga bisa menjadi sebab kerendahan bagi yang meninggalkannya. Yang menjadi ukuran kemuliaan bukanlah status sosial, keturunan, atau harta, melainkan ilmu dan amal terhadap Kitabullah. Bahkan seorang budak yang ahli Al-Qur'an lebih layak memimpin daripada orang merdeka yang tidak berilmu.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Mukaddimah, Bab Keutamaan Siapa yang Belajar Al-Qur'an dan Mengajarkannya, no. 218. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:

حَدَّثَنَا أَبُو مَرْوَانَ، مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْعُثْمَانِيُّ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَامِرِ بْنِ وَاثِلَةَ أَبِي الطُّفَيْلِ، أَنَّ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ، لَقِيَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ بِعُسْفَانَ - وَكَانَ عُمَرُ اسْتَعْمَلَهُ عَلَى مَكَّةَ - فَقَالَ عُمَرُ مَنِ اسْتَخْلَفْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِي قَالَ اسْتَخْلَفْتُ عَلَيْهِمُ ابْنَ أَبْزَى . قَالَ وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى قَالَ رَجُلٌ مِنْ مَوَالِينَا . قَالَ عُمَرُ فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى قَالَ إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ قَاضٍ . قَالَ عُمَرُ أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ ـ ﷺ ـ قَالَ " إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ "

Makna ringkas: Dari Nafi' bin Abdul Harits, ia bertemu Umar bin Khattab di 'Usfan. Umar bertanya tentang siapa yang diangkat menjadi wakilnya di Makkah. Nafi' menjawab bahwa ia mengangkat Ibnu Abza, seorang budak yang merdeka. Umar heran, lalu Nafi' menjelaskan bahwa Ibnu Abza adalah qari' (ahli baca) Kitabullah, alim tentang fara'id (warisan), dan seorang hakim. Maka Umar pun mengingatkan sabda Nabi ﷺ bahwa Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al-Qur'an dan merendahkan yang lain dengannya.

Ayat yang relevan dengan makna hadits ini, firman Allah Ta'ala:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Yarfa'illāhul-ladzīna āmanū minkum walladzīna ūtul-'ilma darajāt

"Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Kemuliaan di sisi Allah berdasarkan ilmu dan amal, bukan nasab atau status sosial

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang menghafal Al-Qur'an dan memahaminya, serta bahwa seorang budak yang alim lebih utama dipimpin daripada orang merdeka yang bodoh. Umar radhiyallahu 'anhu tidak menolak pengangkatan Ibnu Abza setelah mendengar alasannya, bahkan beliau menguatkan dengan sabda Nabi ﷺ.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata bahwa kemuliaan hakiki adalah dengan ilmu dan iman, bukan dengan harta dan keturunan. Beliau menukil bahwa para sahabat mengangkat budak yang alim sebagai pemimpin karena ilmunya.

2. Al-Qur'an bisa mengangkat dan merendahkan

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah timbangan kemuliaan. Siapa yang berpegang teguh, mengamalkan, dan mendakwahkannya, maka Allah mengangkat derajatnya di dunia dan akhirat. Sebaliknya, siapa yang berpaling darinya, maka Allah merendahkannya, meskipun ia memiliki kedudukan sosial yang tinggi.

3. Kriteria pemimpin dalam Islam

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mengangkat seorang budak yang merdeka menjadi pemimpin jika ia memiliki kualifikasi ilmu dan keadilan. Yang menjadi syarat kepemimpinan adalah kemampuan dan ilmu, bukan status keturunan.

4. Kisah ini juga menunjukkan adab Umar dalam bertanya dan mengecek kinerja bawahannya

Umar radhiyallahu 'anhu tidak langsung menerima begitu saja laporan Nafi', tetapi bertanya detail. Ini pelajaran tentang pentingnya evaluasi dan transparansi dalam kepemimpinan.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu sangat perhatian terhadap urusan rakyatnya. Beliau sering bertanya kepada para gubernurnya tentang siapa yang mereka angkat sebagai wakil, karena beliau ingin memastikan bahwa yang memimpin umat adalah orang-orang yang layak.

Ketika Nafi' bin Abdul Harits menjawab bahwa ia mengangkat Ibnu Abza — seorang mantan budak — Umar sempat heran. Namun ketika mendengar bahwa Ibnu Abza adalah qari' Al-Qur'an, alim tentang fara'id, dan seorang hakim yang baik, Umar pun teringat sabda Nabi ﷺ. Beliau tidak lagi mempersoalkan statusnya, karena dalam Islam yang mulia adalah yang bertakwa dan berilmu.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa ukuran kemuliaan bukanlah jabatan, harta, atau keturunan, melainkan ilmu dan amal. Bahkan seorang mantan budak bisa menjadi pemimpin kaum muslimin di kota suci Makkah karena ilmunya.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersungguh-sungguhlah mempelajari Al-Qur'an, baik membaca, memahami, maupun mengamalkannya, karena ia adalah sebab ketinggian derajat.
  2. Jangan meremehkan orang lain karena status sosialnya, karena bisa jadi ia lebih mulia di sisi Allah karena ilmunya.
  3. Jadikan ilmu sebagai kriteria utama dalam memilih pemimpin dan pejabat, bukan sekadar kedekatan atau kepentingan duniawi.
  4. Jauhkan diri dari sikap sombong dengan nasab, harta, atau jabatan, karena semua itu tidak bernilai di sisi Allah tanpa iman dan ilmu.
  5. Jadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar bacaan tanpa pemahaman dan pengamalan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?