Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil penting dalam menetapkan sifat-sifat Allah ﷻ sesuai dengan yang layak bagi-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk. Hadits ini mengajarkan kita tentang kesempurnaan Allah yang tidak pernah tidur, pengaturan urusan makhluk-Nya yang terus berlangsung, serta kebesaran dan keagungan-Nya yang tak terjangkau oleh akal manusia. Hadits ini juga menjadi bantahan terhadap golongan Jahmiyah yang mengingkari sifat-sifat Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pendahuluan, Bab "Tentang Apa yang Ditolak oleh Jahmiyah", nomor 195, dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.
Dalil dari Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
"Dia (Allah) tidak dilanda kantuk dan tidak tidur." (QS. Al-Baqarah [2]: 255)
Ayat Kursi ini menegaskan bahwa Allah Maha Suci dari sifat tidur dan kantuk, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.
Kaitan dengan ulama:
Hadits ini dijadikan dalil oleh para ulama Ahlus Sunnah dalam menetapkan sifat-sifat Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Bayān Talbīs al-Jahmiyyah dan Al-‘Aqīdah al-Wāsitiyyah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah menetapkan sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa ta'thil (menolak), tanpa tamtsil (menyerupakan), dan tanpa takyif (menanyakan bagaimana caranya). Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini adalah bantahan terhadap Jahmiyah yang mengingkari sifat-sifat Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung lima kalimat penting yang disampaikan Rasulullah ﷺ kepada para sahabat. Mari kita rinci satu per satu:
1. "Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur"
Ini adalah penetapan kesempurnaan Allah ﷻ. Tidur adalah sifat kekurangan yang dimiliki makhluk. Allah Maha Suci dari sifat tersebut. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa Allah tidak dilanda kantuk dan tidak tidur, karena tidur adalah sifat makhluk yang lemah. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir As-Sa'di juga menjelaskan bahwa Allah Maha Hidup dan Maha Mengurus seluruh makhluk-Nya, dan sifat tidur adalah kekurangan yang mustahil bagi Allah.
2. "Dia menurunkan Timbangan dan mengangkatnya"
Para ulama menafsirkan bahwa ini berkaitan dengan pengaturan rezeki dan urusan makhluk. Allah ﷻ yang menurunkan dan mengangkat timbangan amal, rezeki, dan keadilan-Nya. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna ini menunjukkan kekuasaan Allah dalam mengatur urusan hamba-Nya, dan bahwa segala sesuatu berada di tangan-Nya.
3. "Amal yang dilakukan pada siang hari diangkat kepada-Nya sebelum amal yang dilakukan pada malam hari, dan amal yang dilakukan pada malam hari sebelum amal yang dilakukan pada siang hari"
Ini menunjukkan bahwa amal-amal hamba diangkat dan dilaporkan kepada Allah ﷻ secara bergantian. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa amal malam diangkat sebelum amal siang, dan amal siang diangkat sebelum amal malam, artinya Allah menerima dan mengetahui semua amal hamba-Nya setiap saat. Ini menunjukkan kesempurnaan ilmu dan pengawasan Allah.
4. "Tirai-Nya adalah Cahaya"
Ini adalah penetapan bahwa Allah ﷻ memiliki hijab (tirai) berupa cahaya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menetapkan sifat hijab bagi Allah, dan ini adalah sifat yang layak bagi-Nya. Para ulama Ahlus Sunnah menetapkan sifat ini tanpa menanyakan bagaimana caranya, karena Allah tidak diserupakan dengan makhluk-Nya.
5. "Jika Dia mengangkatnya, kemuliaan wajah-Nya akan membakar segala sesuatu dari ciptaan-Nya, sejauh pandangan-Nya mencapai"
Ini menunjukkan keagungan dan kebesaran Allah ﷻ. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa agungnya Allah, dan bahwa makhluk tidak akan mampu melihat Allah secara langsung di dunia karena keagungan-Nya. Di akhirat nanti, orang-orang beriman akan melihat Allah sebagai kenikmatan terbesar, namun tetap sesuai dengan keagungan-Nya.
Bantahan terhadap Jahmiyah:
Hadits ini diriwayatkan dalam bab "Tentang Apa yang Ditolak oleh Jahmiyah" karena Jahmiyah mengingkari sifat-sifat Allah, termasuk sifat wajah, sifat cahaya, dan sifat-sifat lainnya. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Fathul Bari (syarah Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dan apa yang Rasulullah ﷺ tetapkan, tanpa ta'thil, tanpa tamtsil, dan tanpa takyif.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Al-‘Aqīdah al-Wāsitiyyah menegaskan bahwa metode Ahlus Sunnah adalah menetapkan sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits, dan menolak penakwilan yang menyimpang yang dilakukan oleh Jahmiyah dan Mu'tazilah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika hadits ini disampaikan oleh Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, beliau menyampaikannya kepada para sahabat dan tabi'in dengan penuh keyakinan. Para sahabat menerima berita tentang sifat-sifat Allah ini dengan penuh keimanan, tanpa bertanya "bagaimana" caranya.
Imam Al-Auza'i rahimahullah, salah seorang ulama tabi'ut tabi'in, pernah ditanya tentang sifat-sifat Allah. Beliau menjawab dengan perkataan yang masyhur: "Kami menetapkannya sebagaimana datangnya, dan kami tidak menanyakan bagaimana caranya." Ini adalah manhaj salaf yang diwariskan dari para sahabat kepada tabi'in, kemudian kepada tabi'ut tabi'in, hingga kepada para ulama Ahlus Sunnah di setiap masa.
Kesimpulan Praktis
- Tetapkan sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menolak, tanpa menyerupakan, dan tanpa menanyakan bagaimana caranya.
- Yakinlah bahwa Allah tidak pernah tidur dan selalu mengurus makhluk-Nya, sehingga kita selalu merasa diawasi dan dijaga oleh-Nya.
- Jadikan hadits ini sebagai penguat iman bahwa Allah Maha Agung dan Maha Besar, dan bahwa kita harus selalu beribadah dengan penuh khusyuk dan tunduk kepada-Nya.
- Jauhi pemahaman yang menyimpang seperti pemahaman Jahmiyah yang mengingkari sifat-sifat Allah, karena itu adalah kesesatan yang nyata.
- Amalkan ilmu ini dengan adab, yaitu dengan mempelajari aqidah yang benar dari para ulama Ahlus Sunnah yang terpercaya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.