Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan kesungguhan Nabi ﷺ yang luar biasa dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau menghidupkan malam-malam tersebut dengan shalat, doa, dan dzikir; mengencangkan ikat pinggangnya sebagai simbol kesungguhan dan menjauhi istri (menahan diri dari hubungan suami istri); serta membangunkan keluarganya agar mereka juga meraih keutamaan malam-malam tersebut, terutama mencari Lailatul Qadar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Puasa, Bab Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadan, nomor 1768. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari jalur lain, dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
Teks Hadits (Arab berharakat lengkap):
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الزُّهْرِيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ ابْنِ عُبَيْدِ بْنِ نِسْطَاسٍ، عَنْ أَبِي الضُّحَى، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Makna ringkas: Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa apabila sepuluh hari terakhir Ramadan tiba, Nabi ﷺ menghidupkan malamnya, mengencangkan sarungnya (bersungguh-sungguh), dan membangunkan keluarganya.
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Malam kemuliaan (Lailatul Qadar) itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS. Al-Qadr [97]: 3)
Juga firman-Nya:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra' [17]: 79)
Penjelasan ulama tentang hadits ini:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "menghidupkan malam" adalah menghabiskan malam dengan ibadah, atau sebagian besarnya. Sedangkan "mengencangkan sarung" adalah kinayah (ungkapan kiasan) dari kesungguhan dalam beribadah dan menjauhi istri. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menjelaskan hal serupa, bahwa beliau ﷺ bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir melebihi malam-malam lainnya.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan sangat indah. Ada tiga amalan utama yang dilakukan Nabi ﷺ pada sepuluh malam terakhir Ramadan:
Pertama: Menghidupkan malam (أَحْيَا اللَّيْلَ)
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa menghidupkan malam berarti menghabiskan malam dengan ibadah seperti shalat, dzikir, doa, dan membaca Al-Qur'an. Beliau juga menukil perkataan sebagian ulama bahwa Nabi ﷺ menghidupkan seluruh malam pada sepuluh malam terakhir, dan ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Imam Asy-Syafi'i dalam salah satu qaulnya.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa menghidupkan malam tidak harus berarti tidak tidur sama sekali sepanjang malam, tetapi yang terpenting adalah mengisinya dengan ibadah. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi ﷺ benar-benar menghidupkan seluruh malamnya pada sepuluh malam terakhir.
Kedua: Mengencangkan sarung (شَدَّ الْمِئْزَرَ)
Para ulama berbeda pendapat tentang makna ini. Ada dua penafsiran utama:
- Kiasan dari kesungguhan: Ini adalah pendapat Imam An-Nawawi dan mayoritas ulama. Maknanya adalah beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah, seperti orang yang bersiap untuk bekerja keras dengan mengencangkan pakaiannya.
- Menjauhi istri: Ini juga pendapat yang masyhur. Beliau menjauhi istri-istrinya untuk fokus beribadah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa menyebutkan bahwa Nabi ﷺ menjauhi istri-istrinya pada sepuluh malam terakhir.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa kedua makna ini bisa digabungkan, karena keduanya saling melengkapi. Kesungguhan beliau dalam ibadah membuat beliau meninggalkan hal-hal yang mubah seperti hubungan suami istri.
Ketiga: Membangunkan keluarga (أَيْقَظَ أَهْلَهُ)
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi ﷺ membangunkan keluarganya pada sepuluh malam terakhir. Ini menunjukkan perhatian beliau terhadap keluarganya agar mereka juga meraih keutamaan Lailatul Qadar.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ secara khusus membangunkan istri-istrinya, dan ini adalah pelajaran bagi para suami untuk memperhatikan ibadah keluarganya, tidak hanya sibuk dengan ibadah sendiri.
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Qiyam Ramadhan menjelaskan bahwa membangunkan keluarga untuk shalat malam adalah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ, dan ini menunjukkan pentingnya peran kepala keluarga dalam membimbing keluarganya kepada ketaatan.
Story Telling
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata: "Adalah Nabi ﷺ apabila masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, mengencangkan sarungnya, dan menjauhi istri-istrinya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Aisyah radhiyallahu 'anha juga berkata: "Saya tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ beribadah pada suatu malam melebihi ibadah beliau pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir melebihi kesungguhan beliau pada malam-malam lainnya." (HR. Muslim)
Kisah ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Nabi ﷺ terhadap sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau yang telah dijamin masuk surga dan diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang, tetap bersungguh-sungguh dalam ibadah. Maka bagaimana dengan kita yang penuh dosa dan kekurangan? Sudah sepantasnya kita meneladani beliau dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah, terutama di sepuluh malam terakhir ini.
Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memiliki kebiasaan khusus di sepuluh malam terakhir yang tidak beliau lakukan di malam-malam lainnya, yaitu menghidupkan malam, membangunkan keluarga, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.
Kesimpulan Praktis
- Hidupkan malam-malam sepuluh terakhir dengan shalat, dzikir, doa, dan membaca Al-Qur'an, terutama pada malam-malam ganjil yang diharapkan sebagai Lailatul Qadar.
- Bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan meninggalkan hal-hal yang mubah dan fokus pada ketaatan, seperti yang dicontohkan Nabi ﷺ.
- Bangunkan keluarga untuk ikut beribadah, karena ini adalah bagian dari kepemimpinan seorang suami/ayah dalam rumah tangga.
- Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Aisyah: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni" (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku).
- Jangan sia-siakan malam-malam ini, karena di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.