Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan dua hal pokok: pertama, bertakwa kepada Allah dalam setiap usaha mencari rezeki; kedua, bersikap moderat (tidak rakus dan tidak malas) dalam mencarinya. Intinya, rezeki setiap jiwa sudah ditetapkan Allah dan pasti sampai, meskipun lambat. Karena itu, kita dilarang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya; ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."
(QS. Hud [11]: 6)
Hadits:
Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Perdagangan, Bab Ekonomi dalam Mencari Kehidupan, no. 2144, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga memiliki jalur lain yang memperkuatnya.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Majah (w. 273 H) adalah seorang ulama hadits terkemuka, murid dari Imam Ahmad bin Hanbal dan lainnya. Beliau termasuk dalam daftar ulama rujukan kita.
- Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H) dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (no. 2851) menilai hadits ini hasan. Beliau adalah ulama abad 14 H yang sangat ahli dalam bidang hadits.
- Syaikh Abdul Aziz bin Baz (w. 1420 H) seringkali menggunakan hadits ini dalam nasihat-nasihatnya tentang mencari rezeki yang halal dan tawakal kepada Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung pelajaran yang sangat agung tentang akidah (keyakinan terhadap takdir) dan muamalah (perilaku dalam mencari rezeki).
- "Bertakwalah kepada Allah" (اتَّقُوا اللَّهَ):
Ini adalah wasiat pertama. Takwa adalah fondasi segala amal. Dalam konteks mencari rezeki, takwa berarti menjaga diri dari perbuatan yang diharamkan Allah, seperti mencuri, menipu, riba, suap, dan segala bentuk kecurangan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa takwa adalah melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ini adalah kunci keberkahan rezeki, sebagaimana firman Allah:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS. Ath-Thalaq [65]: 2-3)
- "Dan bersikaplah moderat dalam mencari rezeki" (وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ):
Kata ajmilu (أَجْمِلُوا) berasal dari kata jamala yang berarti indah, baik, atau moderat. Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa maknanya adalah mencari rezeki dengan cara yang baik, tidak rakus (hirs), tidak tamak, dan tidak melampaui batas. Ini adalah sikap pertengahan antara dua kutukan: malas dan pasrah (tidak berusaha) di satu sisi, serta rakus dan menghalalkan segala cara di sisi lain. Seorang muslim diperintahkan untuk bekerja keras, tetapi dengan cara yang diridhai Allah dan sesuai kemampuan.
- "Karena tidak ada jiwa yang akan mati hingga ia mendapatkan semua rezekinya" (فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا):
Ini adalah pilar keyakinan yang sangat penting. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa keyakinan ini akan melahirkan sikap tawakal (berserah diri) yang benar. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi berusaha dengan sekuat tenaga sambil meyakini bahwa hasilnya sepenuhnya di tangan Allah. Rezeki yang telah ditetapkan untuk kita tidak akan tertukar dengan orang lain, dan tidak akan berkurang sedikit pun. Kalaupun rezeki itu lambat datang, ia pasti akan sampai. Keyakinan ini membuat hati tenang dan tidak gelisah.
- "Ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram" (خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ):
Ini adalah kesimpulan dari seluruh nasihat. Setelah yakin bahwa rezeki sudah dijamin, maka tidak ada alasan untuk menempuh jalan yang haram. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang seorang yang mencari rezeki dengan cara yang syubhat, beliau menjawab, "Tidak, tinggalkanlah. Sesungguhnya Allah telah menjamin rezekimu, tetapi Dia tidak menjamin surga untukmu jika engkau mengambil yang haram." (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam Al-Amru bil Ma'ruf). Mencari yang halal adalah ibadah, dan meninggalkan yang haram adalah ketaatan yang akan mendatangkan keberkahan di dunia dan akhirat.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat yang mulia, Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
"Sesungguhnya aku melihat seorang laki-laki yang sangat aku kagumi karena semangatnya dalam mencari rezeki. Lalu aku berkata, 'Wahai hamba Allah, apakah rezeki yang ada di tangan Allah itu lebih engkau jamin daripada rezeki yang ada di tangan manusia?' Orang itu menjawab, 'Tidak, demi Allah. Bahkan aku lebih yakin dengan rezeki yang ada di sisi Allah.' Maka Umar berkata, 'Benar engkau. Jika engkau yakin demikian, mengapa engkau begitu bersemangat?' Orang itu menjawab, 'Wahai Amirul Mukminin, aku mencari rezeki untuk menjauhkan diriku dari meminta-minta kepada manusia, dan untuk mencukupi keluargaku, serta untuk bersedekah kepada orang lain. Bukankah ini adalah ketaatan?' Maka Umar pun tersenyum dan berkata, 'Ini adalah ketaatan yang baik.'" (Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dengan sanad yang shahih).
Hikmah:
Kisah ini menunjukkan bahwa semangat dalam mencari rezeki adalah terpuji, selama dilandasi oleh niat yang benar (taat kepada Allah) dan keyakinan yang kuat bahwa rezeki berasal dari Allah. Semangat ini tidak boleh membuat seseorang lupa diri hingga menghalalkan segala cara.
Kesimpulan Praktis
- Perkuat Tawakal: Yakinlah bahwa rezeki Anda sudah ditetapkan Allah dan pasti sampai. Keyakinan ini akan melahirkan ketenangan hati.
- Usaha yang Halal: Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi pastikan cara dan hasilnya halal. Jangan pernah tergiur dengan jalan pintas yang haram.
- Sikap Moderat: Jangan malas dan jangan rakus. Bekerjalah sesuai kemampuan dan jangan sampai melalaikan kewajiban utama seperti shalat dan berbakti kepada orang tua.
- Perbanyak Istigfar dan Doa: Mintalah kepada Allah rezeki yang halal, baik, dan berkah. Istigfar adalah salah satu kunci pembuka rezeki.
- Qana'ah (Rasa Cukup): Belajarlah untuk merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Ini adalah kekayaan hati yang sejati.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.