Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 156 tentang Bab Keutamaan Abu Dharr

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan luar biasa yang dimiliki oleh Abu Dharr radhiyallahu ‘anhu sebagai manusia paling jujur perkataannya di muka bumi. Rasulullah ﷺ secara lugas menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang melebihi kejujuran beliau, baik di daratan maupun di bawah naungan langit. Ini menjadi bukti betapa agungnya kedudukan shiddiq (kejujuran) dalam Islam.

---

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits

Sunan Ibnu Majah, Kitab al-Muqaddimah, Bab Fadhl Abi Dzar, no. 156.

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

> سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «مَا أَقَلَّتِ الْغَبْرَاءُ وَلَا أَظَلَّتِ الْخَضْرَاءُ مِنْ رَجُلٍ أَصْدَقَ لَهْجَةً مِنْ أَبِي ذَرٍّ»

Makna hadits

“Tidak ada yang ditanggung bumi (ghabrā’) dan tidak ada yang dinaungi langit (khadrā’) dari seorang laki-laki yang lebih jujur perkataannya daripada Abu Dzar.”

Ayat al-Qur’an yang terkait – sebagai landasan keutamaan kejujuran:

QS. Al-Ahzab [33]: 70

<blockquote>

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

</blockquote>

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (jujur).”

Penjelasan ulama

  • Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini merupakan pujian paling tinggi dari Nabi tentang shidq (kejujuran). Abu Dzar diberi keistimewaan dalam hal lahjah (perkataan atau dialek) yang menunjukkan kebenaran hatinya.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (dalam al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, 7/58) menegaskan bahwa hadits ini menyifati Abu Dzar sebagai ashdaqun nas (manusia paling jujur) pada masanya karena ia tidak pernah ragu menyampaikan kebenaran walau dalam kondisi sulit.
  • Imam adz-Dzahabi (dalam Siyar A’lam an-Nubala’, 2/46) meriwayatkan bahwa Abu Dzar dikenal sebagai azh-zhāhid al-mujāhid yang tidak takut celaan, dan kejujurannya tidak pernah ternoda.

---

Penjelasan Rinci

Redaksi “مَا أَقَلَّتِ الْغَبْرَاءُ وَلَا أَظَلَّتِ الْخَضْرَاءُ” bentuk nakirah yang mengandung makna ‘umūm (kemutlakan). Maknanya: seluruh isi bumi dan semua yang di bawah langit tidak ada yang bisa menandingi kejujuran Abu Dzar.

Pengertian lahjah

Lahjah secara bahasa berarti ucapan atau dialek, tetapi dalam konteks ini para ulama memaknainya sebagai perkataan yang lahir dari hati yang jujur – bukan sekadar fasih, melainkan sesuai antara hati dan lisan.

Kedudukan hadits

Hadits ini sahih derajatnya, walaupun dalam sanadnya ada Utsman bin ‘Umair. Para ulama seperti Imam al-Bukhari dan Imam Muslim memiliki pandangan tentang perawi tersebut. Namun, ulama besar seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Majah, dan Imam al-Bayhaqi serta para pentakhrij lain menganggapnya kuat, apalagi dikuatkan dengan banyak riwayat lain tentang kejujuran Abu Dzar.

Perbedaan pendapat ringan

Sebagian ulama (seperti Imam an-Nasa’i) menilai Utsman bin ‘Umair laisa bil qawiy (tidak terlalu kuat). Namun, Ibnu Hajar dan adz-Dzahabi memandang bahwa hadits ini tetap hasan karena memiliki syawāhid (penguat) – misalnya riwayat dari Abu Dzar sendiri dan dari sahabat lain yang juga memujinya. Dengan demikian, inti pujian terhadap Abu Dzar sudah mutawatir maknawi.

Hikmah dari pujian ini

  • Kejujuran adalah sifat paling mulia setelah tauhid.
  • Abu Dzar tidak mendapat pujian ini karena kealiman atau kefasihan semata, melainkan karena istiqamah dan keberanian menyampaikan kebenaran meskipun pahit bagi penguasa.
  • Ini juga menunjukkan bahwa sahabat Nabi memiliki kedudukan yang tidak bisa disejajarkan dengan siapapun setelah mereka.

---

Story Telling

Kisah Abu Dzar yang mengumumkan keislamannya

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berasal dari bani Ghifar. Ketika mendengar tentang seorang nabi di Mekkah, ia langsung pergi mencari. Setelah bertemu Rasulullah ﷺ dan masuk Islam, ia tidak bersembunyi seperti kebanyakan sahabat awal. Dengan berani ia berdiri di hadapan Ka’bah dan berseru:

“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah!”

Orang-orang musyrik langsung memukulinya hingga hampir meninggal. Abbas bin Abdul Muththalib datang dan berkata: “Tidakkah kalian tahu bahwa ia dari bani Ghifar?!” Lalu mereka melepaskannya. Keesokan harinya, Abu Dzar kembali melakukan hal yang sama, dan lagi-lagi dipukuli.

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda kepadanya:

“Engkau adalah orang yang paling jujur ucapannya.”

(H.R. Ibnu Majah no. 156, dan riwayat lain yang semakna dari Musnad Ahmad)

Hikmah

Kejujuran Abu Dzar bukan hanya pada perkataan, tetapi perbuatan dan keyakinannya – ia siap menanggung risiko demi kebenaran. Inilah yang membuat Nabi memberinya gelar ashdaq al-lahjah (paling jujur perkataannya).

---

Kesimpulan Praktis

Poin-poin yang bisa kita amalkan:

  1. Meneladani kejujuran Abu Dzar – jujurlah dalam setiap perkataan, sekecil apapun, karena kejujuran adalah sifat orang beriman.
  2. Berani menyampaikan kebenaran – jangan takut celaan manusia jika apa yang kita sampaikan berdasarkan dalil dan demi kebaikan.
  3. Menghormati para sahabat Nabi – mereka adalah teladan utama, sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama salaf.
  4. Menguatkan niat – kejujuran lahir dari iman yang kokoh; oleh karena itu perbanyaklah memohon kepada Allah agar diberikan lisan yang benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?