Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1619 tentang Doa kesembuhan dan permohonan bertemu teman tinggi saat sakit

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan dua hal yang sangat agung: pertama, ajaran Nabi ﷺ untuk berdoa memohon kesembuhan dengan kalimat yang penuh tauhid dan harapan hanya kepada Allah; kedua, keteguhan dan kerinduan beliau ﷺ kepada Allah saat menghadapi kematian. Kata-kata terakhir beliau ﷺ adalah permohonan ampun dan harapan untuk dipertemukan dengan "Ar-Rafiq Al-A'la" (teman yang paling tinggi, yaitu para nabi dan orang-orang mulia di surga). Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin sejati tidak takut mati, karena mati adalah pertemuan dengan Kekasihnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Al-Jana'iz, Bab Ma Ja'a fi Maradhi Rasulillah ﷺ, no. 1619. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang serupa, dari Aisyah radhiyallahu 'anha.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

> وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

> "Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam."

> (QS. Ali 'Imran [3]: 102)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukmin hendaknya senantiasa menjaga keislamannya hingga akhir hayat, sebagaimana Nabi ﷺ yang wafat dalam keadaan bertauhid dan berharap kepada Allah.

Hadits terkait:

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidaklah seorang hamba yang sakit, lalu ia berdoa: "Ya Allah, sembuhkanlah aku, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit," melainkan Allah akan menyembuhkannya.'" (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Kaitan dengan ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa "Adzhibil-ba'sa..." adalah doa yang diajarkan Nabi ﷺ untuk dibaca ketika menjenguk orang sakit atau ketika meruqyah. Adapun kata-kata terakhir Nabi ﷺ, "Ar-Rafiq Al-A'la", dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul-Bari sebagai pilihan Nabi ﷺ untuk bergabung dengan para nabi dan orang-orang pilihan di surga yang paling tinggi.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Doa Memohon Kesembuhan

Nabi ﷺ mengajarkan doa yang sangat ringkas namun sarat makna:

  • "Adzhibil-ba'sa" (Hilangkanlah penyakit) – Ini adalah permohonan agar Allah menghilangkan rasa sakit.
  • "Rabbannaas" (Wahai Tuhan manusia) – Ini menegaskan bahwa Allah adalah Rabb yang menguasai dan memelihara seluruh manusia.
  • "Isyfi antasy-syaafi" (Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan) – Ini adalah pengakuan bahwa kesembuhan sejati hanya dari Allah, bukan dari obat atau usaha manusia semata.
  • "La syifaa-a illa syifaa-uka" (Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu) – Ini adalah puncak tawakal, bahwa segala sebab kesembuhan kembali kepada kehendak Allah.
  • "Syifaa-an la yughadiru saqaman" (Kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit) – Ini adalah permohonan agar diberikan kesembuhan yang sempurna.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa doa ini menggabungkan antara permohonan, pengakuan kelemahan, dan pengagungan terhadap kekuasaan Allah. Ini adalah adab berdoa yang diajarkan Nabi ﷺ.

2. Keteguhan Nabi ﷺ Saat Sakit

Ketika sakitnya semakin parah, Aisyah radhiyallahu 'anha mengambil tangan Nabi ﷺ dan mengusapkannya ke tubuh beliau sambil membaca doa tersebut. Ini adalah bentuk kasih sayang seorang istri dan juga pengamalan sunnah, karena Nabi ﷺ pernah mengajarkan bahwa mengusap bagian yang sakit sambil berdoa adalah salah satu cara ruqyah.

Namun, Nabi ﷺ menarik tangannya dan mengucapkan doa yang berbeda: "Allahummaghfirli wa alhiqni bir-rafiqil-a'la" (Ya Allah, ampunilah aku dan pertemukanlah aku dengan teman yang paling tinggi). Ini menunjukkan bahwa ketika ajal sudah dekat, seorang mukmin tidak lagi fokus pada kesembuhan dunia, tetapi pada keselamatan akhirat.

3. Makna "Ar-Rafiq Al-A'la"

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul-Bari menjelaskan bahwa Ar-Rafiq Al-A'la adalah sebutan untuk para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih yang menempati derajat tertinggi di surga. Ini adalah pilihan Nabi ﷺ untuk bergabung dengan mereka, sebagaimana firman Allah:

> فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

> "Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."

> (QS. An-Nisa' [4]: 69)

Imam Ibnul Qayyim dalam Zad Al-Ma'ad menyebutkan bahwa pilihan Nabi ﷺ ini menunjukkan kerinduan beliau kepada Allah dan kekasih-kekasih-Nya. Ini adalah puncak cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.

4. Pelajaran tentang Kematian

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah saat sakit, tetapi juga harus selalu siap menghadapi kematian dengan husnuzh-zhan (prasangka baik) kepada Allah. Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal ini.

Story Telling

Ada kisah yang sangat mengharukan tentang bagaimana para sahabat memahami makna Ar-Rafiq Al-A'la ini. Ketika Nabi ﷺ mengucapkan kalimat tersebut, Aisyah radhiyallahu 'anha memahami bahwa beliau sedang memilih untuk wafat. Aisyah berkata: "Maka aku tahu bahwa beliau sedang memilih (wafat)." Beliau kemudian mengulanginya beberapa kali, dan akhirnya wafat di pangkuan Aisyah.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if Al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salaf sangat memperhatikan akhir kehidupan mereka. Mereka berusaha agar kalimat terakhir mereka adalah kalimat tauhid dan harapan baik kepada Allah. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk selalu menjaga lisan dan hati kita, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyaklah berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ ketika sakit atau menjenguk orang sakit: "Adzhibil-ba'sa rabbannaas..."
  2. Jadikan doa ini sebagai wirid harian untuk memohon kesehatan dan kesembuhan dari Allah.
  3. Saat sakit, tetaplah berbaik sangka kepada Allah dan jangan berputus asa dari rahmat-Nya.
  4. Siapkan diri menghadapi kematian dengan memperbanyak istighfar dan amal shalih, karena kematian adalah pintu menuju pertemuan dengan Allah.
  5. Teladani Nabi ﷺ dalam menghadapi sakit: beliau tetap berdoa, tidak mengeluh, dan memilih keridhaan Allah di atas segalanya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.