Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang munculnya kelompok Khawarij di akhir zaman. Mereka adalah orang-orang yang rajin beribadah dan membaca Al-Qur'an, namun pemahaman mereka tidak sampai ke hati, sehingga mereka keluar dari sunnah dan memerangi kaum Muslimin. Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk memerangi mereka jika mereka muncul, karena kerusakan yang mereka timbulkan sangat besar, meskipun mereka menampakkan kesalehan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:
Teks hadits yang Anda berikan adalah sanad dan matan yang shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang serupa.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Firman Allah Ta'ala tentang ciri orang-orang yang keluar dari kebenaran:
لَا يَرْقُبُونَ فِي مُؤْمِنٍ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُعْتَدُونَ
"Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula memelihara) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas."
(QS. At-Taubah [9]: 10)
Ayat ini menggambarkan sifat orang-orang yang melampaui batas, yang tidak mempedulikan hak-hak kaum mukminin, sebagaimana sifat Khawarij yang menumpahkan darah kaum Muslimin.
Penjelasan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang Khawarij adalah berita ghaib dari Nabi ﷺ yang terbukti terjadi. Beliau menukil ijma' (kesepakatan) ulama bahwa Khawarij adalah kelompok yang sesat dan wajib diperangi jika mereka keluar melawan pemimpin Muslim.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa perintah membunuh dalam hadits ini ditujukan kepada mereka yang memberontak dan memecah belah persatuan umat, bukan sekadar berbeda pendapat dalam masalah furu' (cabang agama).
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa ciri "membaca Al-Qur'an tidak melewati tenggorokan" maknanya adalah bacaan dan amalan mereka tidak disertai pemahaman yang benar dan keikhlasan, sehingga tidak memberi manfaat pada hati mereka.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Tanda-tanda Khawarij yang Disebutkan Nabi ﷺ:
- Membaca Al-Qur'an tetapi tidak melewati tenggorokan: Ini adalah kiasan bahwa bacaan mereka tidak sampai ke hati. Mereka hafal dan membaca, tetapi tidak memahami maksudnya, atau memahaminya dengan pemahaman yang menyimpang. Mereka mengambil ayat-ayat yang jelas (muhkam) dan meninggalkan yang samar (mutasyabih), serta menafsirkan Al-Qur'an sesuai hawa nafsu mereka.
- Ciri khas mereka adalah kepala yang dicukur (tahlīq): Ini adalah tanda fisik yang umumnya ada pada mereka di masa awal kemunculannya. Ini bukanlah hukum, melainkan tanda pengenal yang disebutkan Nabi ﷺ agar kaum Muslimin waspada.
- Mereka muncul di akhir zaman: Ini adalah kabar ghaib yang menunjukkan kenabian Rasulullah ﷺ, karena peristiwa ini benar-benar terjadi dan akan terus berulang dalam berbagai bentuk hingga akhir zaman.
2. Perintah Memerangi Mereka:
Perintah "bunuhlah mereka" dalam hadits ini bersifat kondisional, yaitu jika mereka keluar dan memerangi kaum Muslimin serta memecah belah persatuan. Ini sesuai dengan kaidah memerangi pemberontak (ahlul baghyi) yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Tujuannya adalah untuk melindungi kaum Muslimin dari fitnah dan kerusakan yang mereka timbulkan.
3. Bahaya Besar Khawarij:
Bahaya Khawarij bukan hanya dari kekuatan fisik mereka, tetapi dari fitnah pemikiran. Mereka menampakkan ibadah yang sangat kuat, sehingga banyak orang awam yang tertipu. Mereka mengkafirkan kaum Muslimin yang melakukan dosa besar, bahkan mengkafirkan sahabat Nabi ﷺ seperti Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhuma. Inilah yang membuat mereka sangat berbahaya, karena mereka merusak dari dalam.
4. Pelajaran dari Sahabat:
Ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menghadapi Khawarij di Nahrawan, beliau tetap mengutus utusan untuk berdialog dan mengingatkan mereka. Namun, ketika mereka tetap pada kesesatan dan memulai peperangan, barulah beliau memerangi mereka. Ini menunjukkan bahwa dakwah dan klarifikasi harus didahulukan sebelum tindakan tegas.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu mendengar berita tentang kelompok Khawarij yang berkumpul di Harura, beliau mengutus Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma untuk berdialog dengan mereka. Ibnu Abbas mendatangi mereka dengan pakaian yang sangat bagus dan rapi. Mereka berkata, "Wahai Ibnu Abbas, mengapa engkau memakai pakaian seperti ini?"
Ibnu Abbas menjawab dengan bijak, "Apa celaan kalian padaku? Sungguh, aku telah membaca firman Allah: 'Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?' (QS. Al-A'raf [7]: 32)."
Kemudian Ibnu Abbas berdialog dengan mereka dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi ﷺ, hingga hampir setengah dari mereka kembali ke jalan yang benar. Namun, sebagian besar tetap pada kesesatan mereka, dan akhirnya mereka diperangi di Nahrawan.
Hikmah: Kisah ini menunjukkan bahwa kita harus berusaha meluruskan kesalahan dengan hikmah dan dialog yang baik, tetapi jika mereka tetap memusuhi kebenaran dan memecah belah umat, maka tindakan tegas diperlukan untuk menjaga keutuhan jama'ah.
Kesimpulan Praktis
- Waspada terhadap kelompok yang mengaku paling benar: Jangan mudah tertipu oleh penampilan ibadah seseorang atau kelompok, tetapi nilai juga pemahaman dan akhlaknya sesuai Al-Qur'an dan Sunnah.
- Berpegang teguh pada jama'ah: Wajib bagi kaum Muslimin untuk bersatu di bawah bimbingan ulama dan pemimpin yang sah, serta menjauhi perpecahan.
- Dahulukan dialog dan klarifikasi: Sebelum menghakimi atau memerangi, kita harus berusaha menjelaskan kebenaran dengan cara yang baik, sebagaimana dilakukan oleh para sahabat.
- Jangan mengkafirkan sesama Muslim: Hati-hati dalam mengucapkan kafir, karena ini adalah perkara yang sangat besar. Hanya ulama yang berkompeten yang boleh menilai berdasarkan dalil yang jelas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.