Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah wasiat berharga dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu kepada kita semua. Intinya, ketika seorang sahabat atau perawi menyampaikan hadits dari Rasulullah ﷺ, maka kita harus menerimanya dengan prasangka baik (husnuzh-zhan). Kita harus meyakini bahwa apa yang disabdakan Nabi ﷺ adalah yang paling baik, paling benar petunjuknya, dan paling tinggi tingkat ketakwaannya. Ini adalah pelajaran adab yang sangat agung dalam menyikapi sunnah Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ أَبِي الْبَخْتَرِيِّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، قَالَ إِذَا حَدَّثْتُكُمْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ـ ﷺ ـ بِحَدِيثٍ فَظُنُّوا بِهِ الَّذِي هُوَ أَهْنَاهُ وَأَهْدَاهُ وَأَتْقَاهُ
Kedudukan Hadits: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Mukaddimah, Bab "Mengagungkan Hadits Rasulullah ﷺ dan Mengancam Siapa yang Menentangnya" (no. 20). Sanadnya shahih, diriwayatkan dari jalur para perawi tsiqah (terpercaya). Hadits ini juga memiliki penguat dari riwayat lain.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya." (QS. Al-Hasyr [59]: 7)
Ayat ini menunjukkan bahwa semua yang datang dari Rasulullah ﷺ adalah kebaikan, kebenaran, dan petunjuk. Maka, prasangka baik terhadap sabda beliau adalah konsekuensi dari keimanan kita.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa sikap seorang mukmin terhadap hadits Nabi ﷺ adalah menerima dan tunduk, karena sabda beliau adalah wahyu. Beliau juga menukil perkataan para ulama salaf tentang wajibnya mengagungkan hadits dan menjauhkan diri dari sikap menentangnya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa perkataan Ali bin Abi Thalib ini mengandung bimbingan adab yang sangat luhur. Beliau berkata: "Jika aku menyampaikan hadits dari Rasulullah ﷺ kepada kalian, maka berprasangka baiklah terhadap hadits tersebut, bahwa ia adalah yang paling baik (أَهْنَاهُ), paling benar petunjuknya (أَهْدَاهُ), dan paling bertakwa (أَتْقَاهُ)."
Makna dari tiga sifat ini adalah:
- أَهْنَاهُ (Ahnahu): Paling baik, paling sempurna, dan paling bermanfaat. Ini menunjukkan bahwa setiap sabda Nabi ﷺ adalah kebaikan murni yang tidak mengandung keburukan sedikit pun.
- أَهْدَاهُ (Ahdahu): Paling benar petunjuknya. Ini menegaskan bahwa sabda Nabi ﷺ adalah petunjuk yang lurus, tidak menyimpang dari kebenaran, dan membimbing kepada jalan yang diridhai Allah.
- أَتْقَاهُ (Atqahu): Paling bertakwa. Ini menunjukkan bahwa seluruh perkataan dan perbuatan Nabi ﷺ adalah manifestasi dari ketakwaan yang paling tinggi. Beliau adalah manusia yang paling takut kepada Allah dan paling taat kepada-Nya.
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Miftah Daris Sa'adah menjelaskan bahwa kedudukan sunnah Nabi ﷺ adalah sebagai penjelas Al-Qur'an. Maka, menolak atau meremehkan hadits sama dengan menolak petunjuk Allah. Beliau juga menekankan bahwa hati seorang mukmin harus dipenuhi dengan kecintaan dan pengagungan terhadap sabda Rasulullah ﷺ.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah juga menegaskan bahwa sikap yang benar terhadap hadits adalah menerima dengan penuh ketundukan, karena hal itu adalah konsekuensi dari syahadat "Muhammadur Rasulullah". Jika ada hadits yang tampak sulit dipahami, maka kita tidak boleh tergesa-gesa menolaknya, tetapi harus berusaha memahami dengan bimbingan para ulama.
Sikap ini adalah cerminan dari adab para sahabat. Mereka tidak pernah berkata, "Mengapa Nabi berkata demikian?" atau "Apa logikanya?" Sebaliknya, mereka langsung menerima dan berkata, "Kami dengar dan kami taat."
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika, seorang sahabat bertanya kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu tentang suatu masalah. Maka Ali pun menyampaikan hadits dari Rasulullah ﷺ. Kemudian orang itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, bagaimana jika ada orang lain yang meriwayatkan hadits yang berbeda?"
Maka Ali bin Abi Thalib menjawab dengan tegas, "Jika engkau mendengar hadits dari Rasulullah ﷺ, maka berprasangka baiklah bahwa itulah yang paling baik dan paling benar. Karena Rasulullah ﷺ tidak pernah berkata kecuali yang benar."
Kisah ini menunjukkan betapa tingginya keyakinan para sahabat terhadap kebenaran sabda Nabi ﷺ. Mereka tidak ragu sedikit pun, karena mereka menyaksikan langsung bagaimana wahyu turun dan bagaimana akhlak Nabi ﷺ yang mulia.
Kesimpulan Praktis
- Husnuzh-zhan kepada Nabi ﷺ: Kita harus selalu berprasangka baik terhadap semua sabda Nabi ﷺ, meskipun akal kita belum mampu menjangkaunya. Karena akal kita terbatas, sedangkan ilmu Nabi ﷺ berasal dari Allah.
- Menerima dengan Tunduk: Sikap seorang mukmin terhadap hadits adalah menerima dan tunduk, bukan menolak atau mempertanyakan. Ini adalah konsekuensi dari keimanan kita kepada beliau.
- Menjauhi Sikap Menentang: Jangan sekali-kali kita termasuk orang yang menentang hadits dengan alasan "bertentangan dengan akal" atau "tidak relevan dengan zaman". Ini adalah sikap yang sangat berbahaya.
- Bertanya kepada Ulama: Jika ada hadits yang sulit dipahami, maka bertanyalah kepada ulama yang berilmu, jangan langsung menolaknya. Karena bisa jadi pemahaman kita yang kurang, bukan haditsnya yang salah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.