Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan kepada kita tentang kebiasaan sumpah yang paling sering diucapkan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau bersumpah dengan kalimat yang agung, yaitu "وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ" (Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya). Ini menunjukkan keagungan tauhid dan keyakinan beliau bahwa segala sesuatu, termasuk jiwa dan seluruh urusan, berada sepenuhnya di bawah kekuasaan dan kendali Allah semata.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:
Teks hadits yang Anda berikan adalah riwayat dari Rifa'ah bin 'Arabah Al-Juhani radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari sahabat lain, dengan lafaz yang semakna. Ini menunjukkan bahwa sumpah ini adalah sumpah yang masyhur dan sering diucapkan oleh Nabi ﷺ.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Makna dari sumpah ini sangat erat kaitannya dengan firman Allah Ta'ala:
QS. Al-An'am [6]: 59
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu dan kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu, termasuk jiwa kita. Sumpah Nabi ﷺ dengan kalimat ini adalah pengakuan yang dalam akan hakikat ini.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan Salaf sangat memperhatikan adab bersumpah. Mereka mencontohkan agar seorang muslim tidak bersumpah kecuali dengan nama Allah atau sifat-sifat-Nya, dan tidak bersumpah dengan selain Allah. Sumpah Nabi ﷺ ini adalah contoh terbaik dalam hal ini.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
- Bolehnya Bersumpah dengan Sifat Allah: Kalimat "وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ" adalah sumpah dengan menggunakan salah satu sifat Allah, yaitu sifat Al-Qudrah (Kekuasaan) dan Al-Hayah (Kehidupan). Ini menunjukkan bahwa bersumpah dengan sifat-sifat Allah adalah dibolehkan, sebagaimana bersumpah dengan nama-nama-Nya.
- Keutamaan Kalimat Ini: Kalimat ini mengandung makna yang sangat agung. Ia menegaskan bahwa jiwa, yang merupakan perkara yang paling berharga bagi manusia, berada di tangan Allah. Dia-lah yang memegang, mengatur, dan mencabutnya. Ini adalah pengakuan tauhid rububiyyah (ketuhanan) yang sangat dalam.
- Adab Bersumpah: Hadits ini mengajarkan kita adab yang mulia ketika bersumpah. Hendaknya seorang muslim bersumpah dengan perkara yang agung dan tidak bersumpah dengan perkara yang remeh. Sumpah Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwa beliau sangat menjaga lisannya dan tidak bersumpah kecuali dengan kalimat yang penuh makna.
- Meneladani Nabi ﷺ: Sebagai umatnya, kita dianjurkan untuk meneladani Nabi ﷺ dalam segala hal, termasuk dalam adab bersumpah. Jika kita perlu bersumpah, maka bersumpahlah dengan nama Allah atau sifat-sifat-Nya, dan jangan sekali-kali bersumpah dengan selain Allah.
Pandangan Ulama:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa bersumpah dengan sifat-sifat Allah seperti 'Izzah (kemuliaan), 'Azhamah (kebesaran), dan Qudrah (kekuasaan) adalah dibolehkan menurut jumhur (mayoritas) ulama. Ini karena sifat-sifat tersebut adalah bagian dari Dzat Allah yang Maha Mulia. Sumpah Nabi ﷺ dengan kalimat ini adalah dalil yang paling kuat untuk hal ini.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, sering kali bersumpah dengan kalimat ini. Beliau berkata, "Demi Zat yang jiwa Abu Hurairah berada di tangan-Nya, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda..." Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat menjaga dan meneladani kebiasaan Nabi ﷺ dalam bersumpah. Mereka memahami bahwa kalimat ini bukan sekadar sumpah, tetapi juga merupakan dzikir dan pengakuan akan kebesaran Allah.
Kesimpulan Praktis
- Hendaknya kita bersumpah hanya dengan nama Allah atau sifat-sifat-Nya yang agung. Hindari bersumpah dengan selain Allah seperti dengan nama tokoh, kehormatan, atau hal-hal lainnya.
- Jadikan kalimat "وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ" sebagai bagian dari dzikir kita. Ucapkanlah ketika kita ingin menegaskan sesuatu yang benar, sebagai bentuk pengakuan bahwa segala sesuatu berada di tangan Allah.
- Jaga lisan kita dari banyak bersumpah. Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 89, "Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja..." Maka, bersungguh-sungguhlah dalam bersumpah dan jangan meremehkannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.