Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1445 tentang Perintah menuntun orang sekarat mengucapkan la ilaha illallah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini memerintahkan kita untuk menuntun (talqin) orang yang sedang menjelang wafat agar mengucapkan kalimat "Lā ilāha illallāh". Tujuannya bukan sekadar diucapkan di lisan, tetapi agar kalimat tauhid itu menjadi penutup hidupnya, karena siapa yang akhir ucapannya kalimat ini akan masuk surga. Talqin dilakukan dengan lembut, tidak dipaksa, dan tidak terus-menerus diulang bila orang tersebut sudah mengucapkannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil utama (hadits yang ditanyakan):

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

"Tuntunlah orang yang sedang menjelang wafat di antara kalian untuk mengucapkan: Lā ilāha illallāh."

(HR. Ibnu Majah no. 1445, Kitab Jenazah; juga diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah)

Ayat yang menjadi landasan tauhid dan husnul khatimah:

QS. Muhammad [47]: 19

> فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ

"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu."

QS. Al-Qashash [28]: 88

> وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

"Janganlah kamu menyembah tuhan lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya. Dialah yang berhak menetapkan hukum, dan kepada-Nya kamu dikembalikan."

Kaitan dengan ulama dalam daftar:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa talqin disunnahkan dan hendaknya tidak dipaksa berulang-ulang bila orang tersebut sudah mengucapkannya, agar tidak memberatkan di saat sulit.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa perintah "laqqinū" bermakna irsyād (mengarahkan), bukan ilzām (memaksa).
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lathā'if al-Ma'ārif menyebutkan hikmah talqin: agar kalimat tauhid menjadi penutup amal seorang hamba.
  • Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa kalimat tauhid adalah pokok agama dan sebab keselamatan.

Penjelasan Rinci

1. Makna "laqqinū mautākum".

Kata mautākum di sini bukan berarti orang yang sudah mati, tetapi orang yang sedang dalam proses kematian (al-muhtadhir). Ini sebagaimana dipahami para ulama, di antaranya Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar, karena orang yang sudah wafat tidak lagi bisa dituntun. Jadi perintah ini berlaku saat seseorang sedang sakaratul maut.

2. Hikmah talqin.

Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa saat sakaratul maut, setan berusaha sekuat mungkin menggoda manusia agar akhir hidupnya buruk (su'ul khatimah). Karena itu, kalimat tauhid dituntunkan agar menjadi penutup ucapan seseorang. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits lain yang shahih:

> مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

"Siapa yang akhir ucapannya adalah Lā ilāha illallāh, ia masuk surga."

(HR. Abu Dawud, dari Mu'adz bin Jabal; dinilai shahih oleh para ulama hadits)

3. Cara talqin yang benar menurut ulama daftar.

  • Imam an-Nawawi (Syarh Muslim): hendaknya diucapkan di dekat orang yang sedang sakarat, dengan suara yang didengar, tanpa memaksa dan tanpa mengulang terus-menerus bila ia sudah mengucapkannya. Jika ia sudah mengucapkan, cukup diingatkan sekali-sekali dengan lembut.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari): talqin bukan paksaan, tetapi bimbingan. Jika orang tersebut bicara hal lain, boleh diulang talqinnya dengan lembut agar kalimat tauhid kembali menjadi ucapan terakhirnya.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah (dalam Zād al-Ma'ād dan Ahkām Ahl adz-Dzimmah): menekankan pentingnya menghadirkan hati, bukan hanya lisan, karena yang dinilai di sisi Allah adalah keadaan hati saat itu.

4. Perbedaan pendapat di antara ulama daftar.

Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah menegaskan kesunnahan talqin secara umum. Imam asy-Syafi'i juga menyunnahkannya. Tidak ada perbedaan pokok di antara ulama daftar bahwa talqin adalah sunnah yang dianjurkan. Yang berbeda hanya pada cara dan kadar pengulangan, dan yang paling kuat adalah pendapat an-Nawawi dan Ibnu Hajar: lembut, tidak memaksa, dan tidak membebani.

5. Adab-adab di sisi orang yang sedang sakaratul maut.

Para ulama daftar, terutama Ibn Rajab dan an-Nawawi, menyebutkan beberapa adab:

  • Menghadapkan orang yang sakarat ke arah kiblat (menurut sebagian ulama, berdasarkan praktik salaf).
  • Mendoakan kebaikan di sisinya, bukan membicarakan hal buruk.
  • Membacakan talqin dengan suara lembut.
  • Tidak berbicara keras atau ramai di sisinya.
  • Mendoakan agar husnul khatimah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dan dikenal kedalaman ilmunya. Beliau menyampaikan hadits ini kepada para tabi'in, di antaranya Atha' bin Abi Rabah dan Mujahid bin Jabr, yang kemudian menyebarkannya kepada umat.

Dalam sebuah riwayat yang masyhur, ketika seseorang dari kalangan salaf sedang sakaratul maut, keluarganya menuntunnya mengucapkan Lā ilāha illallāh. Orang itu mengucapkannya, lalu keluarganya diam. Ketika ia hendak berbicara hal lain, salah seorang di antara mereka mengulang talqin dengan lembut, sehingga kalimat tauhid kembali menjadi ucapan terakhirnya. Para ulama menyebutkan bahwa inilah hikmah mengapa talqin tidak boleh dipaksa, tetapi diulang dengan lembut bila diperlukan.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang talqin, dan beliau menegaskan bahwa hal itu sunnah berdasarkan hadits Abu Sa'id ini. Beliau juga mengingatkan agar tidak menjadikan talqin sebagai beban, tetapi sebagai kasih sayang kepada saudara yang sedang menghadapi ujian besar.

Kesimpulan Praktis

  1. Talqin adalah sunnah yang dianjurkan bagi orang yang sedang sakaratul maut, berdasarkan hadits Abu Sa'id Al-Khudri ini.
  2. Ucapkan dengan lembut kalimat Lā ilāha illallāh di dekat orang yang sedang menjelang wafat, tanpa memaksa.
  3. Jangan mengulang terus-menerus bila ia sudah mengucapkannya, agar tidak memberatkan.
  4. Hadirkan hati, bukan hanya lisan, karena yang dinilai Allah adalah keadaan hati.
  5. Jaga adab di sisi orang yang sakarat: suara lembut, doa kebaikan, dan suasana tenang.
  6. Ingatlah bahwa kalimat tauhid adalah penutup yang paling mulia bagi seorang hamba, dan sebab masuk surga bagi yang mengucapkannya dengan ikhlas di akhir hayatnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?