Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1727 tentang Keutamaan amal shalih di sepuluh hari Dzulhijjah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan keutamaan besar sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Pada hari-hari itu, amal shalih apa pun—shalat, puasa, sedekah, dzikir, membaca Al-Qur'an—lebih dicintai Allah dibanding hari-hari lain, bahkan melebihi keutamaan jihad di jalan Allah. Pengecualiannya adalah seorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali (syahid), karena amal itu tidak bisa ditandingi.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Fajr [89]: 1–2

وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Terjemahan: "Demi fajar, dan malam-malam yang sepuluh."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1727) dari sahabat Ibnu Abbas رضي الله عنهما, dan juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dengan lafaz yang semakna. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil utama keutamaan sepuluh hari Dzulhijjah.

Kaitan ulama dan kitab:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa "al-layali al-'asyr" (malam-malam yang sepuluh) pada QS. Al-Fajr adalah sepuluh malam pertama Dzulhijjah menurut pendapat jumhur salaf, di antaranya Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif membahas panjang lebar keutamaan hari-hari ini dan menyebutkan bahwa amal di dalamnya berlipat pahalanya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyimpulkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan amal pada sepuluh Dzulhijjah melebihi keutamaan amal pada hari-hari lain secara umum.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Nabi ﷺ bersabda bahwa tidak ada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Para sahabat memahami keutamaan ini sangat tinggi, sehingga mereka bertanya: "Apakah termasuk jihad di jalan Allah?" Nabi ﷺ menjawab: "Bahkan jihad di jalan Allah," lalu mengecualikan seorang mujahid yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali (yakni syahid di medan perang).

Pemahaman para ulama dalam daftar:

  1. Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menjelaskan bahwa keutamaan ini mencakup seluruh jenis amal shalih, bukan hanya puasa. Beliau juga menyebutkan bahwa sebab keutamaan hari-hari ini adalah karena berkumpulnya ibadah-ibadah besar di dalamnya: shalat, puasa, sedekah, haji, dan kurban.
  2. Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam Latha'if al-Ma'arif) menegaskan bahwa amal di sepuluh hari Dzulhijjah lebih utama daripada amal di sepuluh hari terakhir Ramadhan dalam hal jenis amal, kecuali amal-amal khusus Ramadhan seperti puasa wajib dan qiyamul lail. Beliau juga menyebutkan bahwa para salaf seperti Sa'id bin Jubair (tabi'in, perawi hadits ini) sangat bersungguh-sungguh beramal di sepuluh hari ini hingga hampir tidak mampu lagi.
  3. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (dalam Zadul Ma'ad) menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak mengkhususkan puasa di seluruh sepuluh hari Dzulhijjah, tetapi beliau memperbanyak amal shalih secara umum. Adapun puasa Arafah (9 Dzulhijjah) memiliki keutamaan khusus menghapus dosa setahun lalu dan setahun akan datang (HR. Muslim).
  4. An-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan amal di sepuluh Dzulhijjah secara mutlak, dan bahwa amal di dalamnya lebih dicintai Allah daripada amal di hari-hari lain, kecuali jihad yang menyebabkan syahid.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama dalam daftar, seperti Ibnu Rajab, menyebutkan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama dari segi malamnya (karena ada Lailatul Qadar), sedangkan sepuluh hari Dzulhijjah lebih utama dari segi siangnya (karena ada hari Arafah dan hari Nahr). Pendapat yang paling kuat adalah bahwa keduanya memiliki keutamaan masing-masing, dan tidak ada pertentangan karena konteksnya berbeda.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sa'id bin Jubair رحمه الله, seorang tabi'in yang meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Abbas, ketika masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah, beliau sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah hingga hampir tidak mampu lagi. Beliau berkata: "Janganlah kalian mematikan lampu-lampu di malam-malam sepuluh Dzulhijjah" — yakni beliau menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. (Disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Latha'if al-Ma'arif dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya).

Hikmahnya: para salaf memahami keutamaan hari-hari ini bukan sekadar pengetahuan, tetapi mereka mengamalkannya dengan sungguh-sungguh. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang Allah berikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak amal shalih di sepuluh hari pertama Dzulhijjah: shalat sunnah, puasa (terutama Arafah bagi yang tidak berhaji), sedekah, dzikir, membaca Al-Qur'an, dan takbir.
  2. Jangan remehkan hari-hari ini, karena amal di dalamnya lebih dicintai Allah daripada amal di hari-hari lain, bahkan melebihi jihad di jalan Allah kecuali bagi yang syahid.
  3. Ikuti contoh salaf seperti Sa'id bin Jubair yang bersungguh-sungguh menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.
  4. Bagi yang berhaji, perbanyak talbiyah, dzikir, dan amal shalih di Arafah, Mina, dan sekitarnya.
  5. Bagi yang tidak berhaji, disunnahkan berpuasa Arafah (9 Dzulhijjah) yang menghapus dosa setahun lalu dan setahun akan datang, serta memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?