Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1769 tentang I'tikaf Nabi sepuluh hari, tahun wafat dua puluh hari

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan dua hal utama: (1) I'tikaf adalah sunnah Nabi ﷺ yang dilakukan rutin setiap tahun, dan beliau memperbanyaknya di akhir hayat menjadi dua puluh hari; (2) Setiap tahunnya Jibril 'alaihis salam menyetorkan (muraja'ah) Al-Qur'an kepada Nabi ﷺ, dan di tahun wafatnya hal itu dilakukan dua kali sebagai isyarat dekatnya ajal. Ini mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam ibadah, terutama di waktu-waktu yang penuh berkah, serta pentingnya muraja'ah (mengulang) hafalan Al-Qur'an.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Puasa, Bab I'tikaf, no. 1769. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab I'tikaf, Bab I'tikaf di Sepuluh Hari Terakhir, no. 2022, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Terdapat pula dalil dari Al-Qur'an tentang disyariatkannya i'tikaf, yaitu firman Allah Ta'ala:

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

"Dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu) ketika kamu sedang beri'tikaf di masjid." (QS. Al-Baqarah [2]: 187)

Ayat ini menunjukkan bahwa i'tikaf adalah ibadah yang dikenal dan disyariatkan dalam Islam, karena Allah menyebutkan keadaan orang yang beri'tikaf di dalam masjid.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan disyariatkannya i'tikaf, yaitu berdiam diri di masjid untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, dan bahwa orang yang beri'tikaf dilarang melakukan jima' (hubungan suami istri) dengan istrinya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa i'tikaf secara bahasa berarti berdiam diri dan menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar'i, i'tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.

1. Tentang I'tikaf Nabi ﷺ

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ rutin beri'tikaf setiap tahun di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ini menunjukkan bahwa i'tikaf adalah ibadah yang sangat dicintai oleh beliau dan menjadi kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan.

Adapun pada tahun wafatnya, beliau beri'tikaf selama dua puluh hari. Para ulama menyebutkan beberapa hikmah di antaranya:

  • Sebagai bentuk kesungguhan beliau dalam beribadah di akhir hayat, karena beliau ingin memberikan teladan yang sempurna kepada umatnya.
  • Sebagai isyarat bahwa ajal beliau sudah dekat, sehingga beliau memperbanyak ibadah.
  • Sebagai penebusan atau penyempurnaan, karena ada sebagian ulama yang menyebutkan bahwa pada tahun sebelumnya beliau pernah batal i'tikafnya di tengah jalan, sehingga beliau menggantinya dengan beri'tikaf dua puluh hari di tahun berikutnya.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa i'tikaf disunnahkan di sepuluh hari terakhir Ramadhan, berdasarkan hadits-hadits shahih yang menunjukkan hal tersebut. Dan memperbanyak i'tikaf di luar itu adalah boleh dan tetap mendapatkan pahala.

2. Tentang Muraja'ah Al-Qur'an

Makna "عُرِضَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ" (Al-Qur'an ditampilkan/disetorkan kepadanya) adalah Jibril 'alaihis salam menyimak bacaan Al-Qur'an dari Nabi ﷺ, atau Nabi ﷺ yang menyimak bacaan Jibril. Ini adalah bentuk muraja'ah dan saling menyimak hafalan Al-Qur'an.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Latha'if Al-Ma'arif menjelaskan bahwa kebiasaan ini dilakukan setiap tahun di bulan Ramadhan, dan di tahun wafatnya Nabi ﷺ, Al-Qur'an disetorkan dua kali sebagai isyarat bahwa wahyu akan segera berakhir dan ajal beliau sudah dekat.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa muraja'ah Al-Qur'an adalah perkara yang sangat penting bagi para penghafal Al-Qur'an. Karena Al-Qur'an itu cepat hilang dari hafalan jika tidak diulang-ulang. Maka dari itu, kita dianjurkan untuk senantiasa mengulang hafalan Al-Qur'an, sebagaimana Nabi ﷺ sendiri melakukannya bersama Jibril setiap tahun.

3. Pelajaran dari Hadits Ini

Dari hadits ini, para ulama mengambil beberapa pelajaran:

  • I'tikaf adalah ibadah yang dicontohkan langsung oleh Nabi ﷺ dan dianjurkan untuk dilakukan, terutama di sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk mencari Lailatul Qadar.
  • Kesungguhan dalam beribadah di akhir hayat adalah teladan yang baik. Seseorang hendaknya tidak merasa cukup dengan amal yang telah lalu, tetapi terus berusaha meningkatkan kualitas ibadahnya.
  • Muraja'ah Al-Qur'an adalah amalan yang dicontohkan Nabi ﷺ dan para ulama sangat menekankan pentingnya hal ini bagi para penghafal Al-Qur'an.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Nabi ﷺ biasa beri'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkannya, kemudian istri-istri beliau beri'tikaf setelah beliau wafat." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan betapa istiqamahnya Nabi ﷺ dalam beri'tikaf. Beliau tidak pernah meninggalkannya sejak disyariatkan hingga akhir hayat. Dan para istri beliau pun melanjutkan sunnah ini setelah beliau wafat. Ini adalah bukti bahwa i'tikaf adalah ibadah yang dicintai oleh keluarga Nabi ﷺ dan mereka menjaganya dengan sungguh-sungguh.

Ada juga kisah tentang sahabat yang ingin beri'tikaf namun tidak sempat, sebagaimana dalam hadits Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu yang berkata: "Wahai Rasulullah, aku pernah bernazar untuk beri'tikaf satu malam di Masjidil Haram pada masa jahiliyah." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Penuhilah nazarmu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa i'tikaf adalah ibadah yang dikenal dan diakui syariatnya, bahkan nazar untuk melakukannya harus ditepati.

Kesimpulan Praktis

  1. I'tikaf adalah sunnah yang dicontohkan langsung oleh Nabi ﷺ dan dianjurkan untuk dilakukan terutama di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
  2. Bersungguh-sungguhlah dalam ibadah, karena Nabi ﷺ justru menambah ibadahnya di akhir hayat, bukan menguranginya.
  3. Jaga muraja'ah Al-Qur'an, karena Nabi ﷺ sendiri rutin menyetorkan hafalannya kepada Jibril setiap tahun, dan di akhir hayatnya dua kali. Ini menunjukkan pentingnya menjaga dan mengulang hafalan Al-Qur'an.
  4. Manfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk memperbanyak ibadah, doa, dan mencari Lailatul Qadar, sebagaimana kebiasaan Nabi ﷺ.
  5. Jika berhalangan untuk i'tikaf penuh, tetap berusahalah untuk memperbanyak ibadah di masjid atau di rumah, karena Allah melihat kesungguhan hamba-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.