Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa saat orang yang berpuasa berbuka, ada waktu mustajab (dikabulkannya doa) yang tidak ditolak. Karena itu, seorang muslim dianjurkan memperbanyak doa saat berbuka, terutama memohon ampunan dan kebaikan, sebagaimana yang dicontohkan sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Baqarah [2]: 186
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Terjemahan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh petunjuk."
Hadits terkait:
- Hadits riwayat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma, dari Sunan Ibnu Majah no. 1753, Kitab Puasa, Bab "Doa Orang yang Berpuasa Tidak Ditolak".
- Hadits serupa juga diriwayatkan dalam Sunan At-Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tentang tiga golongan yang doanya tidak ditolak, salah satunya orang yang berpuasa hingga berbuka**.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa doa saat berbuka termasuk waktu yang diharapkan dikabulkan, karena saat itu jiwa dalam keadaan tunduk, lemah, dan penuh harap setelah menahan diri karena Allah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa doa orang berpuasa mustajab, baik saat berpuasa maupun saat berbuka.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan ayat Al-Baqarah 186 bahwa Allah sangat dekat dengan orang yang berdoa, dan tidak menyebutkan perantara, menunjukkan betapa dekatnya pengabulan doa bagi hamba yang tulus.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama, sabda Nabi ﷺ "إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ" menunjukkan adanya waktu khusus yang sangat mulia bagi orang berpuasa, yaitu saat berbuka. Kata "عِنْدَ فِطْرِهِ" (ketika berbuka) menunjukkan waktu yang dekat dengan momen berbuka, baik sesaat sebelum berbuka maupun saat berbuka.
Kedua, para ulama berbeda pendapat tentang makna "tidak ditolak":
- Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa doa tersebut pasti dikabulkan, atau paling tidak diharapkan besar pengabulannya, karena Allah menjanjikan demikian.
- Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa ini termasuk keutamaan khusus orang berpuasa, dan hendaknya seorang muslim memanfaatkannya dengan doa yang baik, bukan doa yang berisi dosa atau memutus silaturahmi.
Ketiga, perbuatan sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma yang berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي
"Ya Allah! Aku meminta kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, untuk mengampuniku."
Ini menunjukkan adab dan contoh praktis dari salaf dalam memanfaatkan waktu mustajab tersebut. Doa ini mengandung tawassul (perantara) dengan sifat rahmat Allah yang luas, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-A'raf [7]: 156 dan QS. Al-Mu'min [40]: 7.
Keempat, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa doa saat berbuka adalah salah satu waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak doa, dan hendaknya seorang muslim tidak menyia-nyiakannya dengan hal yang sia-sia.
Kelima, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menegaskan bahwa doa orang berpuasa mustajab, dan disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdoa saat berbuka dengan doa-doa yang bermanfaat, baik untuk dunia maupun akhirat.
Catatan tentang sanad: Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui jalur Hisyam bin Ammar dari Al-Walid bin Muslim dari Ishaq bin Ubaidillah Al-Madani dari Abdullah bin Abi Mulaikah dari Abdullah bin Amr. Para ulama hadits seperti Al-Bukhari, Muslim, dan Abu Hatim ar-Razi menilai sebagian perawi dalam jalur ini perlu diteliti, namun maknanya didukung oleh hadits-hadits lain yang shahih tentang mustajabnya doa orang berpuasa.
Story Telling
Diceritakan bahwa Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma, seorang sahabat yang dikenal sangat tekun beribadah dan banyak meriwayatkan hadits, ketika berbuka puasa tidak langsung menyantap makanannya, tetapi terlebih dahulu menengadahkan tangan dan berdoa dengan doa yang ia dengar dan amalkan dari Nabi ﷺ. Ia menyadari betapa berharganya waktu itu, sehingga ia tidak ingin melewatkannya begitu saja.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, seorang tabi'in yang terkenal zuhud dan ahli ibadah, pernah mengatakan bahwa sebaik-baik doa adalah doa yang dipanjatkan pada waktu-waktu mulia, dan salah satunya adalah saat berbuka puasa. Beliau mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tidak melupakan momen tersebut.
Hikmahnya: para salafus shalih sangat menjaga waktu-waktu mustajab, dan mereka mengisinya dengan doa yang tulus, terutama memohon ampunan dan rahmat Allah.
Kesimpulan Praktis
- Manfaatkan waktu berbuka untuk berdoa, karena doa saat itu mustajab.
- Contohkan doa yang diajarkan sahabat Abdullah bin Amr, yaitu memohon ampunan dengan rahmat Allah yang luas.
- Hindari doa yang berisi dosa atau memutus silaturahmi, karena doa seperti itu tidak dikabulkan.
- Perbanyak doa untuk diri sendiri, keluarga, dan kaum muslimin saat berbuka.
- Jangan sia-siakan momen berbuka hanya untuk makan, tetapi seimbangkan dengan doa dan syukur.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.