Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 186 tentang Penetapan ru'yatullah dan surga bertingkat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menegaskan dua hal besar: (1) gambaran indahnya surga dengan dua taman dari perak dan dua taman dari emas, dan (2) bahwa kaum mukmin kelak akan melihat Allah Ta'ala secara langsung di surga, dan yang menghalangi hanyalah "rida'ul kibriya" (selendang keagungan) di wajah-Nya. Hadits ini termasuk dalil pokok Ahlus Sunnah dalam menetapkan sifat ru'yatullah (melihat Allah) di akhirat, sekaligus bantahan terhadap Jahmiyah yang menolak hal itu.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Qiyamah [75]: 22–23

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ۝ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Terjemahan: "Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannya mereka melihat."

QS. Yunus [10]: 26

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

Terjemahan: "Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala terbaik (surga) dan tambahan (melihat Allah)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab al-Muqaddimah, Bab "Apa yang ditolak oleh Jahmiyah" (no. 186), dari jalur Abu Bakr bin Abdullah bin Qais Al-Asy'ari dari ayahnya (Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu). Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy'ari dengan lafaz yang semakna, dan At-Tirmidzi juga meriwayatkannya.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tegas bahwa mukmin akan melihat Allah di akhirat, dan bahwa "rida'ul kibriya" adalah sifat yang tidak boleh dita'wil atau diingkari.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Qiyamah: 22–23 menegaskan bahwa ayat ini adalah pokok dalil ru'yatullah, dan Jahmiyah menyimpang dalam menolaknya.
  • Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa dan Ibn Qayyim dalam Hadi al-Arwah menegaskan bahwa melihat Allah adalah kenikmatan tertinggi penghuni surga, dan hadits ini termasuk dalil yang paling jelas.
  • Adz-Dzahabi dalam al-'Uluw menyebut hadits ini sebagai bagian dari dalil-dalil sifat Allah yang tidak boleh ditolak.

Penjelasan Rinci

1. Makna "dua taman dari perak dan dua taman dari emas"

Para ulama menjelaskan bahwa surga memiliki tingkatan. Ibn Katsir menyebut bahwa dua taman dari perak adalah untuk golongan umum mukmin, sedangkan dua taman dari emas adalah untuk golongan yang lebih tinggi derajatnya (muqarrabin). Ibnu Hajar mengutip penjelasan ini dan menyatakan bahwa perbedaan ini menunjukkan luasnya karunia Allah dan beragamnya derajat penghuni surga.

2. Makna "tidak ada yang menghalangi antara manusia dan melihat Tuhannya kecuali rida'ul kibriya"

Ini adalah inti hadits. Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa "rida'ul kibriya" adalah sifat keagungan dan kebesaran Allah yang layak bagi-Nya, dan tidak boleh dita'wil menjadi makna lain. Yang dimaksud adalah bahwa di dunia ada hijab (penghalang), sedangkan di surga penghalang itu diangkat, sehingga mukmin dapat melihat Allah. Ibn Qayyim dalam Hadi al-Arwah menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan ru'yatullah adalah kenikmatan paling agung di surga, melebihi segala kenikmatan lainnya.

3. Bantahan terhadap Jahmiyah

Jahmiyah (pengikut Jahm bin Shafwan) menolak bahwa Allah dapat dilihat, dengan alasan bahwa melihat Allah berarti menyerupai makhluk. Imam Ahmad bin Hanbal menegaskan bahwa ru'yatullah adalah haq (benar) berdasarkan Al-Qur'an, hadits, dan ijma' salaf. Al-Bukhari dalam Khalq Af'al al-'Ibad dan Ad-Darimi dalam ar-Radd 'ala al-Jahmiyah membantah syubhat Jahmiyah dengan dalil-dalil seperti QS. Al-Qiyamah: 22–23 dan hadits ini.

4. Perbedaan pendapat di antara ulama daftar

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama Ahlus Sunnah yang tercantum dalam daftar mengenai penetapan ru'yatullah. Yang berbeda adalah Jahmiyah dan Mu'tazilah yang menolaknya, dan mereka bukan termasuk ulama dalam daftar rujukan. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat Ahlus Sunnah: ru'yatullah adalah haq dan akan terjadi di akhirat bagi mukmin.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya oleh seorang Jahmi tentang ayat "وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ". Orang itu berkata: "Ini berarti mereka menunggu nikmat dari Tuhannya, bukan melihat-Nya." Imam Ahmad menjawab dengan tegas: "Tidak, ini adalah melihat dengan mata kepala, dan hadits Abu Musa Al-Asy'ari tentang rida'ul kibriya adalah dalil yang tidak bisa dita'wil." (Kisah ini disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala dan Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan-Nihayah secara makna).

Hikmahnya: Ahlus Sunnah berpegang pada nash yang jelas dan tidak menolak sifat Allah dengan akal semata.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini bahwa mukmin akan melihat Allah di surga — ini adalah kenikmatan tertinggi dan bagian dari aqidah Ahlus Sunnah.
  2. Jangan mena'wil sifat Allah seperti "rida'ul kibriya" menjadi makna yang menyimpang; terima sebagaimana datangnya.
  3. Jauhi pemahaman Jahmiyah yang menolak sifat Allah dan ru'yatullah, karena bertentangan dengan Al-Qur'an dan hadits.
  4. Rindukan surga dan amal saleh — dua taman dari perak dan emas adalah gambaran betapa luasnya karunia Allah bagi orang beriman.
  5. Pelajari aqidah dari ulama yang tercantum seperti Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, Adz-Dzahabi, dan Ibnu Hajar, agar tidak tersesat dalam memahami sifat Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?