Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 178 tentang Melihat Allah di akhirat tanpa keraguan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menetapkan salah satu akidah Ahlus Sunnah yang agung, yaitu melihat Allah ﷻ dengan mata kepala di akhirat nanti. Rasulullah ﷺ mengumpamakan kemudahan dan kejelasan melihat Allah seperti melihat bulan purnama yang terang, tanpa berdesak-desakan dan tanpa keraguan. Ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman, sekaligus bantahan terhadap golongan Jahmiyah yang mengingkari ru’yah (melihat Allah) di akhirat.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Dalil dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ۝ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat."

(QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23)

Ayat ini adalah dalil paling tegas bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah ﷻ di akhirat. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kenikmatan melihat Allah bagi para wali-Nya di surga, sebagaimana diriwayatkan dari para sahabat dan tabi'in.

2. Hadits terkait:

Hadits yang sama juga diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda:

"إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ"

"Sungguh kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan di malam purnama, kalian tidak akan berdesak-desakan dalam melihat-Nya."

(HR. Al-Bukhari, no. 554)

3. Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil qath'i (pasti) tentang penetapan ru'yah (melihat Allah) di akhirat, dan menjadi bantahan terhadap Jahmiyah dan Mu'tazilah yang mengingkarinya. Beliau menukil ijma' (kesepakatan) para sahabat dan tabi'in dalam menetapkan hal ini.

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk hadits-hadits sifat yang menjadi pokok akidah Ahlus Sunnah. Mari kita pahami maknanya secara mendalam:

1. Makna "Tadhammun" (تَضَامُّونَ)

Kata ini berarti berdesak-desakan atau saling berhimpitan karena sempitnya tempat. Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat: "Apakah kalian berdesak-desakan ketika melihat bulan purnama?" Mereka menjawab: "Tidak." Maka beliau bersabda bahwa demikian pula halnya ketika melihat Allah ﷻ di akhirat—tidak ada desakan, tidak ada keraguan, dan tidak ada kesulitan.

2. Makna "Ru'yah" (Melihat Allah)

Para ulama Ahlus Sunnah dari kalangan salaf—seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Imam asy-Syafi'i, dan para imam hadits—menetapkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah ﷻ dengan mata kepala mereka di akhirat. Ini adalah kenikmatan terbesar di surga, melebihi segala kenikmatan lainnya.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Hadi al-Arwah menjelaskan bahwa melihat Allah adalah puncak kenikmatan penghuni surga, dan inilah yang membuat mereka lupa segala kenikmatan lainnya.

3. Bantahan terhadap Jahmiyah

Hadits ini secara khusus menjadi bantahan terhadap golongan Jahmiyah yang mengingkari sifat-sifat Allah dan mengingkari ru'yah. Mereka berdalih bahwa Allah tidak mungkin dilihat karena Dia tidak menyerupai makhluk. Namun Ahlus Sunnah menjawab: Kami menetapkan apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan, tanpa menanyakan "bagaimana" (kaifiyah). Kita melihat Allah dengan cara yang layak bagi keagungan-Nya, tanpa menyerupai makhluk.

4. Pelajaran tentang Kemuliaan Orang Beriman

Perumpamaan bulan purnama menunjukkan bahwa melihat Allah itu jelas, terang, dan penuh kenikmatan—bukan penglihatan yang samar atau meragukan. Ini adalah kabar gembira yang menenangkan hati orang-orang beriman.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika ayat "Kepada Tuhannyalah mereka melihat" (QS. Al-Qiyamah: 23) turun, para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ: "Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami?" Beliau menjawab: "Apakah kalian merasa kesulitan melihat matahari di tengah hari yang cerah tanpa awan?" Mereka menjawab: "Tidak." Beliau bertanya lagi: "Apakah kalian merasa kesulitan melihat bulan purnama di malam yang cerah tanpa awan?" Mereka menjawab: "Tidak." Maka beliau bersabda: "Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat keduanya." (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan bagaimana Nabi ﷺ menguatkan keyakinan para sahabat dengan perumpamaan yang mudah dipahami, agar hati mereka tenang dan rindu untuk bertemu dengan Allah ﷻ.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinilah bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah ﷻ di akhirat—ini adalah kenikmatan terbesar di surga.
  2. Jauhilah perdebatan tentang "bagaimana" cara melihat Allah, karena itu di luar jangkauan akal manusia. Cukup tetapkan dan imani.
  3. Jadikan kerinduan bertemu Allah sebagai motivasi untuk memperbaiki ibadah dan menjauhi maksiat.
  4. Pelajarilah akidah dari sumber yang shahih, sebagaimana dipahami para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.