Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita bahwa kekayaan itu sendiri tidak tercela selama pemiliknya bertakwa kepada Allah. Namun, yang lebih utama dari sekadar kaya harta adalah kesehatan badan yang digunakan untuk taat, dan nikmat yang paling besar adalah hati yang tenang dan merasa cukup (qana'ah) serta lapang dada. Hadits ini juga menunjukkan akhlak Nabi ﷺ yang ramah dan bersahaja dalam bermajelis.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Perdagangan, Bab Anjuran untuk Mencari Penghasilan, nomor 2141. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak.
Berikut teks hadits dalam bahasa Arab beserta artinya:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خُبَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَمِّهِ، قَالَ كُنَّا فِي مَجْلِسٍ فَجَاءَ النَّبِيُّ ـ ﷺ ـ وَعَلَى رَأْسِهِ أَثَرُ مَاءٍ فَقَالَ لَهُ بَعْضُنَا نَرَاكَ الْيَوْمَ طَيِّبَ النَّفْسِ. فَقَالَ "أَجَلْ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ". ثُمَّ أَفَاضَ الْقَوْمُ فِي ذِكْرِ الْغِنَى فَقَالَ "لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ"
Artinya: "Dari Mu'adh bin Abdullah bin Khubaib, dari ayahnya, dari pamannya, ia berkata: 'Kami sedang duduk dalam sebuah majelis, lalu Nabi ﷺ datang dengan bekas air di kepalanya. Sebagian kami berkata: 'Kami melihat engkau hari ini dalam keadaan baik (lapang dada).' Beliau bersabda: 'Ya, dan segala puji bagi Allah.' Kemudian orang-orang berbicara tentang kekayaan, maka beliau bersabda: 'Tidak mengapa (tidak tercela) kekayaan bagi orang yang bertakwa, dan kesehatan bagi orang yang bertakwa itu lebih baik daripada kekayaan, dan lapangnya hati adalah termasuk nikmat.'"
Adapun dalil dari Al-Qur'an yang mendukung makna hadits ini adalah firman Allah Ta'ala:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۙ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS. Ath-Thalaq [65]: 2-3)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan jaminan Allah bagi orang yang bertakwa, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Kekayaan yang diperoleh dengan ketakwaan akan menjadi berkah dan tidak melalaikan pemiliknya dari mengingat Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
1. Kekayaan Tidak Tercela Jika Disertai Takwa
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menjelaskan bahwa kekayaan pada hakikatnya adalah sarana, bukan tujuan. Jika digunakan untuk ketaatan, maka ia menjadi kebaikan. Jika digunakan untuk kemaksiatan, maka ia menjadi keburukan. Beliau menukil perkataan sebagian salaf bahwa "kekayaan adalah hamba bagi orang yang bertakwa, bukan tuan baginya."
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya, tetapi yang dilarang adalah kecintaan berlebihan kepada harta yang membuat seseorang lalai dari mengingat Allah. Beliau mencontohkan para sahabat seperti Abu Bakar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf yang kaya raya namun tetap istiqamah di jalan Allah.
2. Kesehatan Lebih Utama daripada Kekayaan
Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadir menjelaskan bahwa kesehatan yang dimaksud di sini adalah kesehatan badan dan hati yang digunakan untuk beribadah. Orang yang sehat tetapi miskin lebih baik daripada orang yang kaya tetapi sakit, karena dengan kesehatan ia bisa beribadah dengan optimal, mencari ilmu, dan bekerja mencari rezeki yang halal.
Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadits-hadits tentang kesehatan menyebutkan bahwa nikmat kesehatan seringkali tidak disadari oleh manusia hingga mereka kehilangannya. Maka seorang mukmin hendaknya bersyukur atas kesehatan yang dimilikinya dengan menggunakannya untuk ketaatan.
3. Lapang Hati (Thibun Nafs) adalah Nikmat Terbesar
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa thibun nafs (hati yang tenang dan lapang) adalah nikmat yang paling besar setelah iman. Karena dengan hati yang tenang, seseorang merasakan kebahagiaan dalam ketaatan, tidak gelisah dengan urusan dunia, dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa thibun nafs ini lahir dari rasa qana'ah (merasa cukup) dan tawakkal kepada Allah. Orang yang hatinya tenang akan merasakan kenikmatan yang tidak bisa dibeli dengan harta, karena ketenangan hati adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
4. Adab Nabi ﷺ dalam Bermajelis
Hadits ini juga menunjukkan akhlak Nabi ﷺ yang rendah hati. Beliau datang ke majelis para sahabat dengan kondisi biasa, tidak merasa enggan untuk duduk bersama mereka. Ketika ditanya tentang kondisinya, beliau menjawab dengan jujur dan memuji Allah. Ini mengajarkan kita untuk selalu bersikap ramah dan terbuka dalam pergaulan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling kaya. Ketika ia datang ke Madinah dalam keadaan miskin, Rasulullah ﷺ mempersaudarakannya dengan Sa'd bin ar-Rabi' yang menawarkan setengah hartanya. Namun Abdurrahman dengan mulianya menolak dan berkata, "Berkahilah aku dalam dagangku, tunjukkan aku ke pasar."
Dengan kejujuran dan ketakwaannya, Abdurrahman bin Auf menjadi saudagar yang sangat sukses. Ia menggunakan kekayaannya untuk berinfak di jalan Allah. Diriwayatkan bahwa ia pernah bersedekah sebanyak 40.000 dinar, dan ketika ditanya mengapa ia tidak menyimpan untuk dirinya, ia menjawab, "Aku khawatir jika aku menyimpannya, maka akan menjadi beban bagiku di akhirat."
Kisah ini menunjukkan bahwa kekayaan tidak menghalangi seseorang untuk menjadi hamba yang dicintai Allah, selama ia menjaganya dengan ketakwaan dan menggunakannya untuk kebaikan.
Kesimpulan Praktis
- Jangan memandang hina orang kaya, karena kekayaan tidak tercela jika disertai takwa dan digunakan untuk kebaikan.
- Bersyukurlah atas kesehatan, karena kesehatan adalah nikmat yang lebih besar daripada harta. Gunakan tubuh yang sehat untuk beribadah dan berbuat kebaikan.
- Jaga ketenangan hati, karena hati yang tenang dan merasa cukup adalah nikmat terbesar. Perbanyak dzikir dan tawakkal kepada Allah agar hati menjadi lapang.
- Teladani akhlak Nabi ﷺ dalam bermajelis, yaitu ramah, rendah hati, dan tidak sombong dengan kondisi yang dimiliki.
- Jadikan takwa sebagai ukuran utama dalam menilai kekayaan dan kesehatan, bukan sekadar banyaknya harta atau sehatnya badan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.