Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1742 tentang Keutamaan puasa bulan Muharram

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa sunnah yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharram, yang oleh Nabi ﷺ disebut sebagai "syahrullah" (bulan Allah). Keutamaan ini berlaku untuk puasa sunnah secara umum di bulan tersebut, dan yang paling ditekankan adalah puasa hari 'Asyura (10 Muharram) sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits lain. Ini adalah anjuran yang lembut, bukan kewajiban.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (Shahih, riwayat Ibnu Majah no. 1742, Kitab Puasa, Bab Puasa Bulan Haram):

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ زَائِدَةَ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: أَىُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ؟ قَالَ: "شَهْرُ اللَّهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ."

Terjemahan: "Dari Abu Hurairah, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ lalu bertanya, 'Puasa apa yang paling utama setelah Ramadan?' Beliau menjawab: 'Bulan Allah yang kalian sebut Muharram.'"

Hadits pendukung tentang puasa 'Asyura (dari Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim):

Dari Abu Qatadah, Nabi ﷺ ditanya tentang puasa hari 'Asyura, beliau bersabda bahwa puasa 'Asyura menghapus dosa-dosa setahun yang lalu (Shahih Muslim, Kitab Puasa). Ini memperkuat bahwa yang paling ditekankan di bulan Muharram adalah puasa 'Asyura.

Ayat terkait keutamaan bulan-bulan haram:

QS. At-Taubah [9]: 36

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Terjemahan: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi; di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri kalian di dalamnya."

Kaitan ulama dan kitab:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan "syahrullah" (bulan Allah) menunjukkan keutamaan khusus Muharram, karena idhafah (penyandaran) kepada Allah menunjukkan pemuliaan.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan puasa Muharram adalah yang paling utama setelah Ramadan, dan yang paling ditekankan adalah hari 'Asyura.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa salaf sangat bersemangat berpuasa di bulan Muharram, khususnya 'Asyura, dan menjelaskan hikmah penyandaran bulan ini kepada Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini berisi pertanyaan seorang sahabat kepada Nabi ﷺ tentang puasa sunnah yang paling utama setelah Ramadan. Jawaban Nabi ﷺ menyebut "syahrullah al-muharram" — bulan Allah, yaitu Muharram. Para ulama menjelaskan beberapa poin penting:

Pertama, makna "syahrullah". Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa menyandarkan bulan kepada Allah (idhafah) adalah bentuk pemuliaan dan penekanan keutamaan. Ini menunjukkan Muharram memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah, karena ia termasuk salah satu dari empat bulan haram (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) sebagaimana disebut dalam QS. At-Taubah [9]: 36.

Kedua, cakupan keutamaan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan puasa sunnah di bulan Muharram lebih utama daripada puasa sunnah di bulan-bulan lain setelah Ramadan. Ini mencakup seluruh bulan Muharram, bukan hanya hari 'Asyura. Namun para ulama juga menegaskan bahwa yang paling ditekankan dan paling besar pahalanya adalah puasa hari 'Asyura (10 Muharram), berdasarkan hadits Abu Qatadah dalam Shahih Muslim bahwa puasa 'Asyura menghapus dosa setahun yang lalu.

Ketiga, hikmah penyebutan "yang kalian sebut Muharram". Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa redaksi ini menunjukkan bahwa nama "Muharram" adalah penamaan yang dikenal di kalangan masyarakat, dan Nabi ﷺ mengukuhkan penyebutan tersebut. Ini juga menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ dalam menjawab pertanyaan dengan menyebutkan nama yang familiar bagi penanya.

Keempat, apakah puasa Muharram lebih utama dari puasa Sya'ban? Sebagian ulama membahas perbandingan antara puasa Muharram dan puasa Sya'ban. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa hadits ini secara zahir menunjukkan Muharram lebih utama, namun Nabi ﷺ sendiri lebih banyak berpuasa di bulan Sya'ban (sebagaimana hadits 'Aisyah dalam Shahih Bukhari dan Muslim). Para ulama menjawab bahwa keutamaan puasa Muharram adalah dari sisi pahala dan keutamaannya, sedangkan perbuatan Nabi ﷺ yang banyak berpuasa di Sya'ban bisa jadi karena hikmah tertentu, seperti mempersiapkan diri sebelum Ramadan. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa puasa Muharram lebih utama dari sisi keutamaan umum, dan puasa 'Asyura adalah yang paling ditekankan di dalamnya.

Kelima, adab dalam berpuasa sunnah. Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak berlebihan (ghuluw) dalam beribadah. Nabi ﷺ menjawab dengan jelas dan tidak memerintahkan secara wajib, menunjukkan bahwa ini adalah anjuran yang penuh kelembutan. Imam Ahmad bin Hanbal dan ulama lainnya menegaskan bahwa puasa sunnah adalah pintu kebaikan yang besar, namun tidak boleh sampai memberatkan diri atau meninggalkan kewajiban.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian salaf, seperti Al-Hasan al-Bashri, sangat bersemangat berpuasa di bulan Muharram. Beliau mengatakan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang mulia, dan puasa di dalamnya adalah amalan yang sangat dicintai Allah. Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan dalam Latha'if al-Ma'arif bahwa para salaf menjadikan Muharram sebagai waktu untuk memperbanyak puasa, sedekah, dan ibadah lainnya, karena bulan ini adalah "bulan Allah" yang memiliki keutamaan khusus.

Dalam sebuah riwayat, ketika Nabi ﷺ ditanya tentang puasa 'Asyura, beliau menjawab dengan penuh harapan bahwa puasa tersebut menghapus dosa setahun yang lalu. Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat ini, di mana satu hari puasa bisa menghapus dosa setahun. Hikmahnya adalah agar kita tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dan menjadikan Muharram sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Utamakan puasa di bulan Muharram, terutama hari 'Asyura (10 Muharram), karena keutamaannya menghapus dosa setahun yang lalu.
  2. Jangan tinggalkan puasa sunnah di bulan ini jika mampu, karena ia adalah puasa yang paling utama setelah Ramadan.
  3. Hindari ghuluw (berlebihan) — puasa ini sunnah, bukan wajib, dan jangan sampai memberatkan diri atau meninggalkan kewajiban.
  4. Ikuti pemahaman para ulama Ahlus Sunnah seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibn Rajab dalam memahami hadits ini, agar kita tidak salah dalam mengamalkannya.
  5. Perbanyak amal saleh di bulan Muharram, termasuk sedekah, dzikir, dan membaca Al-Qur'an, karena bulan ini adalah bulan yang mulia di sisi Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?