Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 189 tentang Rahmat Allah mendahului murka-Nya

Tentu, saya akan menjelaskan hadits ini sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menegaskan bahwa rahmat Allah itu lebih dahulu dan lebih dominan daripada murka-Nya. Allah sendiri yang menulis ketetapan ini dengan tangan-Nya sebelum menciptakan makhluk, sebagai jaminan kasih sayang-Nya kepada hamba. Hadits ini juga membantah kaum Jahmiyah yang menolak sifat-sifat Allah, karena di dalamnya terdapat penetapan sifat "tangan" dan "menulis" bagi Allah secara hakiki sesuai keagungan-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-A'raf [7]: 156

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ

"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu."

QS. Al-An'am [6]: 12

قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُلْ لِلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۚ

"Katakanlah: 'Milik siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?' Katakanlah: 'Milik Allah.' Dia telah menetapkan atas diri-Nya sendiri kasih sayang."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab al-Muqaddimah, Bab "Apa yang Ditolak oleh Jahmiyah" (no. 189). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan lafaz yang semakna, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalil penetapan sifat yad (tangan) bagi Allah secara hakiki, bukan majaz.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Bada'i al-Fawa'id dan Hadi al-Arwah menegaskan bahwa "rahmat mendahului murka" menunjukkan luasnya rahmat Allah dan bahwa murka-Nya hanya tertuju kepada orang yang benar-benar menentang.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan bahwa rahmat Allah itu umum bagi seluruh makhluk di dunia, dan khusus bagi orang beriman di akhirat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pokok penting:

Pertama: Penetapan sifat "menulis" dan "tangan" bagi Allah.

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini sengaja ditempatkan Ibnu Majah dalam bab "Apa yang Ditolak oleh Jahmiyah" untuk membantah kelompok Jahmiyah yang menolak sifat-sifat khabariyah (sifat yang hanya diketahui melalui wahyu), seperti sifat tangan, wajah, dan istiwa. Jahmiyah menakwilkan "tangan" dengan "kekuasaan" atau "nikmat". Namun Ahlus Sunnah menetapkan sifat tangan bagi Allah secara hakiki, tanpa menyerupakannya dengan makhluk, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 64: بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ ("Bahkan kedua tangan-Nya terbuka").

Kedua: Rahmat mendahului murka.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa kalimat "rahmat-Ku mendahului murka-Ku" menunjukkan bahwa rahmat Allah itu lebih utama, lebih dahulu, dan lebih luas. Ini bukan berarti murka Allah tidak ada, tetapi bahwa rahmat-Nya lebih dominan. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa maknanya adalah rahmat Allah lebih cepat dan lebih luas menjangkau hamba, sedangkan murka hanya tertuju kepada orang yang benar-benar melampaui batas.

Ketiga: Ketetapan ini ditulis sebelum penciptaan makhluk.

Ini menunjukkan bahwa rahmat Allah bukanlah reaksi setelah makhluk berbuat baik, melainkan sudah menjadi ketetapan azali. As-Sa'di menjelaskan bahwa ini adalah bentuk jaminan dan penghiburan bagi hamba agar tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama menakwilkan "tangan" dengan "kekuasaan", namun ini adalah pendapat Jahmiyah dan Mu'tazilah yang ditolak oleh Ahlus Sunnah. Yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat Ahlus Sunnah yang menetapkan sifat tangan bagi Allah secara hakiki tanpa tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan). Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Ibnu Hajar, Ibn Qayyim, dan as-Sa'di.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang salaf, Fudail bin 'Iyadh rahimahullah, pernah mendengar seseorang berkata: "Aku tidak akan berhenti berbuat dosa sampai Allah benar-benar murka kepadaku." Fudail lalu menangis dan berkata: "Celaka engkau! Bukankah rahmat Allah itu mendahului murka-Nya? Mengapa engkau justru menantang murka-Nya?" (disebutkan secara makna dalam kitab-kitab salaf). Kisah ini mengingatkan bahwa hadits ini seharusnya membuat kita berharap kepada rahmat Allah, bukan malah bermaksiat karena mengandalkan rahmat-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Tetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan, tanpa menakwilkan atau menolaknya, sebagaimana pemahaman Ahlus Sunnah.
  2. Berharaplah kepada rahmat Allah, karena rahmat-Nya lebih dahulu dan lebih luas daripada murka-Nya.
  3. Jangan berputus asa dari rahmat Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Az-Zumar [39]: 53.
  4. Jangan bermaksiat dengan alasan mengandalkan rahmat, karena murka Allah juga nyata bagi yang menentang.
  5. Pelajari aqidah Ahlus Sunnah dari kitab-kitab ulama yang mu'tabar, seperti Fathul Bari, Syarah Shahih Muslim, dan Tafsir as-Sa'di.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?