Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1450 tentang Menyampaikan salam kepada Nabi saat sakaratul maut

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini bukan berisi ajaran doa tertentu saat menjenguk orang sakit, melainkan sebuah atsar (perkataan/kejadian) dari tabi'in Muhammad bin al-Munkadir ketika mengunjungi sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu yang sedang menjelang wafat. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang adab mengunjungi orang sakit, memuliakan sahabat Nabi ﷺ, dan keyakinan bahwa ruh orang beriman berjumpa dengan ruh para nabi dan orang saleh. Hadits ini disebutkan Ibnu Majah dalam Kitab Jenazah, bab tentang apa yang diucapkan di sisi orang sakit.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan perjumpaan ruh orang beriman dengan para nabi dan orang saleh:

QS. An-Nisa' [4]: 69

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Terjemah ringkas: "Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman."

Hadits terkait tentang adab menjenguk orang sakit dan doa di sisinya:

Dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا حَضَرْتُمُ الْمَرِيضَ أَوِ الْمَيِّتَ فَقُولُوا خَيْرًا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ

"Apabila kalian menghadiri orang sakit atau orang yang meninggal, maka ucapkanlah kebaikan, karena para malaikat mengaminkan apa yang kalian ucapkan." (HR. Muslim)

Kaitan dengan ulama daftar:

  • Ibnu Majah meriwayatkan atsar ini dalam Sunan-nya, Kitab Jenazah, bab "Apa yang dikatakan di sisi orang sakit."
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bab adab menjenguk orang sakit dan anjuran mengucapkan kebaikan di sisinya.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ar-Ruh membahas perjumpaan ruh orang beriman dengan ruh para nabi dan orang saleh setelah wafat.

Penjelasan Rinci

Pertama: Kedudukan atsar ini.

Yang disebutkan dalam Sunan Ibnu Majah ini secara teknis adalah atsar (perkataan atau perbuatan tabi'in), bukan sabda Nabi ﷺ secara langsung. Muhammad bin al-Munkadir (wafat sekitar 130 H) adalah seorang tabi'in terpercaya dari Madinah. Ia mengunjungi sahabat besar Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu — sahabat Nabi ﷺ yang banyak meriwayatkan hadits — di saat Jabir sedang dalam keadaan sekarat (menjelang wafat).

Kedua: Makna ucapan "Sampaikan salamku kepada Rasulullah ﷺ."

Ucapan ini menunjukkan keyakinan Ahlus Sunnah bahwa ruh orang beriman setelah berpisah dari jasad akan berjumpa dengan ruh para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh, sebagaimana isyarat QS. An-Nisa' [4]: 69. Ini bukan berarti meminta sesuatu yang terlarang, melainkan bentuk penghormatan dan keyakinan akan barzakh (alam antara dunia dan akhirat). Ibnul Qayyim dalam kitab Ar-Ruh menyebutkan bahwa ruh orang mukmin bertemu dengan ruh orang-orang mukmin yang telah wafat sebelumnya, dan para nabi memiliki kedudukan tertinggi.

Ketiga: Adab mengunjungi orang sakit.

Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar dan Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sunnah ketika menjenguk orang sakit adalah:

  1. Mendoakan kesembuhan dan kebaikan.
  2. Mengucapkan kalimat yang menenangkan, bukan yang membuat sedih.
  3. Mendoakan agar husnul khatimah bila ajal telah dekat.
  4. Menghindari ucapan yang membuat putus asa.

Hadits Ummu Salamah di atas menegaskan: ucapkanlah kebaikan, karena malaikat mengaminkan.

Keempat: Memuliakan sahabat Nabi ﷺ.

Tindakan Ibnu al-Munkadir mengunjungi Jabir di saat sekarat menunjukkan mahabbah (kecintaan) dan ta'dzim (penghormatan) kepada sahabat Nabi ﷺ. Ini sesuai dengan prinsip Ahlus Sunnah yang mencintai seluruh sahabat dan mengakui keutamaan mereka, sebagaimana disebutkan Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Barbahari dalam Syarhus Sunnah, dan Al-Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah.

Kelima: Tidak ada doa khusus yang ditetapkan dari hadits ini.

Perlu dicatat: hadits ini tidak menetapkan doa khusus untuk orang sakit. Ia hanya menggambarkan peristiwa. Doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ untuk orang sakit terdapat dalam hadits-hadits lain, seperti doa:

أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

"Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Rabb 'Arsy yang agung, agar menyembuhkanmu." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan al-Albani)

Story Telling

Dikisahkan bahwa Muhammad bin al-Munkadir — seorang tabi'in yang dikenal zuhud dan banyak meriwayatkan hadits dari Jabir bin Abdullah — datang menjenguk Jabir di akhir hayatnya. Jabir bin Abdullah adalah sahabat yang pernah menyaksikan Bai'at 'Aqabah, ikut dalam banyak peperangan bersama Nabi ﷺ, dan menjadi salah satu sumber utama hadits tentang manasik haji. Ketika Ibnu al-Munkadir masuk dan melihat Jabir dalam keadaan sekarat, ia tidak mengucapkan kata-kata yang membuat sedih, tetapi ia mengucapkan salam dan berpesan: "Sampaikan salamku kepada Rasulullah ﷺ."

Ucapan ini mengandung husnuzhan (prasangka baik) kepada Allah dan keyakinan bahwa Jabir akan segera berjumpa dengan Nabi ﷺ dan para sahabat yang telah mendahuluinya. Ini adalah bentuk penghiburan terindah bagi orang yang sedang menghadapi ajal: mengingatkan bahwa kematian bagi orang beriman adalah pintu menuju perjumpaan dengan kekasih-kekasih Allah.

Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah dan adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala' menyebutkan keutamaan Jabir bin Abdullah dan kedudukannya di antara sahabat. Kisah ini menjadi pelajaran bahwa salafus shalih saling mengingatkan tentang akhirat dan perjumpaan dengan orang-orang saleh, bukan tenggelam dalam kesedihan duniawi semata.

Kesimpulan Praktis

  1. Saat menjenguk orang sakit, ucapkanlah kebaikan dan doa, bukan keluhan atau kata-kata yang membuat sedih. Nabi ﷺ mengajarkan: ucapkanlah kebaikan karena malaikat mengaminkan.
  2. Yakini bahwa ruh orang beriman akan berjumpa dengan ruh para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang saleh, sebagaimana isyarat QS. An-Nisa' [4]: 69.
  3. Cintai dan muliakan para sahabat Nabi ﷺ, karena mereka adalah generasi terbaik yang menjadi perantara ilmu dan sunnah kepada kita.
  4. Hibur orang yang sedang sakaratul maut dengan kabar gembira tentang rahmat Allah dan perjumpaan dengan orang-orang saleh, bukan dengan keputusasaan.
  5. Gunakan doa-doa yang shahih dari Nabi ﷺ untuk orang sakit, seperti doa memohon kesembuhan dengan menyebut nama Allah dan Rabb 'Arsy yang agung.
  6. Jangan menganggap hadits ini sebagai penetapan doa khusus, karena ia adalah atsar (perkataan tabi'in), bukan sabda Nabi ﷺ secara langsung.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?