Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 2053 tentang Pilihan istri antara dunia atau Allah dan Rasul-Nya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan sikap lembut Nabi ﷺ kepada istrinya, Aisyah radhiyallahu 'anha, ketika turun ayat tentang pilihan bagi para istri Nabi (QS. Al-Ahzab [33]: 28–29). Nabi ﷺ tidak memaksa, tetapi memberi waktu dan mengizinkan Aisyah berkonsultasi dengan orang tuanya. Aisyah dengan penuh keyakinan langsung memilih Allah dan Rasul-Nya. Hadits ini mengajarkan adab musyawarah dalam keluarga, kelembutan suami, dan keikhlasan seorang mukminah dalam mengutamakan akhirat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait:

Firman Allah dalam QS. Al-Ahzab [33]: 28:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

Terjemahan: "Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, 'Jika kamu menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, aku akan memberikan kepadamu mut'ah (pemberian) dan melepaskanmu dengan cara yang baik.'"

Dan QS. Al-Ahzab [33]: 29:

وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

Terjemahan: "Tetapi jika kamu menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah telah menyediakan pahala yang besar bagi orang-orang yang berbuat baik di antara kamu."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Talak, Bab Seorang Suami Memberi Pilihan kepada Istrinya (no. 2053), dari jalur Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.

Kaitan dengan ulama:

  • Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri), salah satu perawi dalam sanad ini, adalah tabi'in yang dikenal sebagai penghimpun hadits dan ahli fiqih Madinah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa ayat ini turun ketika para istri Nabi meminta tambahan nafkah dan kehidupan yang lebih mewah, lalu Allah memberi mereka pilihan antara dunia atau Allah dan Rasul-Nya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa sikap Nabi ﷺ yang memberi waktu berkonsultasi menunjukkan kelembutan dan kasih sayang beliau kepada Aisyah, serta penghormatan kepada orang tua.

Penjelasan Rinci

Latar belakang turunnya ayat (asbabun nuzul):

Para istri Nabi ﷺ pernah meminta tambahan nafkah dan kehidupan yang lebih lapang. Sebagaimana dijelaskan oleh Az-Zuhri dan Urwah dalam riwayat ini, serta dikuatkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, keadaan itu membuat Nabi ﷺ tidak berbicara dengan mereka selama sebulan. Kemudian turunlah ayat pilihan (takhyir) dalam QS. Al-Ahzab [33]: 28–29, yang memberi para istri Nabi dua pilihan: dunia dengan perhiasannya, atau Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.

Kelembutan Nabi ﷺ:

Ketika ayat itu turun, Nabi ﷺ mendatangi Aisyah dan berkata: "Wahai Aisyah, aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu, dan kamu tidak perlu terburu-buru sampai kamu berkonsultasi dengan orang tuamu." Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ:

  1. Tidak memaksa istrinya untuk langsung memilih.
  2. Memberi ruang musyawarah dengan orang tua.
  3. Menghormati perasaan dan kedudukan Aisyah sebagai istri yang dicintai.

Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa sikap ini adalah bentuk kelembutan dan kasih sayang Nabi ﷺ, sekaligus pengajaran bahwa keputusan besar sebaiknya diambil dengan pertimbangan yang matang, bukan karena emosi sesaat.

Jawaban Aisyah radhiyallahu 'anha:

Aisyah berkata: "Dia tahu, demi Allah, bahwa orang tuaku tidak akan menyuruhku untuk meninggalkannya." Lalu setelah Nabi ﷺ membacakan ayat, Aisyah langsung berkata: "Apakah aku perlu berkonsultasi dengan orang tuaku tentang ini? Aku memilih Allah dan Rasul-Nya."

Ini menunjukkan:

  1. Keikhlasan dan keyakinan Aisyah bahwa kebahagiaan sejati adalah bersama Allah dan Rasul-Nya.
  2. Kecerdasan Aisyah dalam memahami bahwa pilihan ini bukan sekadar urusan dunia, tetapi urusan iman.
  3. Kesetiaan Aisyah kepada Nabi ﷺ yang tidak perlu diragukan lagi.

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa jawaban Aisyah ini adalah bukti kuatnya iman dan mahabbah (kecintaan) beliau kepada Nabi ﷺ, dan menjadi teladan bagi para istri mukminah.

Pelajaran fiqih:

Para ulama seperti Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa ayat takhyir ini khusus berlaku bagi istri-istri Nabi ﷺ, bukan untuk semua istri. Namun, adab musyawarah dan kelembutan dalam keluarga tetap menjadi sunnah yang dianjurkan bagi setiap suami.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menyebutkan bahwa kelembutan Nabi ﷺ dalam memberi pilihan kepada Aisyah adalah contoh bagaimana seorang suami seharusnya bermusyawarah dengan istrinya dalam perkara yang penting, tanpa memaksa.

Story Telling

Diceritakan bahwa setelah ayat takhyir turun, Nabi ﷺ mendatangi setiap istrinya satu per satu dan menyampaikan pilihan tersebut. Beliau memulai dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Aisyah, dengan penuh keyakinan dan kecintaan, langsung memilih Allah dan Rasul-Nya tanpa ragu. Ketika Nabi ﷺ mendengar jawaban Aisyah, beliau sangat senang dan gembira. Kemudian para istri Nabi yang lain juga mengikuti pilihan Aisyah, memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.

Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa ketika seseorang mengutamakan Allah dan Rasul-Nya di atas dunia, maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Aisyah radhiyallahu 'anha menjadi teladan dalam kesetiaan, keikhlasan, dan kecintaan kepada Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Bermusyawarahlah dalam keluarga — suami hendaknya tidak memaksa, tetapi mengajak istri berdiskusi dalam keputusan penting.
  2. Beri waktu dan ruang — keputusan besar sebaiknya tidak diambil secara terburu-buru.
  3. Utamakan akhirat — pilihan Aisyah mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati adalah bersama Allah dan Rasul-Nya.
  4. Hormati orang tua — Nabi ﷺ mengizinkan Aisyah berkonsultasi dengan orang tuanya, menunjukkan pentingnya berbakti dan bermusyawarah dengan orang tua.
  5. Teladani kelembutan Nabi ﷺ — kasih sayang dan kelembutan dalam keluarga adalah sunnah yang mulia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?