Bab Syarat dalam Nikah
Hasan oleh Darussalam
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " مَا كَانَ مِنْ صَدَاقٍ أَوْ حِبَاءٍ أَوْ هِبَةٍ قَبْلَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لَهَا وَمَا كَانَ بَعْدَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لِمَنْ أُعْطِيَهُ أَوْ حُبِيَ وَأَحَقُّ مَا يُكْرَمُ الرَّجُلُ بِهِ ابْنَتُهُ أَوْ أُخْتُهُ " .
Dari 'Amr bin Shu'aib, dari ayahnya, bahwa kakeknya berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Apa pun yang diberikan sebagai mahar atau hadiah sebelum pernikahan, itu adalah miliknya. Apa pun yang diberikan setelah pernikahan adalah milik orang yang menerimanya. Dan hal yang paling berhak untuk dihormati seorang lelaki adalah (pernikahan) putrinya atau saudarinya.'"