Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah dalil agung tentang keutamaan mengajak kepada kebaikan dan bahaya mengajak kepada keburukan. Siapa yang menunjukkan seseorang kepada petunjuk, ia mendapat pahala semisal pahala orang yang mengikutinya. Sebaliknya, siapa yang mengajak kepada kesesatan, ia menanggung dosa semisal dosa orang yang mengikutinya. Ini menunjukkan bahwa kebaikan dan keburukan yang kita sebarkan akan terus mengalir pahalanya atau dosanya selama amalan itu terus dilakukan oleh orang yang mengikutinya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, juga oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya. Dalam riwayat Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
"Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." (HR. Muslim, no. 2674)
Kaitan dengan ulama dari daftar:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang menunjukkan kebaikan, dan ancaman keras bagi orang yang mengajak kepada keburukan. Beliau menegaskan bahwa pahala orang yang mengajak tidak berkurang sedikit pun, dan dosa orang yang mengajak kesesatan juga tidak mengurangi dosa pengikutnya.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hadits semakna dan menegaskan bahwa amalan jariyah (yang terus mengalir) termasuk di antaranya adalah mengajarkan ilmu yang bermanfaat.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini menjadi motivasi untuk bersemangat dalam berdakwah dan mengajarkan kebaikan, karena pahalanya berlipat ganda.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mencakup dua hal besar:
Pertama: Keutamaan Mengajak kepada Petunjuk
Yang dimaksud "mengajak kepada petunjuk" (دَعَا إِلَى هُدًى) adalah mengajak kepada Islam, iman, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, dan segala bentuk kebaikan. Ini bisa melalui:
- Mengajarkan ilmu syar'i
- Memberi nasihat yang baik
- Menunjukkan orang kepada cara ibadah yang benar
- Menjadi teladan yang baik dalam ketaatan
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa orang yang mengajarkan kebaikan akan mendapat pahala setiap kali orang yang diajarnya itu mengamalkannya, bahkan sampai hari kiamat jika amalan itu terus diwariskan. Ini termasuk dalam makna hadits "Barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam suatu sunnah yang baik, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya."
Kedua: Ancaman Mengajak kepada Kesesatan
Yang dimaksud "mengajak kepada kesesatan" (دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ) adalah mengajak kepada kekufuran, kemaksiatan, bid'ah, atau segala bentuk keburukan. Ini bisa melalui:
- Mengajarkan ilmu yang salah
- Memberi contoh buruk dalam pergaulan
- Menyebarkan pemikiran yang menyimpang
- Memudahkan orang untuk berbuat dosa
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa dosa orang yang mengajak kesesatan akan terus bertambah setiap kali ada orang yang mengikuti kesesatannya, tanpa mengurangi dosa orang yang mengikutinya. Ini adalah keadilan Allah yang sempurna.
Poin penting yang ditegaskan para ulama:
- Pahala dan dosa tidak saling mengurangi - Ini menunjukkan keadilan Allah. Setiap orang mendapat balasan sesuai amalnya, dan orang yang menjadi perantara juga mendapat balasan tanpa mengurangi hak orang lain.
- Amalan ini bersifat berkelanjutan - Selama orang yang diajak masih mengamalkan kebaikan atau keburukan itu, maka pahala atau dosa terus mengalir kepada yang mengajak.
- Cakupan yang luas - Hadits ini tidak hanya untuk ulama atau da'i, tetapi untuk setiap muslim. Mengajak kebaikan bisa dengan cara sederhana: mengajak shalat berjamaah, mengajak sedekah, atau sekadar memberi tahu teman tentang adab yang benar.
Story Telling
Ada kisah indah tentang Imam Ibnu al-Mubarak (salah satu ulama dalam daftar rujukan kita). Beliau adalah seorang ulama besar yang sangat dermawan dan rajin beribadah. Suatu malam, beliau kedatangan tamu yang sedang dalam perjalanan. Ibnu al-Mubarak melayani tamunya dengan sangat baik, bahkan beliau memadamkan lampu agar tamunya tidak malu ketika beliau melayani kebutuhannya.
Setelah tamunya tidur, Ibnu al-Mubarak menangis dan berkata kepada dirinya sendiri, "Orang ini datang kepadaku, dan aku telah melayaninya. Semoga Allah menjadikan pelayananku ini sebagai sebab kebaikan baginya."
Kisah ini menunjukkan bagaimana seorang ulama salaf sangat memperhatikan adab melayani tamu dan berharap kebaikannya menjadi sebab orang lain mendapat manfaat. Ini adalah bentuk nyata dari "mengajak kepada petunjuk" - bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan dan akhlak yang mulia.
Kesimpulan Praktis
- Bersemangatlah mengajak kebaikan - Setiap kali seseorang mengikuti ajakan kita, pahala terus mengalir kepada kita. Ini adalah ladang amal yang sangat besar.
- Hati-hati dalam memberi contoh - Kita tidak tahu siapa yang terpengaruh dengan sikap dan perbuatan kita. Jadilah teladan yang baik.
- Jangan pernah meremehkan kebaikan kecil - Mengajak teman shalat berjamaah, mengingatkan saudara untuk jujur, atau sekadar tersenyum dan bersikap ramah adalah bagian dari mengajak kepada kebaikan.
- Jauhi menjadi perantara keburukan - Jangan pernah mengajak orang lain kepada maksiat, baik secara langsung maupun tidak langsung, karena dosanya akan terus mengalir.
- Perbanyak ilmu agar ajakan kita benar - Sebelum mengajak orang lain, pastikan kita memahami ilmunya dengan benar agar tidak salah arah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.