Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan kebiasaan Nabi ﷺ ketika bersumpah. Beliau tidak bersumpah dengan nama selain Allah, dan salah satu bentuk sumpah yang sering beliau ucapkan adalah, "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya." Ini adalah pengagungan terhadap Allah dan pengakuan bahwa segala sesuatu, termasuk jiwa manusia, sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah. Sumpah ini juga mengajarkan kita untuk tidak bersumpah dengan selain nama Allah dan untuk selalu mengagungkan-Nya dalam setiap perkataan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Al-Kaffarat, Bab Sumpah Rasulullah ﷺ yang Biasa Beliau Ucapkan, nomor 2090. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari sahabat lain, seperti Anas bin Malik dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhum.
Berikut adalah teks hadits dalam bahasa Arab beserta artinya:
Teks Hadits (dari Rifa'ah Al-Juhani radhiyallahu 'anhu):
> عَنْ رِفَاعَةَ الْجُهَنِيِّ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا حَلَفَ قَالَ: "وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ"
Artinya: "Dari Rifa'ah Al-Juhani, ia berkata: 'Adalah Nabi ﷺ apabila bersumpah, beliau mengucapkan: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya."'"
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
Firman Allah Ta'ala:
> وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
(QS. Hud [11]: 123)
Artinya: "Dan milik Allah-lah apa yang gaib di langit dan di bumi, dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak akan lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh urusan, termasuk jiwa dan kehidupan makhluk, kembali kepada Allah. Ini sejalan dengan makna sumpah Nabi ﷺ yang mengagungkan kekuasaan Allah atas jiwa.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama, seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, menjelaskan bahwa sumpah Nabi ﷺ dengan kalimat ini adalah bentuk pengagungan kepada Allah dan pengakuan bahwa segala sesuatu berada di bawah kekuasaan-Nya. Ini juga merupakan pengajaran bagi umatnya untuk tidak bersumpah dengan selain nama Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
- Bolehnya Bersumpah dengan Sifat Kekuasaan Allah: Sumpah Nabi ﷺ, "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya," adalah sumpah dengan menggunakan salah satu sifat Allah, yaitu kekuasaan-Nya yang mutlak. Ini menunjukkan bahwa bersumpah dengan menyebut nama Allah atau sifat-sifat-Nya yang agung adalah dibenarkan dalam syariat.
- Larangan Bersumpah dengan Selain Nama Allah: Kebiasaan Nabi ﷺ ini secara tidak langsung mengajarkan larangan bersumpah dengan selain nama Allah, seperti bersumpah dengan nama Nabi, malaikat, atau lainnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa-nya menegaskan bahwa bersumpah dengan selain Allah adalah perbuatan yang dilarang, bahkan bisa termasuk syirik kecil jika dilakukan sebagai bentuk pengagungan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya hanya bersumpah dengan nama Allah atau sifat-sifat-Nya.
- Pengakuan akan Kekuasaan Allah yang Mutlak: Kalimat "yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya" adalah pengakuan yang sangat dalam bahwa hidup, mati, dan segala urusan manusia sepenuhnya di tangan Allah. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa ungkapan ini mengandung makna tawakal yang sempurna dan keyakinan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang dapat mengatur dirinya sendiri, semuanya bergantung kepada Allah.
- Menunjukkan Kejujuran dan Kehati-hatian dalam Bersumpah: Nabi ﷺ adalah orang yang paling jujur, namun beliau tetap mengagungkan Allah dalam setiap sumpahnya. Ini mengajarkan kita untuk tidak mudah bersumpah, dan jika terpaksa harus bersumpah, maka hendaknya dengan nama Allah dan disertai kesadaran bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar.
- Keutamaan Kalimat Ini: Para ulama menyebutkan bahwa kalimat sumpah ini adalah salah satu kalimat yang paling agung karena mengandung pengakuan tauhid rububiyyah, yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Pengatur dan Pemilik segala sesuatu.
Perbedaan Pendapat Ulama:
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai keabsahan dan makna hadits ini. Semua sepakat bahwa hadits ini sahih dan mengandung pelajaran tentang adab bersumpah. Perbedaan hanya mungkin terjadi dalam hal apakah lafadz sumpah ini bisa digunakan oleh selain Nabi ﷺ. Sebagian ulama berpendapat bahwa lafadz ini khusus untuk Nabi ﷺ karena mengandung nama beliau. Namun, pelajaran utamanya adalah tentang mengagungkan Allah dalam bersumpah, dan ini berlaku umum. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa seorang muslim boleh bersumpah dengan mengatakan, "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya," karena ini adalah bentuk pengakuan atas kekuasaan Allah atas dirinya, dan ini termasuk bersumpah dengan Allah melalui sifat-Nya.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Nabi ﷺ sering bersumpah dengan kalimat, 'Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya.'" (HR. Al-Bukhari, no. 6629).
Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang mukmin ditimpa kesusahan, kesedihan, atau penyakit, melainkan Allah akan mengangkat dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya." (HR. Al-Bukhari, no. 5642).
Kisah ini menunjukkan betapa agungnya kalimat sumpah ini. Kalimat ini bukan hanya sekadar sumpah, tetapi juga merupakan doa dan pengakuan yang dalam atas kekuasaan Allah. Ketika seorang hamba ditimpa musibah, ia mengingat bahwa jiwanya dan segala urusannya ada di tangan Allah, sehingga ia bersabar dan mengharap pahala dari-Nya. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita untuk senantiasa mengembalikan segala urusan kepada Allah dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Kesimpulan Praktis
Dari hadits ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:
- Jangan Mudah Bersumpah: Bersumpahlah hanya ketika benar-benar diperlukan, karena sumpah adalah perkara yang agung dan melibatkan nama Allah.
- Bersumpah Hanya dengan Nama Allah: Jika harus bersumpah, gunakanlah nama Allah atau sifat-sifat-Nya, seperti "Demi Allah" atau "Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya." Hindari bersumpah dengan selain nama Allah.
- Mengagungkan Allah dalam Setiap Perkataan: Jadikan kalimat-kalimat yang kita ucapkan sebagai sarana untuk mengingat Allah dan mengagungkan-Nya.
- Menyadari Kekuasaan Allah: Tanamkan dalam hati bahwa jiwa, hidup, dan segala urusan kita sepenuhnya di tangan Allah. Ini akan menumbuhkan rasa tawakal dan ketenangan dalam menghadapi segala situasi.
- Meneladani Nabi ﷺ: Jadikan kebiasaan Nabi ﷺ ini sebagai contoh dalam bertutur kata dan berinteraksi, dengan selalu menjunjung tinggi kejujuran dan keagungan nama Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.