Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu nubuwah (berita ghaib) Nabi ﷺ tentang munculnya kelompok Khawarij di akhir zaman. Mereka adalah orang-orang yang menampakkan ibadah dan bacaan Al-Qur'an yang sangat tekun, namun pemahaman mereka dangkal dan sesat. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari busurnya, dan mereka wajib diperangi serta dibunuh oleh kaum Muslimin yang dipimpin oleh imam yang sah, karena membunuh mereka adalah bentuk jihad dan akan mendapatkan pahala di sisi Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pendahuluan (Al-Muqaddimah), Bab "Penyebutan Khawarij", nomor 168. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dengan lafaz yang semakna.
Dalil Al-Qur'an yang relevan dengan sifat mereka yang membaca Al-Qur'an namun tidak meresap ke dalam hati adalah firman Allah Ta'ala:
> وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
QS. Al-A'raf [7]: 179 - "Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka memiliki telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah."
Hadits terkait dari riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang Khawarij:
> يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ
Artinya: "Mereka keluar dari Islam seperti anak panah yang melesat dari busurnya." (HR. Al-Bukhari no. 3611, Muslim no. 1064)
Kaitan dengan ulama: Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan panjang lebar tentang sifat-sifat Khawarij ini, bahwa mereka adalah orang-orang yang zuhud secara lahiriah namun rusak batinnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa juga menjelaskan bahwa ciri khas Khawarij adalah sikap keras dan berlebihan dalam beragama (ghuluw) sehingga mereka mengkafirkan sesama Muslim.
Penjelasan Rinci
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Tanda-tanda fisik dan sifat Khawarij
Nabi ﷺ menyebutkan empat ciri utama mereka:
- أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ (usia muda): Mereka umumnya orang-orang muda yang semangatnya membara namun kurang ilmu.
- سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ (pikiran bodoh/akalnya dangkal): Mereka tidak menggunakan akal dengan benar, mudah terprovokasi, dan tidak mendalam dalam memahami dalil.
- يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ النَّاسِ (berbicara dengan perkataan terbaik manusia): Mereka pandai berbicara dengan dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadits, namun pemahamannya salah.
- يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ (membaca Al-Qur'an namun tidak melewati tenggorokan): Bacaan mereka tidak sampai ke hati, sehingga tidak memberi pengaruh kebaikan pada perilaku mereka.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa ciri khas mereka adalah mereka mencukur rambut kepala hingga bersih dan memakai pakaian yang tampak bersih, namun hati mereka hitam pekat.
2. Hukum memerangi mereka
Nabi ﷺ memerintahkan: "Siapa yang menemui mereka, hendaklah ia membunuh mereka." Perintah ini ditujukan kepada pemimpin kaum Muslimin dan pasukannya, bukan kepada individu untuk main hakim sendiri. Ini sebagaimana yang terjadi pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib yang memerangi Khawarij di Nahrawan.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa perang melawan Khawarij adalah wajib jika mereka memberontak dan memecah belah persatuan umat, dan ini adalah tugas imam (pemimpin).
3. Pahala membunuh mereka
Sabda Nabi ﷺ: "Karena membunuh mereka akan mendatangkan pahala dari Allah bagi orang yang membunuh mereka." Ini menunjukkan bahwa memerangi mereka adalah jihad yang berpahala besar, karena mereka adalah perusak agama dari dalam.
4. Pelajaran untuk kita hari ini
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin mengingatkan bahwa sifat-sifat Khawarij tidak terbatas pada satu kelompok saja. Siapa pun yang memiliki ciri-ciri tersebut—mudah mengkafirkan sesama Muslim, meremehkan ulama, dan bersikap keras dalam beragama tanpa ilmu—maka ia telah menyerupai mereka dalam sebagian sifat.
Story Telling
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, beliau berkhutbah di hadapan para sahabat setelah perang Nahrawan melawan Khawarij. Beliau berkata:
"Wahai manusia, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Akan keluar dari umatku suatu kaum yang membaca Al-Qur'an, bacaan mereka tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, kemudian tidak kembali lagi.' Tanda-tanda mereka adalah mereka mencukur gundul kepala mereka."
Kemudian Ali berkata: "Demi Allah, sungguh aku telah melihat mereka, dan aku telah memerangi mereka bersama para sahabat Muhammad ﷺ." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kisah ini menunjukkan bahwa nubuwah Nabi ﷺ benar-benar terjadi, dan para sahabat melaksanakan perintah tersebut dengan memerangi mereka. Hikmahnya: kita harus waspada terhadap kelompok yang menampakkan kesalehan namun menyimpang dalam pemahaman, dan kita wajib berpegang teguh pada pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah.
Kesimpulan Praktis
- Waspadai sifat ghuluw (berlebihan) dalam beragama—karena inilah akar munculnya Khawarij.
- Jangan mudah mengkafirkan sesama Muslim yang berbeda pendapat dalam masalah furu' (cabang), karena ini ciri khas Khawarij.
- Perbanyaklah ilmu dan bergaul dengan ulama agar pemahaman kita tidak dangkal dan menyimpang.
- Jika ada kelompok yang memberontak dan memecah belah umat, maka kewajiban memerangi mereka ada pada pemimpin, bukan main hakim sendiri.
- Jadikan Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman salafus shalih sebagai pedoman, bukan sekadar dibaca tanpa direnungkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.