Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1717 tentang Keutamaan puasa sehari di jalan Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi kaum muslimin. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa siapa saja yang berpuasa satu hari fi sabilillah (di jalan Allah), maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun. Ini menunjukkan keutamaan puasa yang sangat agung, terlebih jika diniatkan untuk membela dan menolong agama Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Puasa, Bab Tentang Puasa Satu Hari di Jalan Allah, nomor 1717. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan lafaz yang semakna.

Teks Hadits (Arab berharakat):

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحِ بْنِ الْمُهَاجِرِ، أَنْبَأَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ الْهَادِ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ أَبِي عَيَّاشٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، بَاعَدَ اللَّهُ، بِذَلِكَ الْيَوْمِ، النَّارَ عَنْ وَجْهِهِ سَبْعِينَ خَرِيفًا "

Terjemahan: Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh tahun (perjalanan) karena hari itu."

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

"Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Az-Zalzalah [99]: 7)

Ayat ini menunjukkan bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang berlipat ganda. Puasa satu hari di jalan Allah adalah kebaikan yang sangat besar di sisi-Nya.

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini dijelaskan oleh para ulama, di antaranya:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud fi sabilillah adalah berpuasa dalam rangka berjihad di jalan Allah, baik itu jihad fisik maupun jihad dalam arti yang lebih luas.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil pendapat ulama bahwa makna fi sabilillah mencakup semua ketaatan yang dilakukan untuk Allah, dan puasa di sini adalah puasa yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:

  1. Makna "Fi Sabilillah" (Di Jalan Allah):
  • Secara umum, fi sabilillah berarti "di jalan Allah". Dalam konteks hadits ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama, seperti Imam An-Nawawi, mengkhususkannya pada jihad fisik (berperang di jalan Allah). Namun, pendapat yang lebih kuat dan mencakup adalah bahwa maknanya lebih luas, mencakup semua amal ketaatan yang dilakukan dengan ikhlas untuk Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa sabilillah adalah jalan yang menyampaikan kepada keridhaan Allah, dan jihad adalah salah satu bagian terbesarnya. Oleh karena itu, berpuasa dengan niat untuk menuntut ilmu, berbuat baik kepada orang tua, atau menjaga diri dari maksiat juga termasuk dalam keumuman makna ini, selama diniatkan untuk Allah.
  1. Makna "Tujuh Puluh Tahun" (سبعين خريفا):
  • Kata kharif (خريف) secara bahasa berarti musim gugur. Namun, dalam konteks ini, para ulama menafsirkannya sebagai "tahun". Jadi, maknanya adalah Allah menjauhkan wajah orang yang berpuasa itu dari api neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun. Ini adalah gambaran tentang betapa jauhnya jarak antara dirinya dan neraka, yang menunjukkan besarnya rahmat dan karunia Allah.
  1. Keutamaan Puasa:
  • Hadits ini menunjukkan keutamaan puasa yang sangat besar. Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa puasa adalah perisai yang melindungi seorang hamba dari syahwat dan dari api neraka. Puasa juga merupakan ibadah yang sangat khusus antara hamba dan Rabb-nya, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi bahwa Allah sendiri yang akan membalasnya.
  1. Niat dan Keikhlasan:
  • Kunci utama dari semua amal adalah niat. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal menekankan bahwa amal tidak akan diterima tanpa niat yang ikhlas karena Allah. Oleh karena itu, untuk mendapatkan keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini, puasa harus diniatkan semata-mata untuk mencari wajah Allah, bukan untuk pamer atau tujuan duniawi.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, salah seorang ulama besar dari kalangan tabi'in, sangat menjaga puasa sunnahnya. Beliau berkata, "Aku tidak pernah meninggalkan puasa sunnah sejak aku memahami keutamaannya, karena aku takut jika aku meninggalkannya, maka aku akan kehilangan keberkahan yang besar."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para salafus shalih sangat bersemangat dalam meraih keutamaan puasa. Mereka memahami bahwa setiap hari yang mereka lewati dengan berpuasa adalah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhkan diri dari api neraka. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, meskipun itu hanya satu hari.

Kesimpulan Praktis

Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan:

  1. Perbanyak Puasa Sunnah: Semangatlah untuk berpuasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), puasa Asyura, puasa Arafah, dan puasa-puasa sunnah lainnya.
  2. Niatkan Karena Allah: Pastikan niat puasa kita murni karena Allah Ta'ala, bukan karena ingin dipuji atau tujuan duniawi lainnya.
  3. Jadikan Puasa sebagai Benteng: Gunakan puasa sebagai sarana untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat dan dosa, karena puasa adalah perisai.
  4. Jangan Remehkan Kebaikan Kecil: Jangan pernah meremehkan amal kebaikan sekecil apa pun, termasuk puasa satu hari. Karena balasan dari Allah sangatlah besar, bahkan bisa menjauhkan kita dari neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.