Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1765 tentang Bab Tentang Orang yang Makan dan Bersyukur Seperti Orang yang Berpuasa dan Bersabar

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa orang yang makan dan bersyukur kepada Allah dengan hati, lisan, dan perbuatan, mendapatkan pahala yang setara dengan orang yang berpuasa dan bersabar. Ini menunjukkan betapa besarnya kedudukan syukur dalam Islam. Syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah, tetapi juga mengakui nikmat dari Allah, memuji-Nya, dan menggunakan nikmat itu di jalan ketaatan. Dengan demikian, seorang mukmin bisa meraih pahala besar meskipun tidak berpuasa, asalkan ia benar-benar bersyukur.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an: Syukur sebagai Kunci Tambahan Nikmat

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

(QS. Ibrahim [14]: 7)

Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'"

Ayat ini menjadi landasan utama bahwa syukur mendatangkan tambahan nikmat dari Allah. Orang yang bersyukur saat makan, berarti ia telah membuka pintu keberkahan dan pahala yang besar.

2. Hadits Utama

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الرَّقِّيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي حُرَّةَ، عَنْ عَمِّهِ، حَكِيمِ بْنِ أَبِي حُرَّةَ عَنْ سِنَانِ بْنِ سَنَّةَ الأَسْلَمِيِّ، صَاحِبِ النَّبِيِّ ـ ﷺ ـ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ ‏"‏ الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ ‏"‏ ‏.‏

(HR. Ibnu Majah, Kitab Puasa, Bab Orang yang Makan dan Bersyukur Seperti Orang yang Berpuasa dan Bersabar, no. 1765)

Terjemahan: "Orang yang makan sambil bersyukur akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa dan bersabar."

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah (no. 1427). Beliau termasuk ulama yang sangat teliti dalam bidang hadits dan sering merujuk kepada metode para imam hadits terdahulu seperti al-Bukhari, Muslim, dan adz-Dzahabi.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Latha'if al-Ma'arif (hlm. 280-282) membahas keutamaan syukur atas nikmat makanan dan mengaitkannya dengan pahala puasa. Beliau menjelaskan bahwa syukur yang sempurna dapat menyamai pahala puasa jika dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam Majmu' Fatawa (15/247) juga menekankan bahwa hadits ini mendorong seorang mukmin untuk selalu bersyukur, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, dan syukur merupakan ibadah yang agung yang bisa mendatangkan pahala besar tanpa harus meninggalkan nikmat.

Penjelasan Rinci

Makna Umum Hadits

Rasulullah ﷺ dalam hadits ini menyetarakan pahala orang yang makan dan bersyukur dengan pahala orang yang berpuasa dan bersabar. Puasa adalah ibadah yang memerlukan kesabaran menahan lapar, haus, dan syahwat dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Sedangkan syukur adalah ibadah hati dan lisan yang ringan di lidah tetapi berat di timbangan.

Penafsiran Ulama

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Madarij as-Salikin (2/240-246) menguraikan bahwa syukur memiliki tiga rukun:

  1. Syukur dengan hati – mengakui bahwa nikmat semata-mata dari Allah, bukan dari kemampuan diri sendiri.
  2. Syukur dengan lisan – memuji Allah, mengucapkan alhamdulillah, dan menceritakan nikmat-Nya.
  3. Syukur dengan anggota badan – menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan dan menjauhkan diri dari maksiat.

Orang yang makan dan bersyukur berarti ia memenuhi ketiga rukun ini. Ia sadar bahwa makanan itu rezeki dari Allah, ia mengucapkan hamdalah sebelum dan sesudah makan, serta ia menggunakan tenaga dari makanan itu untuk beribadah kepada Allah. Maka pahalanya bisa menyamai pahala orang yang berpuasa.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhus Shalihin (1/586-587) menjelaskan bahwa persamaan pahala ini bukan berarti nilai puasa dan syukur identik dalam setiap keadaan, tetapi bahwa syukur yang sempurna bisa mencapai derajat yang sangat tinggi di sisi Allah. Beliau juga mengingatkan agar tidak meninggalkan puasa wajib atau sunnah dengan alasan syukur saja, karena puasa sendiri adalah bentuk syukur yang paling utama.

Perbedaan Pendapat

Sebagian ulama (seperti Imam Ahmad dalam satu riwayat) cenderung mengartikan hadits ini secara literal, bahwa pahala keduanya sama persis jika syukur itu benar-benar tulus dan sempurna. Sebagian lain (seperti Ibn Rajab) mengatakan bahwa keutamaan syukur bisa menyamai puasa dalam kondisi tertentu, misalnya bagi orang yang tidak mampu berpuasa karena sakit atau uzur syar’i, maka syukur dapat menjadi pengganti yang setara. Pendapat yang paling kuat – sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh al-Albani dan Syaikh al-Utsaimin – adalah bahwa hadits ini menunjukkan betapa besar kedudukan syukur, dan seorang mukmin hendaknya tidak meremehkan amalan hati ini.

Story Telling

Kisah Syukur Nabi Daud dan Rasulullah ﷺ

Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr radhiallahu'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا، وَأَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ، كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ"

(HR. al-Bukhari no. 1131, Muslim no. 1159)

Nabi Daud ‘alaihissalam adalah seorang yang sangat bersyukur. Meskipun ia sering berpuasa, ia juga menikmati makanan dengan penuh syukur. Keseimbangan antara berpuasa dan bersyukur ini menjadi teladan. Rasulullah ﷺ sendiri dalam banyak riwayat mengajarkan untuk membaca doa sebelum dan sesudah makan, serta mengingatkan bahwa orang yang bersyukur akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa jika ia tidak mampu berpuasa.

Sebagai contoh, dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

"الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ بِمَنْزِلَةِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ"

(HR. at-Tirmidzi no. 2486, dishahihkan al-Albani)

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari (9/32) saat menjelaskan hadits ini mengatakan bahwa syukur adalah kunci keberkahan. Tidak ada nikmat yang hilang jika disyukuri, dan tidak ada nikmat yang langgeng jika diingkari.

Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa syukur bukan hanya saat mendapatkan nikmat, tetapi juga saat kita masih mampu menikmatinya. Seorang mukmin yang sedang makan dan minum, jika hatinya penuh syukur, maka setiap suapan dan tegukannya bernilai ibadah yang setara dengan orang yang berpuasa.

Kes

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.