Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1424 tentang Perbanyak sujud sebagai amalan penghapus dosa dan pengangkat derajat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi setiap muslim. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa setiap kali kita sujud kepada Allah dengan ikhlas, maka Allah langsung mencatat satu kebaikan, menghapus satu dosa, dan mengangkat satu derajat kita di sisi-Nya. Karena itu, beliau ﷺ menganjurkan kita untuk memperbanyak sujud, baik dalam shalat wajib, shalat sunnah, maupun sujud tilawah dan sujud syukur.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:

Teks hadits yang Anda sertakan adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ عُثْمَانَ الدِّمَشْقِيُّ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ يَزِيدَ الْمُرِّيِّ، عَنْ يُونُسَ بْنِ مَيْسَرَةَ بْنِ حَلْبَسٍ، عَنِ الصُّنَابِحِيِّ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ ـ ﷺ ـ يَقُولُ " مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً وَمَحَا عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَرَفَعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةً فَاسْتَكْثِرُوا مِنَ السُّجُودِ " .

Terjemahan: Dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada seorang hamba yang sujud kepada Allah dengan satu sujudan, melainkan Allah mencatat untuknya satu kebaikan, menghapus darinya satu keburukan, dan mengangkat untuknya satu derajat. Maka perbanyaklah sujud." (HR. Ibnu Majah no. 1424)

Catatan Penting: Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menilai hadits ini shahih dalam Shahih Ibnu Majah dan Silsilah ash-Shahihah (no. 530). Beliau menyebutkan bahwa hadits ini memiliki jalur penguat dari sahabat Ma'dan bin Abi Thalhah dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

"Sekali-kali jangan (demikian)! Janganlah kamu patuhi dia, dan sujudlah serta dekatkanlah dirimu kepada Allah." (QS. Al-'Alaq [96]: 19)

Ayat ini menunjukkan bahwa sujud adalah sarana terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semakin banyak sujud, semakin dekat seorang hamba kepada Rabbnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung tiga balasan besar bagi orang yang sujud karena Allah:

  1. Dicatat satu kebaikan (hasanah): Setiap sujud yang dilakukan dengan ikhlas akan dicatat sebagai amal kebaikan yang berpahala.
  2. Dihapus satu keburukan (sayyi'ah): Sujud tersebut menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil.
  3. Diangkat satu derajat: Kedudukan hamba tersebut dinaikkan di sisi Allah, baik di dunia (dalam bentuk kemuliaan hati dan ketenangan) maupun di akhirat (dalam bentuk tingkatan surga yang lebih tinggi).

Pandangan Ulama:

  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa sujud adalah keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya. Beliau mengutip hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa ketika itu." (HR. Muslim). Karena itu, sujud bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga momen spiritual terbaik untuk bermunajat.
  • Al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa sujud mengandung rahasia besar: yaitu merendahkan diri sepenuhnya di hadapan Allah. Semakin rendah kepala kita di hadapan Allah, semakin tinggi derajat kita di sisi-Nya. Ini adalah sunnatullah yang berlaku bagi orang-orang yang tawadhu'.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perintah "sujud dan mendekatlah" dalam QS. Al-'Alaq adalah bukti bahwa sujud adalah ibadah yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sujud yang dimaksud mencakup sujud dalam shalat, sujud tilawah, dan sujud syukur.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini adalah anjuran untuk memperbanyak sujud, baik dalam shalat wajib maupun shalat sunnah. Namun, beliau mengingatkan bahwa memperbanyak sujud di luar shalat (sujud mutlak) tidaklah disyariatkan secara khusus, kecuali sujud tilawah dan sujud syukur. Cara terbaik untuk memperbanyak sujud adalah dengan memperbanyak shalat sunnah, karena setiap rakaat mengandung dua sujud.

Perbedaan Pendapat yang Perlu Diketahui:

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum sujud syukur:

  • Mayoritas ulama (Imam Malik, Imam asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat) berpendapat bahwa sujud syukur disunnahkan ketika mendapatkan nikmat atau terhindar dari musibah.
  • Imam Abu Hanifah rahimahullah berpendapat bahwa sujud syukur tidak disunnahkan secara mutlak, karena tidak ada dalil yang tegas dari Nabi ﷺ. Namun, pendapat yang lebih kuat menurut jumhur ulama adalah disunnahkan, berdasarkan hadits Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ sujud syukur ketika mendengar kabar kemenangan pasukan Islam (HR. Abu Dawud dan al-Hakim).

Adapun sujud tilawah (sujud ketika membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah) hukumnya disunnahkan berdasarkan kesepakatan para ulama, dan inilah cara yang paling utama untuk memperbanyak sujud di luar shalat.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu 'anhu — yang juga meriwayatkan hadits ini — bahwa beliau adalah salah seorang sahabat yang ikut dalam Bai'atul 'Aqabah kedua. Beliau termasuk sahabat yang sangat tekun beribadah.

Para ulama menyebutkan bahwa Ubadah bin ash-Shamit dikenal sebagai sahabat yang sangat cinta kepada Al-Qur'an dan banyak menghabiskan waktunya untuk shalat. Beliau pernah berkata: "Tidaklah aku mendengar suatu hadits dari Rasulullah ﷺ yang mengandung kebaikan bagi umat ini, melainkan aku akan menyampaikannya kepada mereka, kecuali hadits tentang perkara-perkara yang berkaitan dengan penguasa." Ini menunjukkan kejujuran dan kehati-hatian beliau dalam menyampaikan ilmu.

Hikmah dari kisah ini: Para sahabat sangat antusias mendengar dan menghafal hadits-hadits tentang keutamaan amal. Mereka tidak menganggap remeh satu hadits pun, karena mereka tahu bahwa setiap sabda Nabi ﷺ adalah petunjuk yang membawa kebaikan. Kita pun seharusnya demikian — ketika mendengar hadits tentang keutamaan sujud, kita langsung bertekad untuk memperbanyak shalat sunnah dan sujud tilawah.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak shalat sunnah — karena setiap rakaat shalat mengandung dua sujud. Shalat rawatib, shalat dhuha, shalat tahajud, dan shalat-shalat sunnah lainnya adalah sarana terbaik untuk memperbanyak sujud.
  2. Lakukan sujud tilawah ketika membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah, karena ini adalah sunnah yang sering dilalaikan.
  3. Lakukan sujud syukur ketika mendapatkan nikmat besar atau terhindar dari musibah, berdasarkan pendapat jumhur ulama.
  4. Perbaiki kualitas sujud — sujudlah dengan khusyuk, tuma'ninah, dan perbanyak doa di dalamnya, karena saat sujud adalah momen terdekat seorang hamba dengan Rabbnya.
  5. Jadikan sujud sebagai sarana taubat — setiap kali kita merasa banyak dosa, perbanyaklah sujud dan shalat sunnah, karena sujud menghapus keburukan dan mengangkat derajat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?