Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah perintah dari Nabi ﷺ agar kita mendorong atau menuntun orang yang sedang menghadapi sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat tauhid, Lā ilāha illallāh. Tujuannya agar kalimat tersebut menjadi ucapan terakhirnya sebelum ruh meninggalkan jasad. Ini adalah bentuk kasih sayang dan perhatian besar Islam kepada seorang muslim di penghujung hayatnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:
Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan):
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الأَحْمَرُ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ "
Makna: "Doronglah/tuntunlah orang-orang yang akan mati di antara kalian untuk mengucapkan Lā ilāha illallāh."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz yang semakna. Ini menunjukkan bahwa hadits ini shahih dan kuat.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
QS. Al-Baqarah [2]: 256 (potongan ayat)
Terjemahan: "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat."
Ayat ini menunjukkan bahwa dalam Islam, dakwah dan nasihat dilakukan dengan cara yang lembut dan penuh hikmah, bukan dengan paksaan. Menalqin (menuntun) orang yang sakaratul maut adalah bagian dari nasihat yang lembut, bukan paksaan.
Penjelasan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "لَقِّنُوا" adalah ajarkan dan tuntunlah dengan lembut, bukan memaksa berulang-ulang hingga menyusahkan orang yang sedang sekarat. Beliau menukil kesepakatan ulama bahwa disunnahkan menalqin orang yang akan meninggal dengan kalimat tauhid, namun jika orang tersebut sudah mengucapkannya, maka kita diam dan tidak mengulanginya terus-menerus agar tidak memberatkannya.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perintah ini adalah perintah sunnah (anjuran), dan tujuannya adalah agar akhir perkataan seorang mukmin adalah kalimat tauhid, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain bahwa barang siapa yang akhir ucapannya "Lā ilāha illallāh" maka dia masuk surga.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah memahami hadits ini sebagai anjuran yang sangat ditekankan (sunnah mu'akkadah) bagi orang-orang yang hadir di sisi orang yang sedang menghadapi kematian. Berikut beberapa poin penting dalam memahami dan menerapkannya:
- Makna Talqin (Menuntun): Talqin di sini bukan berarti memaksa atau mengulang-ulang ucapan dengan keras. Akan tetapi, menuntun dengan suara yang lembut dan jelas, seperti berkata, "Ucapkanlah: Lā ilāha illallāh," atau mengucapkan kalimat tersebut di dekatnya dengan pelan agar dia mendengar dan menirukannya. Ini sebagaimana dipahami oleh Imam Asy-Syafi'i dan para ulama lainnya.
- Sikap Jika Sudah Mengucapkan: Jika orang yang sakit tersebut sudah mengucapkan kalimat tauhid, maka kita diperintahkan untuk diam dan tidak terus mengulanginya. Hal ini berdasarkan hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Talqinlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan Lā ilāha illallāh. Maka barangsiapa yang telah mengucapkannya, maka janganlah kalian mengulanginya lagi." Para ulama menjelaskan bahwa pengulangan setelah dia mengucapkannya bisa menjadi sebab was-was (keraguan) dan keberatan baginya di saat-saat sulit tersebut.
- Hikmah di Balik Perintah Ini: Tujuannya adalah agar kalimat tauhid menjadi kalimat terakhir yang diucapkan oleh seorang muslim. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa akhir hayat seseorang biasanya mencerminkan keadaannya selama hidup. Oleh karena itu, menuntunnya kepada kalimat tauhid di saat-saat terakhir adalah bentuk pertolongan agar dia meninggal di atas fitrah dan keyakinan yang benar.
- Adab Bagi yang Hadir: Orang yang hadir hendaknya bersikap tenang, tidak menangis histeris, dan tidak banyak berbicara yang tidak bermanfaat. Fokuskan perhatian untuk membantu orang yang sakit agar khusyuk mengingat Allah dan mengucapkan kalimat tauhid. Ini adalah bagian dari adab dan akhlak mulia yang diajarkan oleh para ulama salaf.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Said bin al-Musayyib — seorang ulama besar tabi'in yang sangat zuhud dan alim — menghadapi sakaratul mautnya, beliau dalam keadaan yang sangat khusyuk. Anaknya berkata kepadanya, "Wahai Ayah, engkau telah mengajarkan banyak hal kepada manusia, apakah ada yang ingin Ayah sampaikan?" Said bin al-Musayyib kemudian berkata, "Aku wasiatkan kepada kalian agar kalian menjaga shalat lima waktu, menjaga silaturahmi, dan menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah." Kemudian beliau terus berdzikir kepada Allah hingga akhirnya ruhnya dijemput oleh Allah dalam keadaan tenang.
Kisah ini menunjukkan bagaimana orang-orang shalih selalu menjaga akhir hayatnya dengan mengingat Allah, dan hal itu tidak terlepas dari pertolongan Allah serta doa dan talqin dari orang-orang di sekitarnya.
Kesimpulan Praktis
- Bagi yang Menjenguk/Mendampingi: Jika Anda berada di sisi orang yang sedang sakit parah atau menghadapi sakaratul maut, tuntunlah dengan lembut untuk mengucapkan "Lā ilāha illallāh". Ucapkan dengan suara yang jelas dan penuh kasih sayang.
- Jangan Memaksa: Jika dia sudah mengucapkannya, berhentilah dan jangan mengulanginya agar tidak memberatkan atau menimbulkan keraguan.
- Perbanyak Doa: Doakan kebaikan untuknya dan mohonkan kepada Allah agar dia diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
- Jaga Lisan dan Sikap: Hindari perkataan yang tidak bermanfaat atau ratapan yang berlebihan di dekatnya. Jadilah orang yang menenangkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.