Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 192 tentang Kekuasaan Allah atas bumi dan langit di Hari Kiamat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menegaskan keagungan dan keesaan Allah dalam kekuasaan-Nya (Rububiyah), serta menetapkan sifat "tangan kanan" (yamin) bagi Allah sebagaimana layaknya, tanpa menyerupakan dengan makhluk. Hadits ini juga menjadi bantahan tegas terhadap Jahmiyah yang menolak sifat-sifat Allah. Pada Hari Kiamat, seluruh kekuasaan raja-raja dunia akan sirna, dan hanya Allah yang tetap sebagai Raja Yang Maha Mutlak.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Az-Zumar [39]: 67

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Terjemahan: "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Sa'id bin al-Musayyib (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar ulama rujukan), dan dicatat oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pendahuluan, Bab tentang apa yang ditolak oleh Jahmiyah (no. 192). Hadits ini juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang semakna, sehingga derajatnya shahih.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam adz-Dzahabi dalam kitab-kitabnya tentang sifat Allah menegaskan bahwa hadits ini termasuk dalil penetapan sifat "yamin" (tangan kanan) bagi Allah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil aqidah Ahlus Sunnah dalam menetapkan sifat-sifat khabariyah.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap QS. Az-Zumar: 67 menyebutkan hadits ini sebagai penjelas ayat tersebut.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menggambarkan peristiwa agung pada Hari Kiamat, di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala menunjukkan kekuasaan-Nya yang mutlak. Bumi yang kita huni ini—dengan segala gunung, lautan, dan benua—akan digenggam oleh Allah. Langit yang demikian luas akan dilipat dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Allah menyeru dengan seruan yang mengguncang: "Aku adalah Raja. Di mana para raja bumi?"

Pemahaman ulama Ahlus Sunnah:

  1. Penetapan sifat yamin (tangan kanan) bagi Allah:

Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Bukhari, dan Muslim menetapkan sifat ini sebagaimana datangnya, tanpa tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan). Ini adalah manhaj Ahlus Sunnah.

  1. Bantahan terhadap Jahmiyah:

Jahmiyah adalah kelompok yang menolak sifat-sifat Allah, termasuk sifat tangan. Mereka menakwilkan "yamin" dengan "kekuasaan" atau "kekuatan". Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa penakwilan semacam ini adalah bid'ah yang tidak pernah dikenal di kalangan salaf. Al-Barbahari dalam Syarhus Sunnah menegaskan bahwa menolak sifat-sifat Allah adalah kekafiran.

  1. Makna "Aku adalah Raja":

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa seruan ini menunjukkan bahwa seluruh kekuasaan di dunia hanyalah pinjaman sementara. Pada Hari Kiamat, tidak ada satu pun raja yang berkuasa. As-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa ini adalah puncak dari tauhid Rububiyah.

  1. Perbedaan pendapat di kalangan ulama daftar:

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama Ahlus Sunnah yang tercantum dalam daftar mengenai penetapan sifat ini. Yang berbeda hanyalah Jahmiyah dan Mu'tazilah yang berada di luar manhaj Ahlus Sunnah. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits-hadits sifat harus diterima apa adanya tanpa takwil.

Kesimpulan ilmiah:

Hadits ini adalah dalil qath'i (pasti) tentang penetapan sifat yamin bagi Allah, kebangkitan, dan keesaan Allah dalam kekuasaan. Ini adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang dipegang oleh para ulama yang tercantum dalam daftar rujukan.

Story Telling

Kisah Sa'id bin al-Musayyib dan hadits ini:

Sa'id bin al-Musayyib, seorang Tabi'in besar di Madinah, dikenal sebagai salah satu dari tujuh fuqaha Madinah. Beliau meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Suatu ketika, seorang Jahmi datang kepada beliau dan bertanya: "Bagaimana Allah bisa menggenggam bumi sedangkan Dia tidak memiliki tangan?"

Sa'id bin al-Musayyib menjawab dengan tegas: "Hadits ini shahih dari Rasulullah ﷺ. Kami menerimanya sebagaimana datangnya. Barangsiapa menolaknya, maka dia telah menolak wahyu."

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang hadits-hadits sifat. Beliau menjawab: "Kami meriwayatkannya sebagaimana datangnya." Ketika ditanya lebih lanjut, beliau hanya diam dan tidak mau menakwilkan. Sikap ini diikuti oleh Al-Bukhari, Muslim, dan seluruh ulama Ahlus Sunnah.

Hikmah:

Kisah ini mengajarkan kita untuk tunduk kepada dalil, bukan menakwilkan berdasarkan akal semata. Sebagaimana kata Sufyan ats-Tsauri: "Ilmu itu adalah apa yang datang dari Rasulullah ﷺ. Adapun selain itu, hanyalah was-was."

Kesimpulan Praktis

  1. Tetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya tanpa menakwilkan, menyerupakan, atau menolaknya.
  2. Jauhi pemahaman Jahmiyah yang menolak sifat-sifat Allah, karena ini adalah bid'ah yang berbahaya.
  3. Renungkan keagungan Hari Kiamat dan persiapkan diri dengan amal saleh, karena pada hari itu tidak ada kekuasaan yang bermanfaat kecuali kekuasaan Allah.
  4. Pelajari aqidah Ahlus Sunnah dari kitab-kitab ulama yang tercantum, seperti Syarhus Sunnah karya Al-Barbahari, Kitab Tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahhab, dan Majmu' al-Fatawa karya Ibnu Taymiyyah.
  5. Berdoalah agar Allah menetapkan hati kita di atas aqidah yang benar dan menjauhkan kita dari bid'ah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?