Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 2142 tentang Anjuran mencari rezeki dengan cara terbaik

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah nasihat agung dari Nabi ﷺ agar kita bersikap baik, santun, dan tidak berlebihan (tidak rakus) dalam mencari dunia. Beliau mengingatkan bahwa setiap orang telah ditetapkan dan dimudahkan oleh Allah menuju apa yang telah diciptakan untuknya. Artinya, rezeki sudah diatur, maka carilah dengan cara yang baik dan tenang, jangan sampai menghalalkan segala cara atau membuat hati menjadi gelisah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَجْمِلُوا فِي طَلَبِ الدُّنْيَا فَإِنَّ كُلًّا مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

Artinya: "Bersikap baiklah (santunlah) dalam mencari dunia, karena sesungguhnya setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah diciptakan untuknya." (HR. Ibnu Majah, Kitab Perdagangan, Bab Ekonomi dalam Mencari Kehidupan, no. 2142)

Hadits ini juga memiliki penguat dari riwayat lain, di antaranya dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Sungguh, setiap orang telah ditulis rezekinya, ajalnya, amalnya, serta celaka atau bahagianya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan makna hadits ini. Di antaranya:

  1. Imam Al-Bukhari membawakan hadits tentang takdir dan rezeki dalam Shahih-nya untuk menjelaskan bahwa keyakinan kepada takdir adalah bagian dari iman.
  2. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Jami' Al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dorongan untuk bertawakal dan tidak terlalu berambisi terhadap dunia.
  3. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menekankan bahwa sikap ijmal (baik dan santun) dalam mencari dunia adalah tanda kebenaran tawakal seseorang.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "ajmilu fi thalabid dunya" mengandung beberapa makna penting:

Pertama: Makna "Ajmilu" (أَجْمِلُوا)

Kata ini berasal dari al-jamal yang berarti keindahan dan kebaikan. Maksudnya adalah carilah dunia dengan cara yang indah, baik, dan tidak berlebihan. Jangan sampai seseorang menjadi budak dunia, menghalalkan segala cara, atau terlalu tamak sehingga melupakan akhirat.

Kedua: Makna "Kullun muyassarun lima khuliqa lahu"

Artinya setiap orang telah ditetapkan takdirnya oleh Allah sejak azali. Allah telah menuliskan rezeki, ajal, dan amal setiap hamba. Maka tidak perlu saling mendengki, tidak perlu khawatir berlebihan, karena apa yang telah ditetapkan pasti akan sampai.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa keyakinan kepada takdir melahirkan ketenangan hati. Seorang hamba yang yakin bahwa rezekinya telah dijamin oleh Allah akan mencari dunia dengan hati yang tenang, tidak gelisah, dan tidak iri kepada orang lain.

Ketiga: Keseimbangan Antara Usaha dan Tawakal

Hadits ini tidak melarang bekerja atau mencari nafkah. Justru Nabi ﷺ mengajarkan agar kita bekerja dengan baik, tetapi hati tetap bersandar kepada Allah. Inilah makna tawakal yang diajarkan para ulama, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal bahwa tawakal adalah amalan hati, sedangkan badan tetap berusaha.

Keempat: Hikmah dari Sahabat dan Tabi'in

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Demi Allah, aku tidak pernah melihat keyakinan yang lebih indah daripada seseorang yang tidak menjadikan dunianya sebagai tujuan utama, tetapi menjadikannya sebagai bekal menuju akhirat." Ini sejalan dengan hadits di atas.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Humaid As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu—beliau adalah perawi hadits ini—bahwa para sahabat hidup dengan sederhana. Mereka bekerja, berdagang, dan bertani, tetapi hati mereka tidak terikat kepada dunia. Mereka mencari dunia sekadar untuk bekal ibadah dan menafkahi keluarga.

Suatu ketika, ada seorang sahabat yang datang kepada Nabi ﷺ dengan keadaan gelisah karena khawatir rezekinya sempit. Maka Nabi ﷺ mengajarkan doa dan sikap tawakal. Dari sini kita belajar bahwa kecemasan berlebihan terhadap rezeki adalah penyakit hati yang harus diobati dengan keyakinan kepada takdir Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Carilah dunia dengan cara yang baik, halal, dan tidak berlebihan.
  2. Yakinlah bahwa rezeki setiap orang telah ditetapkan oleh Allah sejak azali.
  3. Jangan terlalu cemas, iri, atau dengki terhadap rezeki orang lain.
  4. Seimbangkan antara usaha lahiriah dan tawakal batiniah.
  5. Jadikan dunia sebagai bekal menuju akhirat, bukan tujuan utama.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.