Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat agung dari Nabi ﷺ. Beliau menyebutkan bahwa manusia yang paling baik adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain. Ini menggabungkan antara memperbaiki diri sendiri dengan ilmu dan mengajak orang lain kepada kebaikan. Derajat ini sangat tinggi di sisi Allah, karena Al-Qur'an adalah kalamullah dan mempelajarinya adalah sebaik-baik kesibukan.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Hadits Riwayat Imam Bukhari (tanpa sanad lengkap, sebagai penguat):
Hadits yang semakna diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Al-Bukhari, no. 5027)
2. Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
"Kemudian Kitab itu (Al-Qur'an) Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar." (QS. Fathir [35]: 32)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dipilih Allah untuk mewarisi Al-Qur'an adalah mereka yang paling utama, dan di antara mereka yang paling tinggi derajatnya adalah yang sabiqun bil khairat (berlomba dalam kebaikan), yaitu yang mempelajari dan mengajarkannya dengan ikhlas.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (Kitab Fadhail Al-Qur'an) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya. Beliau menukil bahwa makna "belajar" mencakup mempelajari lafazh dan maknanya, dan "mengajar" mencakup mengajarkan bacaan dan pemahamannya.
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (meskipun hadits ini di Bukhari, namun beliau membahas bab serupa) menegaskan bahwa keutamaan ini mencakup semua orang yang belajar dan mengajar, baik secara langsung maupun melalui tulisan, dan ini adalah keumuman lafazh hadits.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya adalah sebaik-baik amal, karena ia adalah warisan para nabi dan merupakan jalan menuju ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa faedah penting:
- Keutamaan Al-Qur'an: Hadits ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah seutama-utama ilmu. Mempelajarinya lebih utama daripada mempelajari ilmu duniawi lainnya, karena ia adalah kalamullah yang menjadi petunjuk hidup.
- Makna "Belajar" dan "Mengajar": Imam al-Khattabi (dalam Ma'alim as-Sunan, meskipun beliau tidak dalam daftar, namun penjelasan ini dinukil oleh ulama lain) dan para ulama lain dari kalangan salaf seperti Imam Sufyan ats-Tsauri dan Imam Waki' bin al-Jarrah (yang merupakan perawi hadits ini) memahami bahwa "belajar" mencakup:
- Belajar lafazhnya (tahsin, tajwid, hafalan).
- Belajar maknanya (tafsir, pemahaman).
- Belajar hukum-hukumnya (fiqih).
Dan "mengajar" mencakup mengajarkan semua itu kepada orang lain.
- Urutan "Belajar" Sebelum "Mengajar": Ini menunjukkan bahwa seseorang harus mendahulukan belajar sebelum mengajar. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftah Dar as-Sa'adah menjelaskan bahwa ilmu harus didahulukan sebelum amal dan dakwah. Seseorang tidak akan mampu mengajarkan dengan benar kecuali setelah ia belajar dengan benar.
- Keumuman Hadits: Hadits ini bersifat umum, mencakup:
- Belajar dan mengajar di majelis-majelis ilmu.
- Belajar dan mengajar di sekolah-sekolah.
- Belajar dan mengajar melalui media (tulisan, rekaman, dll).
- Belajar dan mengajar dalam lingkup keluarga.
- Peringatan dari Riya': Imam Fudail bin 'Iyadh dikenal dengan perkataannya yang masyhur tentang ikhlas. Beliau mengingatkan bahwa amal yang paling berat bagi manusia adalah ikhlas, karena setan selalu menggoda orang yang belajar dan mengajar agar tujuannya bukan karena Allah. Maka, hadits ini juga menjadi motivasi untuk selalu meluruskan niat.
- Perbedaan Derajat: Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (saat menjelaskan hadits-hadits tentang keutamaan ilmu) menegaskan bahwa orang yang menggabungkan antara belajar dan mengajar lebih utama daripada yang hanya belajar saja, karena ia telah menggabungkan antara kebaikan untuk dirinya dan kebaikan untuk orang lain. Ini adalah derajat para nabi dan pewarisnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Abdurrahman as-Sulami (perawi hadits ini dari Utsman bin Affan) adalah seorang ulama besar dari kalangan tabi'in. Beliau dikenal sangat tekun mengajarkan Al-Qur'an. Disebutkan bahwa beliau mengajarkan Al-Qur'an di Masjid Kufah selama lebih dari 40 tahun. Beliau membaca Al-Qur'an kepada Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, kemudian mengajarkannya kepada generasi setelahnya.
Yang lebih menakjubkan, beliau mengajarkan Al-Qur'an kepada Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin (dua ulama besar yang masuk dalam daftar rujukan kita). Ini menunjukkan bahwa keberkahan hadits ini benar-benar terwujud: orang yang belajar dan mengajar Al-Qur'an akan diangkat derajatnya oleh Allah, dan ilmunya akan terus mengalir kepada generasi berikutnya. Hikmahnya, jangan pernah lelah belajar dan mengajar Al-Qur'an, karena pahalanya terus mengalir dan menjadi warisan berharga.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan dengan Ikhlas: Mulailah belajar Al-Qur'an dengan niat hanya karena Allah, bukan untuk pujian atau gelar.
- Belajar Secara Bertahap: Mulailah dari memperbaiki bacaan (tahsin), lalu lanjutkan dengan menghafal dan memahami maknanya. Jangan terburu-buru.
- Ajarkan Apa yang Dipelajari: Setelah belajar, jangan pelit ilmu. Ajarkan kepada keluarga, teman, atau siapa pun yang membutuhkan, sesuai kemampuan.
- Jadikan Al-Qur'an sebagai Prioritas: Di tengah kesibukan dunia, luangkan waktu khusus setiap hari untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an, baik membaca, menghafal, atau mempelajari tafsirnya.
- Jangan Merasa Cukup: Teruslah belajar dan perbaiki diri. Ilmu Al-Qur'an itu luas, dan setiap kali kita belajar, kita akan menemukan kedalaman baru.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.