Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa pahala seorang mukmin tidak hanya didapat dari ibadah puasa, tetapi juga dari aktivitas makan dan minum yang dilakukan dengan penuh rasa syukur kepada Allah. Orang yang makan sambil bersyukur kepada Allah, pahalanya setara dengan orang yang berpuasa dan bersabar menahan lapar dan dahaga. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah, di mana setiap amalan yang disertai keimanan dan rasa syukur bisa menjadi ibadah yang mulia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
Sunan Ibnu Majah, Kitab Puasa, Bab Bab Tentang Orang yang Mengatakan Makan yang Bersyukur Seperti Orang yang Berpuasa dan Sabar, nomor 1764. Hadits ini diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks Arab Hadits:
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ حُمَيْدِ بْنِ كَاسِبٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْنٍ، عَنْ أَبِيهِ، وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الأُمَوِيِّ، عَنْ مَعْنِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ عَلِيٍّ الأَسْلَمِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ـ ﷺ ـ أَنَّهُ قَالَ " الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ بِمَنْزِلَةِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ " .
Terjemahan:
"Orang yang makan dengan bersyukur adalah setara dengan orang yang berpuasa dan sabar."
Penjelasan Ulama:
Hadits ini dijelaskan oleh para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah. Imam al-Munawi dalam kitab Faidh al-Qadir menjelaskan bahwa maksudnya adalah orang yang makan dan minum dengan mensyukuri nikmat Allah, serta menggunakan nikmat tersebut untuk taat kepada-Nya, maka pahalanya setara dengan orang yang berpuasa dan bersabar menahan diri dari syahwatnya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga sering mengingatkan bahwa syukur bukan hanya dengan ucapan "Alhamdulillah", tetapi juga dengan menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan motivasi besar bagi setiap muslim. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa syukur adalah kunci bertambahnya nikmat. Beliau berkata, "Syukur adalah mengakui nikmat dari Allah dengan hati, memuji-Nya dengan lisan, dan menggunakan nikmat tersebut untuk taat kepada-Nya."
Makna "Orang yang Makan dengan Bersyukur" (الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ):
Bukan sekadar orang yang makan lalu mengucap "Alhamdulillah". Lebih dari itu, ia adalah orang yang:
- Menyadari bahwa makanan dan minuman yang ia konsumsi adalah murni karunia Allah, bukan hasil usahanya semata.
- Memuji Allah dengan lisan, baik sebelum makan (membaca basmalah) maupun sesudahnya (membaca hamdalah).
- Menggunakan tenaga yang didapat dari makanan untuk beribadah kepada Allah dan berbuat kebaikan, bukan untuk maksiat.
Makna "Orang yang Berpuasa dan Sabar" (الصَّائِمِ الصَّابِرِ):
Ini adalah orang yang menahan diri dari makan, minum, dan syahwat karena Allah. Ia bersabar atas rasa lapar dan dahaga. Pahala orang yang berpuasa sangat besar, sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi: "Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kesetaraan Pahala:
Hadits ini menunjukkan bahwa pahala orang yang bersyukur saat makan bisa setara dengan pahala orang yang berpuasa. Ini adalah kabar gembira bagi mereka yang tidak mampu berpuasa sunnah karena sakit, perjalanan, atau uzur lainnya. Namun, perlu diingat bahwa kesetaraan ini bukan berarti menghilangkan keutamaan puasa itu sendiri. Puasa tetap memiliki keutamaan yang luar biasa. Hadits ini lebih menekankan pada niat dan kualitas ibadah. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah, amalan-amalan mubah (seperti makan) bisa berubah menjadi ibadah jika diniatkan untuk taat kepada Allah.
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Riyadhush Shalihin membuat bab khusus tentang "Bab Keutamaan Makan dengan Bersyukur". Beliau mengutip hadits ini sebagai dalil bahwa rasa syukur dapat mengangkat derajat seorang hamba.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, suatu ketika para sahabat melihat seorang lelaki yang sangat rajin berpuasa. Mereka pun heran karena lelaki itu sangat kuat beribadah. Namun, ada seorang sahabat lain yang tidak begitu banyak berpuasa, tetapi ia selalu tersenyum, ringan tangan membantu orang lain, dan selalu bersyukur atas rezeki yang Allah berikan. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang makan dengan bersyukur itu setara dengan orang yang berpuasa dan sabar." (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibni Majah).
Kisah ini mengajarkan bahwa Allah melihat hati dan niat kita. Bukan hanya seberapa banyak kita berpuasa, tetapi seberapa besar rasa syukur dan kesabaran yang kita miliki dalam setiap keadaan.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan setiap aktivitas, termasuk makan dan minum, sebagai ibadah untuk mendapatkan kekuatan dalam taat kepada Allah.
- Perbanyak rasa syukur dengan mengakui nikmat Allah dalam hati, memuji-Nya dengan lisan, dan menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan.
- Jangan meremehkan amalan kecil seperti membaca basmalah sebelum makan dan hamdalah setelahnya, karena itu adalah bentuk syukur yang besar pahalanya.
- Bagi yang tidak mampu berpuasa sunnah, jangan bersedih. Perbanyaklah syukur atas nikmat Allah, karena pahalanya bisa setara dengan orang yang berpuasa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk selalu bersyukur atas nikmat-Nya dan menjadikan setiap aktivitas kita sebagai ibadah yang diterima. Aamiin.