Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat agung dari Nabi ﷺ. Beliau menyebutkan bahwa sebaik-baik dan paling utamanya manusia adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain. Ini menggabungkan antara memperbaiki diri dengan ilmu dan berdakwah menyampaikan kebaikan kepada sesama.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Ibnu Majah No. 211:
Dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sebaik-baik kalian (atau yang paling utama di antara kalian) adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Ibnu Majah no. 211, Shahih menurut Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5027) dari sahabat yang sama, Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya."
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Dia mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Ali 'Imran [3]: 164)
Ayat ini menunjukkan bahwa tugas utama Rasulullah ﷺ adalah mengajarkan Al-Qur'an, dan ini adalah sebaik-baik amal yang dicontohkan kepada umatnya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung keutamaan yang sangat besar bagi para penuntut ilmu Al-Qur'an dan para pengajarnya. Mari kita rinci beberapa poin penting:
1. Makna "Khairukum" (Sebaik-baik kalian) dan "Afdlakum" (Paling utama di antara kalian)
Dalam riwayat Ibnu Majah ini, ada dua lafaz dari dua perawi yang berbeda. Syu'bah meriwayatkan dengan lafaz "خَيْرُكُمْ" (sebaik-baik kalian), sedangkan Sufyan (ats-Tsauri) meriwayatkan dengan lafaz "أَفْضَلُكُمْ" (paling utama di antara kalian). Kedua lafaz ini saling menguatkan dan menunjukkan makna yang sama, yaitu keutamaan yang paling tinggi.
2. Makna "Belajar Al-Qur'an dan Mengajarkannya"
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud "belajar Al-Qur'an" adalah mempelajari lafazhnya (bacaannya) dan maknanya (tafsirnya). Adapun "mengajarkannya" adalah menyampaikan apa yang telah dipelajari kepada orang lain, baik berupa bacaan maupun pemahaman.
Beliau juga menegaskan bahwa hadits ini mencakup belajar dan mengajar hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur'an, bukan hanya sekadar bacaannya. Karena tujuan utama Al-Qur'an diturunkan adalah untuk dipahami dan diamalkan.
3. Keutamaan yang Menggabungkan Dua Kebaikan
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya telah menggabungkan antara:
- Perbaikan diri sendiri (dengan belajar dan mengamalkan)
- Perbaikan orang lain (dengan mengajarkan dan mendakwahkan)
Inilah sifat para nabi dan orang-orang yang shiddiq. Mereka tidak pernah puas dengan kebaikan untuk dirinya sendiri, tetapi selalu ingin menyebarkan kebaikan itu kepada umat.
4. Apakah Hadits Ini Khusus untuk Ulama?
Tidak. Hadits ini bersifat umum untuk setiap Muslim. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menegaskan bahwa setiap orang yang belajar Al-Qur'an—baik sedikit maupun banyak—dan mengajarkannya kepada orang lain, maka ia termasuk dalam keutamaan hadits ini. Bahkan seorang ayah yang mengajarkan Al-Qur'an kepada anaknya, atau seorang ibu yang mengajarkan kepada anak-anaknya, termasuk dalam cakupan hadits ini.
5. Peringatan dari Imam Al-Bukhari
Imam Al-Bukhari rahimahullah meletakkan hadits ini dalam Shahih-nya pada "Kitab Keutamaan Al-Qur'an" dan membuat bab khusus: "Bab: Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." Ini menunjukkan perhatian besar para ulama terhadap hadits ini dan dorongan untuk mengamalkannya.
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah tentang seorang ulama besar dari kalangan tabi'in, Abu Abdurrahman As-Sulami—beliau adalah perawi hadits ini dari Utsman bin Affan. Beliau adalah seorang ulama Qurra' (ahli baca Al-Qur'an) yang sangat istimewa.
Disebutkan bahwa Abu Abdurrahman As-Sulami membaca Al-Qur'an dan mengajarkannya selama 40 tahun di Masjid Kufah. Beliau mengajarkan Al-Qur'an kepada empat generasi sahabat dan tabi'in. Yang lebih menakjubkan, beliau berkata: "Aku tidak pernah mengajarkan Al-Qur'an kepada seseorang melainkan aku merasa bahwa akulah yang paling membutuhkan untuk belajar darinya."
Beliau juga berkata: "Aku membaca Al-Qur'an kepada Utsman bin Affan, dan beliau meriwayatkan hadits ini kepadaku. Maka aku pun berpegang teguh dengan hadits ini dan mengamalkannya sepanjang hidupku."
Subhanallah! Inilah bukti nyata pengamalan hadits ini. Beliau tidak hanya menghafal hadits, tetapi menjadikannya sebagai program hidup. Selama 40 tahun beliau konsisten belajar dan mengajar Al-Qur'an, hingga ribuan murid belajar darinya. Di antara murid-murid beliau adalah Al-Asy'ats bin Abu Sya'tsa', 'Amr bin Murrah, dan Al-A'masy—para ulama besar tabi'in yang kemudian menjadi guru bagi para imam hadits.
Hikmah dari kisah ini: Keutamaan dalam hadits ini tidak hanya cukup dihafal, tetapi harus diamalkan dengan sungguh-sungguh. Abu Abdurrahman As-Sulami menunjukkan bahwa orang yang benar-benar memahami hadits ini akan menjadikannya sebagai jalan hidupnya.
Kesimpulan Praktis
Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan:
- Mulailah belajar Al-Qur'an — baik belajar membacanya dengan tajwid yang benar, maupun mempelajari makna dan tafsirnya. Jangan merasa cukup dengan hanya bisa membaca tanpa memahami.
- Ajarkan apa yang telah dipelajari — sekecil apa pun yang kita tahu, sampaikan kepada orang lain. Bisa kepada keluarga, tetangga, teman, atau melalui media yang kita miliki.
- Jangan menunda-nunda — mulailah dari sekarang, meskipun hanya satu ayat. Karena keutamaan ini tidak terbatas pada orang yang hafal 30 juz, tetapi mencakup siapa saja yang belajar dan mengajar.
- Niatkan karena Allah — agar ilmu yang kita pelajari dan ajarkan menjadi ibadah yang diterima, bukan untuk mencari pujian atau popularitas.
- Konsisten dan sabar — seperti Abu Abdurrahman As-Sulami yang istiqamah selama 40 tahun. Keutamaan yang besar membutuhkan kesabaran dan konsistensi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.