Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 158 tentang Bab Keutamaan Sa'd bin Mu'adh

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan kemuliaan besar Sa‘d bin Mu‘ādh di sisi Allah ﷻ. ‘Arsy Allah yang agung bergetar karena kegembiraan dan pengagungan atas kematiannya sebagai syahid dan pemimpin yang adil. Ini bukan berarti ‘Arsy bergetar karena sedih atau rusak, melainkan tanda ridha Allah dan kemuliaan hamba-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an

QS. Al-A‘rāf [7]: 54 – tentang kebesaran ‘Arsy

> إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Terjemahan: Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. … (QS. Al-A‘rāf: 54)

Hadits

Dari Jābir bin ‘Abdillāh رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

> اهْتَزَّ عَرْشُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ

“‘Arsy Allah ‘Azza wa Jalla bergetar karena kematian Sa‘d bin Mu‘ādh.”

(HR. Ibnu Mājah no. 158, shahīh; juga diriwayatkan oleh al-Bukhārī no. 3803, Muslim no. 2466)

Keterangan ulama

  • Imam an-Nawawī dalam Syarh Ṣaḥīḥ Muslim (16/42) menjelaskan bahwa makna “bergetar” adalah gembira dan memuliakan kedatangan ruh Sa‘d, sebagaimana diriwayatkan dari al-Khaṭṭābī dan al-Qāḍī ‘Iyāḍ.
  • Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī dalam Fatḥ al-Bārī (7/45) menegaskan bahwa getaran ‘Arsy adalah pengagungan dan kebahagiaan karena kedudukan Sa‘d yang agung.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Hādī al-Arwāḥ (1/187) menyebut hadits ini sebagai dalil kemuliaan syahid dan wali Allah.

Penjelasan Rinci

1. Makna ‘Arsy yang Bergetar

Para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa ‘Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar dan tinggi. Getaran yang disebut dalam hadits bukanlah getaran fisik seperti gempa bumi, tetapi merupakan kinayah (ungkapan kiasan) tentang kegembiraan dan pengagungan dari Allah terhadap hamba-Nya yang saleh.

Imam an-Nawawī berkata:

> “Makna ‘bergetar’ adalah gembira dan memuliakannya. Pendapat inilah yang dipilih oleh al-Khaṭṭābī dan al-Qāḍī ‘Iyāḍ, serta dikuatkan oleh riwayat lain yang menyebut ‘istabshara’ (bergembira).”

Ibnu Ḥajar menambahkan bahwa ‘Arsy adalah tempat malaikat dan manifestasi kekuasaan Allah. Getarannya menandakan kedekatan dan keridhaan Allah.

2. Kedudukan Sa‘d bin Mu‘ādh

Sa‘d bin Mu‘ādh رضي الله عنه adalah pemimpin Bani ‘Abdul Asyhal, sahabat mulia yang masuk Islam setelah Mus‘ab bin ‘Umair berdakwah. Ia menjadi tokoh penting dalam Perang Khandaq dan memberikan putusan (hukuman) terhadap Bani Quraizhah sesuai hukum Allah. Saat wafat, Rasulullah ﷺ bersabda, “Ini adalah orang yang bergetar karena kematiannya ‘Arsy Ar-Raḥmān.”

3. Pelajaran dari Hadits

  • Kemuliaan seorang hamba tidak diukur dari harta atau pangkat, tetapi dari keimanan, keadilan, dan pengorbanan di jalan Allah.
  • ‘Arsy sebagai makhluk agung bisa “merasakan” kegembiraan atas kematian wali Allah – ini menunjukkan bahwa seluruh alam semesta merespon kehadiran orang saleh.
  • Hadits ini mengingatkan kita untuk meneladani kejujuran, keberanian, dan keteguhan Sa‘d dalam menegakkan hukum Allah.

Pendapat Ulama Lain

Sebagian ulama seperti Imam al-Bukhārī dalam Al-Adab al-Mufrad menafsirkan secara harfiah bahwa ‘Arsy benar-benar bergerak, namun tetap dalam kehendak Allah tanpa menyerupai makhluk. Yang terpenting, semua ulama sepakat bahwa ini adalah kehormatan besar bagi Sa‘d.

Story Telling

Kisah Sa‘d bin Mu‘ādh dan Putusan Hukum

Ketika Bani Quraizhah melanggar perjanjian saat Perang Khandaq, Rasulullah ﷺ menyerahkan putusan kepada Sa‘d bin Mu‘ādh yang baru sembuh dari luka. Beliau memohon kepada Allah agar putusannya tepat. Sa‘d kemudian memutuskan agar para lelaki Bani Quraizhah yang terbukti berkhianat dihukum sesuai hukum Taurat: “Prajurit mereka dibunuh, harta mereka dibagi, dan wanita serta anak-anak ditawan.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Engkau telah memutuskan hukum Allah dari atas tujuh langit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika Sa‘d wafat, malaikat Jibril turun memberitahu Nabi ﷺ bahwa ‘Arsy bergembira. Para sahabat melihat jenazahnya terasa ringan – karena malaikat turut mengusungnya. Ini mengajarkan kita bahwa keadilan dan keikhlasan akan diangkat Allah setinggi ‘Arsy.

Kesimpulan Praktis

  1. Hadits ini memperkuat keyakinan akan kebesaran Allah dan kemuliaan hamba-Nya yang saleh.
  2. Kita dianjurkan meneladani sifat Sa‘d: berani dalam kebenaran, adil dalam memutuskan, dan teguh dalam iman.
  3. Jangan meremehkan amal kecil karena bisa menggetarkan ‘Arsy di sisi Allah.
  4. Perbanyak doa: “Ya Allah, wafatkan kami dalam husnul khatimah seperti Sa‘d bin Mu‘ādh.”

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.