Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1766 tentang Mencari Lailatul Qadr pada malam ganjil sepuluh terakhir

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan bahwa Nabi ﷺ pernah diperlihatkan kapan Lailatul Qadr, lalu beliau “dilupakan” tentang waktunya. Karena itu beliau mengarahkan umatnya untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan i’tikaf, terutama di sepuluh malam terakhir.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Puasa, Bab Malam Lailatul Qadr, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Perawi jalurnya: Abu Bakr bin Abi Syaibah → Isma’il bin ‘Ulayyah → Hisyam Ad-Dastawa’i → Yahya bin Abi Katsir → Abu Salamah → Abu Sa’id Al-Khudri.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ، عَنْ هِشَامٍ الدَّسْتَوَائِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ اعْتَكَفْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ مِنْ رَمَضَانَ فَقَالَ: إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَأُنْسِيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي الْوَتْرِ

Terjemahan: “Kami beri’tikaf bersama Rasulullah ﷺ pada sepuluh hari pertengahan Ramadan. Beliau bersabda: ‘Aku diperlihatkan Lailatul Qadr lalu aku dilupakan tentangnya, maka carilah ia pada sepuluh malam terakhir, pada malam-malam ganjil.’”

Dalil Al-Qur’an yang berkaitan:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

QS. Al-Qadr [97]: 1 — “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr).”

Juga:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

QS. Ad-Dukhan [44]: 3 — “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang penuh berkah.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Lailatul Qadr adalah malam yang agung, malam diturunkannya Al-Qur’an, dan malam penetapan takdir tahunan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan Lailatul Qadr berpindah-pindah pada sepuluh malam terakhir dan lebih diharapkan pada malam ganjil. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa disunnahkan bersungguh-sungguh pada seluruh sepuluh malam terakhir, tidak hanya malam ganjil, karena bisa jadi Lailatul Qadr jatuh pada malam genap.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama, i’tikaf pada sepuluh hari pertengahan Ramadan pernah dilakukan Nabi ﷺ bersama para sahabat. Ini menunjukkan i’tikaf adalah ibadah yang disyariatkan, dan waktunya bisa di awal, pertengahan, atau akhir Ramadan. Namun yang paling utama adalah sepuluh malam terakhir, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi ﷺ beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir (diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Kedua, sabda beliau “أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَأُنْسِيتُهَا” — “Aku diperlihatkan Lailatul Qadr lalu aku dilupakan tentangnya.” Ini menunjukkan bahwa pengetahuan pasti tentang kapan Lailatul Qadr telah diangkat dari beliau. Hikmahnya, menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah di seluruh sepuluh malam terakhir, bukan hanya mengandalkan satu malam saja. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma’arif menjelaskan bahwa “dilupakan” di sini adalah ujian dan rahmat, supaya umat memperbanyak amal.

Ketiga, arahan “فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي الْوَتْرِ” — “Carilah ia pada sepuluh malam terakhir, pada malam-malam ganjil.” Malam ganjil yang dimaksud adalah malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Namun para ulama menjelaskan bahwa hitungan malam bisa berbeda: jika malam dihitung dari awal malam, maka malam ganjil adalah 21, 23, 25, 27, 29. Jika dihitung dari siang hari, bisa berbeda. Karena itu Imam an-Nawawi menegaskan agar bersungguh-sungguh di semua malam sepuluh terakhir, baik ganjil maupun genap.

Keempat, hadits ini juga menunjukkan bahwa Lailatul Qadr bisa berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Ibn Taymiyyah rahimahullah dalam Majmu’ al-Fatawa menjelaskan bahwa Lailatul Qadr bisa berpindah pada malam-malam sepuluh terakhir, dan tidak harus selalu malam ke-27. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya.

Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar: sebagian ulama seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar cenderung menekankan seluruh sepuluh malam terakhir, sedangkan sebagian lain menekankan malam ganjil. Namun kesimpulannya, yang paling kuat adalah bersungguh-sungguh di seluruh sepuluh malam terakhir, dengan penekanan lebih pada malam ganjil, sebagaimana zahir hadits.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang mulia dan banyak meriwayatkan hadits, menceritakan pengalaman beliau beri’tikaf bersama Nabi ﷺ. Beliau dan para sahabat beri’tikaf pada sepuluh hari pertengahan Ramadan. Mereka berharap mendapatkan Lailatul Qadr. Namun Nabi ﷺ memberitahu bahwa beliau telah diperlihatkan malam itu, lalu dilupakan. Maka beliau mengarahkan mereka untuk mencarinya di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam ganjil.

Hikmahnya: seorang mukmin tidak boleh malas dan hanya mengandalkan satu malam. Justru dengan “dilupakan”nya waktu pasti Lailatul Qadr, umat Islam terdorong untuk beribadah lebih banyak, lebih khusyuk, dan lebih lama. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, agar pahala mereka berlipat ganda.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29).
  2. Hidupkan malam-malam tersebut dengan shalat malam, tilawah Al-Qur’an, doa, dzikir, dan istighfar.
  3. I’tikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir adalah sunnah yang sangat dianjurkan jika mampu.
  4. Jangan hanya fokus pada malam ke-27 saja, tetapi berusahalah di semua malam sepuluh terakhir.
  5. Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ: “اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي” — “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. At-Tirmidzi, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?