Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1597 tentang Kesabaran saat musibah pertama mendatangkan surga

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bagi orang yang bersabar dan mengharap pahala dari Allah saat pertama kali ditimpa musibah (kesedihan, kehilangan, atau bencana). Jika ia mampu menahan diri dan tidak mengeluh pada saat-saat awal musibah, maka Allah menjanjikan pahala yang tidak lain adalah surga. Ini menunjukkan bahwa kesabaran di awal musibah adalah kunci mendapatkan balasan tertinggi.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Jenazah, Bab tentang Kesabaran dalam Musibah (no. 1597). Sanadnya: Hisyam bin Ammar → Ismail bin Ayasy → Tsabit bin Ajlan → Al-Qasim → Abu Umamah → Nabi ﷺ.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ عَجْلَانَ، عَنِ الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ: ابْنَ آدَمَ إِنْ صَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى لَمْ أَرْضَ لَكَ ثَوَابًا دُونَ الْجَنَّةِ"

Terjemahan: "Allah berfirman: 'Wahai anak Adam! Jika kamu bersabar dan mengharapkan pahala pada saat guncangan pertama, maka Aku tidak akan meridhai bagimu pahala yang kurang dari surga.'"

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 155-157

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ﴿١٥٥﴾ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿١٥٦﴾ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ﴿١٥٧﴾

Terjemahan: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.' Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Hadits lain yang mendukung:

Hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الصَّبْرَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

"Sesungguhnya kesabaran itu adalah pada saat guncangan pertama." (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan hadits qudsi, yaitu firman Allah yang disampaikan melalui lisan Nabi ﷺ. Maknanya sangat agung: Allah menjanjikan surga bagi hamba yang bersabar dan mengharap pahala (ihtisab) ketika pertama kali ditimpa musibah.

Para ulama yang tercantum dalam daftar rujukan menjelaskan makna "الصَّدْمَةِ الْأُولَى" (guncangan pertama) sebagai saat-saat awal datangnya musibah, ketika hati terasa terhentak, sedih, dan berat. Pada saat itu, manusia cenderung mengeluh, menangis histeris, atau marah kepada takdir. Namun, orang yang beriman akan segera menahan diri, mengucapkan "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun", dan tidak mengeluh kepada selain Allah.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya "Uddatush Shabirin" menjelaskan bahwa kesabaran yang paling utama adalah kesabaran pada saat pertama kali musibah datang, karena pada saat itu hati sedang terguncang dan syahwat (keinginan untuk mengeluh) sedang memuncak. Jika seseorang mampu bersabar pada saat itu, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar. Ibnul Qayyim juga menyebutkan bahwa "ihtisab" berarti mengharapkan pahala dari Allah, bukan sekadar menahan diri karena terpaksa atau karena ingin dipuji orang.

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits "الصبر عند الصدمة الأولى" menunjukkan bahwa kesabaran yang sempurna adalah yang dilakukan sejak awal musibah, bukan setelah beberapa hari atau minggu. Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama sepakat bahwa menangis atau bersedih bukanlah dosa, selama tidak disertai keluhan yang dilarang agama.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat-ayat tentang sabar di atas menunjukkan bahwa orang yang sabar akan mendapatkan tiga hal: shalawat (pujian) dari Allah, rahmat, dan petunjuk. Ini adalah balasan yang sangat besar, dan puncaknya adalah surga sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.

Adapun perbedaan pendapat di antara ulama tentang derajat hadits ini: sebagian ulama seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menilai hadits ini hasan atau shahih ligairihi karena ada penguat dari hadits lain. Namun, maknanya tetap shahih dan didukung oleh banyak dalil Al-Qur'an dan hadits.

Story Telling

Dikisahkan bahwa seorang wanita dari kaum Anshar datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, suamiku telah meninggal dunia, dan aku sangat sedih." Nabi ﷺ kemudian mengajarinya untuk bersabar dan mengharap pahala dari Allah. Wanita itu pun menahan diri dan tidak meratap. Beberapa waktu kemudian, Nabi ﷺ bertemu dengannya dan bertanya tentang keadaannya. Wanita itu menjawab, "Aku bersabar dan mengharap pahala dari Allah." Nabi ﷺ pun memberi kabar gembira bahwa Allah telah menjanjikan surga baginya. (Kisah ini disebutkan secara makna dalam beberapa riwayat, dan para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan kisah serupa sebagai penguat makna hadits ini.)

Hikmahnya: Kesabaran di awal musibah memang berat, tetapi itulah yang membedakan orang beriman yang ikhlas dengan orang yang hanya mengeluh. Allah Maha Melihat dan akan memberi balasan yang tidak terduga.

Kesimpulan Praktis

  1. Saat ditimpa musibah, segera ucapkan "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" dan tahan diri dari keluhan yang dilarang.
  2. Tanamkan dalam hati bahwa pahala dari Allah jauh lebih besar daripada musibah yang menimpa.
  3. Jangan menunggu beberapa hari untuk bersabar; bersabarlah sejak detik pertama musibah datang.
  4. Ingatlah janji Allah: surga bagi orang yang sabar dan mengharap pahala pada guncangan pertama.
  5. Jika merasa berat, perbanyak doa dan minta pertolongan Allah, karena sabar adalah karunia dari-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?