Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 207 tentang Pahala bagi pembuat sunnah baik dan dosa bagi pembuat sunnah buruk

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dalil agung tentang keutamaan orang yang memulai kebaikan dan bahaya orang yang memulai keburukan. Barangsiapa mengajarkan atau memulai suatu amalan baik yang kemudian diikuti orang lain, ia akan mendapat pahala amalnya sendiri plus pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, barangsiapa memulai suatu keburukan yang diikuti orang lain, ia akan menanggung dosanya sendiri plus dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun. Ini adalah dorongan kuat untuk berlomba dalam kebaikan dan peringatan keras dari memulai keburukan.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Yasin [36]: 12

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang jelas (Lauh Mahfuzh)."

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mencatat atsar (bekas/jejak) amal seseorang yang ditinggalkan setelah ia wafat, baik itu berupa kebaikan yang diikuti maupun keburukan yang diikuti.

2. Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari sahabat Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiyallahu 'anhu dengan lafaz yang semakna:

> "مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ..."

> "Barangsiapa memulai dalam Islam suatu sunnah (amalan) yang baik, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya..." (HR. Muslim, no. 1017)

3. Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tentang keutamaan orang yang memulai kebaikan dan tercelanya orang yang memulai keburukan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hadits semakna dari riwayat lain dan menegaskan makna yang sama.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa "sunnah" di sini bermakna thariqah (jalan/cara), bukan sunnah dalam istilah fiqih (yang berlawanan dengan wajib). Jadi maknanya adalah siapa yang memulai suatu jalan kebaikan atau keburukan.

Penjelasan Rinci

Makna "Sunnah" dalam Hadits

Para ulama menjelaskan bahwa kata "sunnah" dalam hadits ini bermakna "thariqah" (jalan atau cara), bukan bermakna sunnah dalam istilah fiqih (amalan yang berpahala jika dikerjakan dan tidak berdosa jika ditinggalkan). Ini penting dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Syaikh al-Utsaimin menjelaskan: "Yang dimaksud dengan sunnah di sini adalah thariqah (jalan), baik itu jalan kebaikan maupun jalan keburukan. Bukan yang dimaksud sunnah dalam istilah para fuqaha."

Makna "Man Sanna" (مَنْ سَنَّ)

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa makna "man sanna" adalah siapa yang memulai dan mencontohkan suatu amalan. Ini bisa mencakup:

  1. Orang yang pertama kali mengerjakan suatu kebaikan yang belum dikenal orang lain.
  2. Orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain sehingga mereka mengikutinya.
  3. Orang yang menghidupkan kembali sunnah yang telah ditinggalkan.

Pahala Mengalir Tanpa Mengurangi

Bagian terpenting dari hadits ini adalah kalimat "مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا" (tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun). Ini menunjukkan keadilan dan kemurahan Allah ﷻ. Orang yang mengikuti kebaikan tetap mendapat pahala penuh, dan orang yang memulai kebaikan juga mendapat pahala penuh tanpa ada pengurangan dari pahala pengikutnya.

Imam an-Nawawi berkata: "Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa barangsiapa memulai suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala amalnya dan pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa memulai keburukan, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya sampai hari kiamat."

Peringatan Keras untuk Keburukan

Sebagaimana kebaikan mengalir pahalanya, maka keburukan juga mengalir dosanya. Ini adalah keadilan Allah. Orang yang menciptakan bid'ah (amalan baru dalam agama yang menyelisihi syariat) atau memulai kemaksiatan yang diikuti orang lain, maka ia menanggung dosa-dosa pengikutnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa orang yang membuat bid'ah dalam agama akan menanggung dosa setiap orang yang mengamalkan bid'ah tersebut sampai hari kiamat, sebagaimana orang yang menghidupkan sunnah akan mendapat pahala setiap orang yang mengamalkannya.

Penerapan dalam Kehidupan

Hadits ini sangat relevan dalam kehidupan kita:

  1. Dalam dakwah: Siapa yang mengajarkan ilmu atau kebaikan kepada orang lain, pahalanya terus mengalir.
  2. Dalam sedekah jariyah: Siapa yang mewakafkan harta atau membangun masjid, pahalanya mengalir selama dimanfaatkan.
  3. Dalam pendidikan: Guru yang mengajarkan kebaikan kepada muridnya, pahalanya mengalir selama muridnya mengamalkan dan mengajarkannya lagi.
  4. Peringatan bagi influencer/media: Siapa yang menyebarkan konten kebaikan, pahalanya mengalir. Siapa yang menyebarkan keburukan, dosanya mengalir.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiyallahu 'anhu berkata:

> "Kami sedang bersama Rasulullah ﷺ di pagi hari, lalu datanglah beberapa orang yang bertelanjang kaki, memakai kain wol, dengan pedang tergantung di leher mereka. Kebanyakan (bahkan) semua mereka dari suku Mudhar. Wajah Rasulullah ﷺ berubah (sedih) melihat kefakiran mereka. Beliau masuk ke rumahnya lalu keluar dan memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan dan iqamah. Beliau shalat lalu berkhutbah: 'Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian...' (hingga akhir khutbah). Kemudian beliau bersabda: 'Siapa yang memulai sunnah yang baik, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya...' Lalu beliau bersedekah, dan para sahabat pun bersedekah. Maka Jarir berkata: 'Aku tidak akan berhenti dari satu kebaikan pun yang aku mulai sejak aku mendengar hadits ini.'" (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat langsung mengamalkan hadits ini. Mereka berlomba-lomba memulai kebaikan karena tahu pahalanya akan terus mengalir.

Kesimpulan Praktis

  1. Berlomba-lombalah memulai kebaikan — sekecil apa pun, karena pahalanya akan terus mengalir selama kebaikan itu diikuti orang lain.
  2. Hati-hatilah memulai keburukan — karena dosanya akan terus mengalir selama keburukan itu diikuti, meskipun kita sudah wafat.
  3. Ajarkan kebaikan kepada orang lain — baik melalui ilmu, contoh perilaku, atau media sosial, karena itu termasuk sedekah jariyah yang pahalanya abadi.
  4. Jangan meremehkan amal kecil — karena bisa jadi amal kecil yang kita contohkan menjadi amal besar karena diikuti banyak orang.
  5. Jauhi bid'ah dan kemaksiatan — karena setiap orang yang mengikuti kita dalam keburukan, dosanya juga ditanggung kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.