Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 198 tentang Penegasan kekuasaan Allah atas langit dan bumi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menegaskan bahwa Allah Ta'ala memiliki sifat "al-Jabbar" (Yang Maha Memaksa/Maha Perkasa) dan bahwa Dia akan menggenggam langit dan bumi dengan "tangan"-Nya pada hari kiamat, lalu menampakkan keagungan-Nya dengan menantang para tiran dan orang sombong. Hadits ini juga menetapkan sifat "yad" (tangan) bagi Allah sebagaimana yang datang dalam nash, tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Hadits ini merupakan bantahan terhadap Jahmiyah yang menolak sifat-sifat Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Az-Zumar [39]: 67

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Terjemahan: "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, dari Sunan Ibnu Majah no. 198, Kitab al-Muqaddimah, Bab "Apa yang Ditolak oleh Jahmiyah." Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan lafaz yang berdekatan.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibn Khuzaimah dalam kitab Kitab at-Tauhid menjadikan hadits ini sebagai dalil penetapan sifat "yad" (tangan) bagi Allah.
  • Ibn Hibban juga menetapkan sifat ini dalam Shahih-nya.
  • Adz-Dzahabi dalam al-'Uluww menyebutkan hadits ini sebagai bagian dari hadits-hadits sifat yang harus diimani apa adanya.
  • Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa dan Ibn Qayyim dalam Ijtima' al-Juyusy al-Islamiyyah menggunakan hadits ini untuk membantah Jahmiyah yang menolak sifat khabariyah.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini berbicara tentang keagungan Allah pada hari kiamat. Allah "al-Jabbar" — Yang Maha Memaksa, Yang Maha Memperbaiki segala urusan dengan kekuasaan-Nya, Yang tidak ada yang bisa menolak keputusan-Nya. Pada hari kiamat, Allah akan menggenggam langit dan bumi dengan tangan-Nya, lalu berfirman: "Akulah al-Jabbar! Di mana para tiran? Di mana orang-orang sombong?"

Pemahaman ulama dalam daftar:

  1. Penetapan sifat "yad" (tangan) bagi Allah:
  • Imam Ahmad bin Hanbal dalam ar-Radd 'ala al-Jahmiyyah menegaskan bahwa hadits-hadits seperti ini harus diimani apa adanya, tanpa tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana), atau tamtsil (menyerupakan). Ini adalah pokok manhaj Ahlus Sunnah.
  • Al-Bukhari dalam Khalq Af'al al-'Ibad dan Ad-Darimi dalam ar-Radd 'ala al-Jahmiyyah juga menetapkan sifat ini.
  1. Makna "al-Jabbar":
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam as-Sawa'iq al-Mursalah menjelaskan bahwa "al-Jabbar" memiliki dua makna: (a) Yang Maha Memaksa, yang semua makhluk tunduk kepada-Nya; (b) Yang Maha Memperbaiki, yang memperbaiki segala kerusakan hamba-Nya. Keduanya benar dan tidak bertentangan.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pada hari kiamat Allah menampakkan keagungan-Nya sehingga tidak ada satu pun yang bisa menyombongkan diri di hadapan-Nya.
  1. Bantahan terhadap Jahmiyah:
  • Imam Ahmad, Ad-Darimi, dan Al-Barbahari dalam Syarh as-Sunnah menegaskan bahwa Jahmiyah adalah kelompok yang pertama kali menolak sifat-sifat Allah, termasuk sifat "yad". Mereka menakwilkan "tangan" sebagai "kekuatan" atau "nikmat", yang merupakan tahrif yang batil.
  • Ibn Taymiyyah dalam al-'Aqidah al-Wasithiyyah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datang dalam Al-Qur'an dan Sunnah, tanpa menyerupakan dengan makhluk.
  1. Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:
  • Sebagian ulama seperti Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban menetapkan sifat ini secara tegas tanpa takwil.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim cenderung melakukan takwil pada sebagian hadits sifat, namun beliau tetap mengakui bahwa mayoritas salaf menetapkan tanpa takwil. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat jumhur salaf: menetapkan sifat "yad" tanpa takwil, tanpa tasybih, dan tanpa ta'thil, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad, Ibn Taymiyyah, dan Ibn Qayyim.

Hikmah hadits:

  • Menetapkan keagungan Allah dan kerendahan semua makhluk di hadapan-Nya.
  • Menghilangkan kesombongan dan kezaliman, karena pada hari kiamat tidak ada yang bisa menyombongkan diri.
  • Membantah Jahmiyah yang menolak sifat-sifat Allah dengan akal mereka yang rusak.

Story Telling

Kisah Imam Ahmad bin Hanbal dengan Jahmiyah:

Diceritakan dalam Thabaqat al-Hanabilah dan al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibn Katsir, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang hadits-hadits sifat seperti hadits ini. Beliau menjawab: "Kami meriwayatkannya sebagaimana datangnya, dan kami mengimaninya sebagaimana datangnya, tanpa menanyakan bagaimana."

Suatu ketika, seorang Jahmiyah datang kepada Imam Ahmad dan berkata: "Bagaimana pendapatmu tentang hadits 'Allah menggenggam langit dan bumi dengan tangan-Nya'?" Imam Ahmad menjawab dengan tegas: "Hadits itu shahih, kami mengimaninya, dan kami tidak menakwilkannya."

Hikmah: Para salaf sangat tegas dalam menetapkan sifat-sifat Allah, dan mereka tidak gentar menghadapi Jahmiyah yang menolak sifat dengan alasan akal. Mereka mengajarkan bahwa akal yang sehat akan tunduk kepada wahyu, bukan sebaliknya.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada sifat-sifat Allah: Kita wajib mengimani bahwa Allah memiliki sifat "yad" (tangan) sebagaimana datang dalam Al-Qur'an dan Sunnah, tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menolak, tanpa menanyakan bagaimana, dan tanpa mengubah maknanya.
  2. Mengagungkan Allah: Hadits ini mengajarkan kita untuk selalu mengagungkan Allah dan tidak sombong, karena pada hari kiamat semua kesombongan akan sirna.
  3. Menjauhi Jahmiyah: Kita harus menjauhi pemahaman Jahmiyah yang menolak sifat-sifat Allah, karena mereka telah menyimpang dari jalan salaf.
  4. Mengikuti pemahaman salaf: Dalam memahami hadits-hadits sifat, kita harus mengikuti pemahaman para salaf seperti Imam Ahmad, Al-Bukhari, Ad-Darimi, Ibn Taymiyyah, dan Ibn Qayyim.
  5. Tawadhu dan taat: Hadits ini mengajak kita untuk tawadhu, taat kepada Allah, dan menjauhi kesombongan serta kezaliman.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?